Senin, 11 Oktober 2010

Hanya Sedekah yang Melindungi Kita dari Kutukan Surgawi

Sultan al-Awliya
Mawlana Shaykh Nazim al-Haqqani

26 August 2010 Lefke, Cyprus


Yaa Rabbii! Dastuur yaa Sayyidi, madad. (Mawlana Syekh berdiri)

Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, `Aziiz Allah
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhaan Allah
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Rabbuun Allah
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, `Aziiz Allah
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhaan Allah
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Sultaan Allah!

Allahuma shalli wa sallim ‘ibaadullah wa habiibika Sayyidina Muhammadan, Sayyidi 'l-Awwaliin wa ’l-`Akhiriin. Zidhu yaa Rabbii `izzan wa syarafa nuuran wa suruuran wa ridwaanan wa sulthana. Tsumma shalaatu as-salaamu ‘alaykum `ala jami`il anbiya wal-awliya khaasatan Qutb az-Zamaan, Imaam az-Zamaan, Saahib az-Zamaan, Mahdi `alayhi salaam. Allahuma yaa Allah … yaa Rabbi 'l-`Alamiin! (Mawlana Syekh duduk)

Wahai hadirin! As-salaamu `alaykum, As-salaamu ‘alaykum yaa 'ibaadAllah as-Shaalihiin. Tuuba, kabar gembira bagi mereka yang tergolong `ibaadAllah as-Shaalihiin, “Hamba-hamba Allah yang saleh.” Semoga Allah Jalla Jalaaluh mengaruniakan kita untuk bersama dengan hamba-hamba-Nya yang baik! Itu adalah permintaan terakhir kepada Allah (swt) yang patut kita minta kepada Tuhan kita, agar kita bersama dengan orang-orang yang baik. Target terakhir kita, dan target setiap orang seharusnya adalah untuk bersama dengan orang-orang yang baik. Wahai hadirin! Apakah kalian memikirkan hal itu atau tidak? Selama 24 jam, kita berlari, pergi, datang, bekerja, menghabiskan hidup kita yang berharga, hari dan jam yang berharga yang terus berlalu dan tidak pernah kembali.

Wahai hadirin! As-salaamu `alaykum. Apakah kalian berpikir bahkan sekali dalam 24 jam tentang menjadi orang yang baik? Ucapkan, a`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajim. setan adalah musuh yang paling mengerikan, yang tidak pernah meninggalkan kalian atau orang untuk berpikir sejenak tentang posisi mereka, bahkan selama satu menit, “Wahai diriku! Wahai `AbdAllah! Apakah kau memikirkannya, bahkan sekali dalam 24 jam, ‘Aku berusaha untuk menjadi orang yang baik’?”

Wahai ulama-ulama Salafi! Bagaimana pendapat kalian, apakah kalian setiap hari berpikir, bahkan selama satu menit, “Apakah aku seorang yang baik?” atau apakah kalian berpikir untuk menjadi orang-orang yang baik, atau apakah di Hadirat Ilahi, tertulis bagi kalian, "Wahai hamba-hamba-Ku yang baik!" Apakah kalian memikirkan hal ini, karena mereka menanyakan setiap orang. Kami ucapkan, Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim. (Mawlana Syekh beridiri) Wahai Tuhan kami! Itu adalah tanda penghambaan kita, berdiri dan mengucapkan, "Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim! Wahai Tuhan kita! Aku adalah milik-Mu, aku bekerja untuk-Mu, aku mengerahkan semua usahaku untuk mencapai rida-Mu!” Ketika kalian tengah sendiri, kalian boleh menanyakan hal ini, khususnya bagi hamba-hamba yang telah dianugerahi sebagai raja atau sultan, atau amiir, atau jalaalatu 'l-malik.

Wahai ulama-ulama Salafi kami! Apakah kalian mengingatkan orang, bahkan setiap minggunya? Sangat penting untuk mengingatkan orang setiap hari, untuk mengatakan, “Wahai umat Muslim! Apakah kalian berpikir untuk menjadi orang-orang yang baik? Itu adalah puncak tertinggi dari target baik kita, atau kita dapat mengatakan, target terbaik bagi setiap orang, “Aku harus menjadi hamba yang baik,” atau “Aku harus menjadi orang yang baik.” Bagaimana caranya agar kalian tahu bahwa kalian orang yang baik? Dengarlah apa yang orang lain katakan tentang diri kalian. Jangan katakan sendiri, “Aku adalah orang yang baik,” jangan. Apa yang orang katakan tentang kalian? Dengarkanlah, jika mereka mengatakan, "Jalaalatu, Paduka Yang Mulia adalah seorang raja yang baik. Jalaalatu 'l-malik, di antara yang lainnya, ia adalah yang terbaik. Ia bukan saja malik yang baik, tetapi ia adalah yang terbaik." Untuk alasan apa mereka mengatakan hal ini? Qul haatuu burhanakum, “ Katakan kepada mereka, ‘Bawa bukti-bukti kalian!’” bahwa orang bisa saja mengatakan Paduka Yang Mulia, atau Jalaalatu 'l-malik, adalah seorang yang baik. Berikan bukti kalian! Perbuatan baik apa yang ia lakukan? Allah (swt) mengaruniai mereka kesempatan besar, milyaran atau trilyunan koin atau uang, tetapi perbuatan baik apa yang mereka lakukan? Di mana sedekah mereka? Sedekah memperlihatkan bahwa seseorang adalah orang yang baik, karena sedekah adalah untuk orang-orang biasa.

Allah (swt) mengaruniai mereka suatu kesempatan dan mengaruniai mereka dengan tumpukan koin, mengaruniai mereka dengan jutaan atau milyaran uang kertas atau gedung-gedung tinggi. Untuk apa gedung-gedung tinggi tersebut? Wahai Syekh, katakan! Untuk berada dalam musaabaqah, kompetisi dengan yang lainnya.
أن تلد الأمة ربتها، وأنت ترى الحفاة العراة العالة رعاء الشاء يتطاولون في البنيان
Yatataawaluuna fi 'l-bunyaan, “akan membangun gedung-gedung tinggi.” Apakah kalian mengenal ahadiits?

Wahai ulama-ulama Salafi fa dzakkir, "Ingatkan mereka!" Katakan, umaraa dan muluuk! Itu adalah hadis suci dari Nabi Penutup (s), “Ketika Hari Akhir telah dekat, satu-satunya permintaan, talab utama dari orang-orang adalah ingin memiliki gedung-gedung tinggi.” Untuk apa mereka dibangun? Agar nama-nama mereka ditulis sebagai orang yang baik! Itu malah menjadi masalah bagi umat manusia! Untuk orang-orang kafir, barangkali normal untuk mengejar dunia, tetapi untuk mu'miniin itu tidak benar, untuk mengejar dunia, mereka harus berlari mengejar kesenangan dan mencapai rida Tuhan mereka. Itu adalah al-ghaayah, “tujuan utama.” Ghaayah berarti titik puncak yang ingin dicapai oleh seseorang. Tetapi target mereka adalah untuk menyenangkan dan memuaskan egonya. Tak seorang pun yang membangung gedung tinggi seperti menara Namrudz untuk Allah, mereka membangunnya untuk membuat ego mereka senang dan bangga dengan gedung-gedung tingginya.

Bagaimana kita katakan bahwa mereka adalah orang-orang yang baik dan mereka melakukan hal-hal yang baik? Jika mereka menulis bahwa gedung raksasa itu sebagai suatu perbuatan baik, (itu hanya bisa jika) segala sesuatu di dalam gedung tinggi itu ditujukan untuk umat, untuk umat Sayyidi 'l-aawwaliin wa ’l-aakhiriin. Jika mereka mengatakan, “Kami tidak mengambil keuntungan dari itu. Segala (keuntungan) yang berasal darinya kami gunakan sebagai waqaf, untuk umat Muhammad (s).” (Mawlana Syekh berdiri) Maka para malaikat akan memujinya, “Panjang umur dan kesejahteraan bagimu, wahai hamba Allah!" (Mawlana Syekh duduk)

Wahai ulama-ulama Salafi! Mengapa kalian tidak mengatakan hal semacam itu? Tinggalkan orang-orang besar dan orang-orang dengan pemahaman yang dangkal dan tinggalkan apa yang mereka lakukan. Jangan katakan, “Kalian melakukan bid`a, haraam, syirk!” Tinggalkan mereka, dan kejarlah raja, muluk dan amiir kalian untuk menginatkan mereka, mereka telah dikaruniai kesempatan tak terhingga dari Tuhan Surgawi untuk melakukan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya! Oleh sebab itu, wahai ulama-ulama Salafi, jangan takut (untuk mengatakan kebenaran) kepada mereka, tetapi takutlah dengan apa yang Allah katakan! (Mawlana Syekh berdiri)
وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ
Wa attaquunii, yaa 'ulii al-albaab.
Jadi takutlah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mengerti! (al Baqarah, 2:197)

(Mawlana Syekh duduk) Allah (swt) berfirman, “Ketakukanmu hanya untuk Keperkasaan-Ku.” Takutlah kepada-Nya, Yang Maha Perkasa!

Wahai ulama-ulama Salafi! Kalian tahu tentang berbagai kutukan yang menimpa manusia. Kalian mengetahuinya! Apa yang dapat melindungi kalian dari hujan kutukan ini? Katakan, apakah kalian tahu atau tidak? Hanya satu hal, satu hal yang dapat mencegah atau melindungi kalian dari hujan kutukan surgawi. Apa itu? Katakan! Apakah kalian tahu? Itu adalah hal yang sangat penting dan mereka bertanya kepadamu bagaimana berlindung dari kutukan surgawi di dunia dan akhirat. Hanya satu kata, tetapi kalian tidak mengingatnya. Ma`ruuf! Amar bi 'l-ma`ruuf, “perbuatan baik.” Hanya ini yang melindungi, tidak ada yang lain! Dengarkan apa yang mereka katakan kepada saya!

Wahai umat Kristen! Wahai umat Yahudi! Wahai umat Muslim! Di dunia dan akhirat, jika kalian meminta perlindungan, satu-satunya perlindungan atau perisai kalian hanyalah `amar bi 'l-ma`ruuf; perbuatan baik, ia akan menjauhkan kalian dari hukuman. Itu akan membuat kalian sebagai orang yang dapat merasakan dari nikmat surgawi yang tak terhingga yang sampai pada kalian. Tidak ada perlindungan lain kecuali perisai ini, yang melindungi hamba-hamba dari pembalasan surgawi! Amar bi 'l-ma`ruuf, katakan itu, wahai ulama! Katakan, wahai syekh Azhar asy-Syariif dan doktor Syariah! Katakan tentang hal ini, itu saja sudah cukup. Jika kalian mengatakan hal ini kepada seluruh bangsa, maka ia akan membuat hidup ini bagaikan surga, tetapi kalian tidak mengatakannya! Katakan, “Wahai manusia, berusahalah untuk melakukan kebajikan, ma’ruuf sebanyak-banyaknya, berikan sedekah, karena ini adalah bulan suci. Lakukanlah!”

Wahai orang-orang yang kaya dan berkuasa! Berikan lebih banyak dan lebih banyak lagi, dan cegah diri kalian dari pembalasan surgawi, karena suatu hari kalian akan menjadi sendiri di bawah tanah dan tidak ada pertolongan bagi kalian, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali melalui sedekah kalian! Oleh sebab itu kita mulai dengan mengucapkan, apakah kalian memikirkan setiap hari, “Apakah aku orang yang baik?” Jika ya, maka tanyakan diri kalian lagi, “Berikan bukti bahwa kalian adalah orang yang baik. Perbuatan baik apa yang kalian lakukan sehubungan dengan pengakuan kalian itu?” Barangkali kalian hanya meminta kesenangan ego kalian saja, tetapi tidak meminta kesenangan orang-orang biasa. Berapa banyak orang yang kalian buat senang hari ini? Mengapa kalian mengatakan, “Aku adalah orang yang baik,” dan kalian membuat tumpukan emas dan milyaran uang kertas. Untuk apa? Untuk menyimpannya. Dan pada Hari Kebangkitan, berapa banyak orang yang menentang kalian dengan mengatakan, “Orang ini mengumpulkan dan menyimpan hanya untuk dirinya sendiri, dan tidak menggunakannya untuk orang lain, atau bahkan untuk dirinya sendiri! Wahai Tuhan kami! Berikanlah pembalasan kami untuknya!” Dan koin-koin itu, sebagaimana disebutkan dalam ahadiits yang suci, akan menjadi koin api pada tubuh mereka!

Allah! Yaa Rabbii! Tawbah yaa Rabbii! Tawbah, astaghfirullah! Tawbah yaa Rabbii, tawbah yaa Rabbii, tawbah yaa Rabbii! Wahai Tuhan kami! Kau memerintahkan, tetapi kami tidak mendengarnya. Begitu banyak kesempatan datang di hadapan kami dan kami kehilangannya.

Wahai para hadirin! Dari orang-orang biasa dan dari orang-orang level tinggi, semoga Allah mengampuni kita demi kemuliaan Nabi Penutup, Sayyidina Muhammad (s)! (Mawlana Syekh berdiri dan duduk)

Fatihah.

(38 menit)

(Mawlana Syekh bicara dengan Syekh Hisyam Effendi dan Hajah Naziha di telepon)

(Mawlana Syekh melakukan Salat Syukur 2 rakaat.)
Gula-Gula merupakan Tradisi setelah Khatm
Mawlana syekh Hisham Kabbani
30 September 2010 Fenton Zawiya, Michigan


A`uudzu Billahi min asy-Syaythaani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim.
Nawaytu 'l-arba`iin, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-`uzlah,
nawaytu 'r-riyaadhah, nawaytu 's-suluuk, lillahi ta`ala fii haadza 'l-masjid.

Athi`ullaha wa athi`u 'r-Rasuula wa uuli 'l-amri minkum.
Patuhi Allah, patuhi Nabi (s), dan patuhi orang-orang yang mempunyai otoritas atas kalian (4:59)

Allah (swt) berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
la'in syakartum la-aziidanakum.
Jika kalian bersyukur (kepada Allah atas nikmat-Nya), Aku akan menambahkan bagimu. (Ibrahim 14:7)

Ini adalah sunah yang diperlukan setelah khatm. Sunah yang merupakan tradisi Naqsybandi dari Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r) hingga ke Mawlana Syekh yaitu bahwa setiap selesai melaksanakan dzikrullah--karena pada saat itu belum ada permen atau kue atau biskuit--mereka memberikan madu, karena itu adalah muqaya, perdagangan antara ego dengan perintah surgawi. Jika kalian tidak memberikan sesuatu kepada ego kalian, ia akan melompati kalian; ia tidak akan membiarkan kalian melakukan apa yang kalian inginkan. Contoh terbaik ada di dalam kitab suci al-Qur'an dan hadis Nabi (s). Allah (swt) telah melukiskan hal ini karena Dia tahu bahwa kita adalah lemah, bahwa manusia adalah tidak berdaya, lalai dan lemah. Allah (swt) menggambarkan kepada Nabi-Nya (s) bahwa Dia akan memberikan kepada siapapun yang mengikuti Jalan-Nya, jalannya Nabi (s), dan jalan yang sesuai dengan agama, "Aku akan memberinya pahala dan Aku akan menganugerahinya surga."

Ada begitu banyak gambaran tentang Surga di dalam Surat al-Dzahr/al-Insaan:

A`uudzu Billahi min asy-Syaythaani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim.
wa yatuufu `alayhim wildaanun mukhalladuuna 'idzaa ra'aytahum hasibtahum lu'ulu'uaan mantsuuraan wa 'idzaa ra'ayta tsamma ra'ayta na`iimaan wa mulkaan kabiiraa.
Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda.. Jika kamu melihat mereka, kamu akan berpikir bahwa mereka adalah mutiara yang bertaburan. Dan apabila kalian melihat di sana (di Surga), kalian akan melihat berbagai macam kenikmatan (yang tidak dapat dibayangkan), dan kerajaan yang besar. (Al-Insaan, 76:19,20)

Itu adalah satu ayat, tetapi ada banyak surat yang mengatakan bahwa akan ada banyak sekali pemuda dalam kehidupan surgawi yang melakukan segala hal untuk orang-orang yang beriman kepada Allah (swt). Allah (swt) akan menganugerahi mereka dengan surga yang penuh dengan anggur, madu dan susu. Dia akan memberikan tamsil (kemiripan) dengan apa yang dapat dipahami oleh manusia; selain itu mereka tidak bisa mengerti. Dia memberi agar ego manusia yang besar menjadi senang. Ketika ego mengetahui bahwa ia akan diberikan ini semua, orang itu akan memberikan hidupnya untuk Allah (swt), untuk Nabi (s), dan untuk agama. Ia akan melakukan yang terbaik untuk ummat an-Nabi dalam menjaga jalan tengah yang moderat.

Secara tradisi, madu dan gula-gula sangat jarang pada saat itu, sehingga mereka membagikannya kepada orang-orang, terutama di negeri-negeri yang dingin dan juga negeri-negeri yang panas. Kini, kalian bisa pergi ke negeri-negeri di selatan Jazirah Arab, seperti Yaman, dan satu kilo madu berharga 5.000 dolar. Itu adalah madu yang jenisnya istimewa, sangat jarang. Mereka biasanya memberikan sesendok madu ke setiap orang yang datang ke majelis zikir. Jadi manis-- karena kalian berada dalam situasi yang manis, maka kalian menjadi manis. Kita melukiskan tentang kemanisan baru-baru ini di Washington dan New York, berkata agar (orang-orang) tidak menunjukkan kemasaman. Jika kalian masam, orang-orang lari dari kalian. Orang senang dengan manis, jadi berlakulah dengan manis dan senyum terhadap saudara kalian. Sebagian orang bahkan tidak mempunyai senyum. Kalian lihat orang yang tidak mempunyai uang dan mereka mengundangnnya untuk makan malam, ketika tersedia nasi, ikan dan ayam, kalian lihat senyumnya melebar hingga ke telinganya, karena biasanya ia tidak memakan makanan seperti itu, karena ia miskin. Dengan kekasaran kita, kita tidak tersenyum terhadap apa pun! Tetapi kita lapar terhadap ampunan Allah, jadi marilah kita menjadi orang yang manis. Senyum di hadapan saudara seiman kalian berasal dari iman, dan ada sebuah hadis (Mawlana menunjuk ke sebuah botol berisi air). Air itu manis, jadi jadilah seperti air.
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
Wa ja`lana min al-maai kulli syay'in hay.
Dan dari air, Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. (al-Anbiya, 21:30)

Jangan menjadi mati, gelap, selalu penuh dengan kegelapan, selalu mengeluh dan mengisi hidup kalian dengan keluhan. Setan berasal dari kegelapan, jadi jika kalian sering mengeluh, maka ketahuilah bahwa kalian mengikuti Setan. Kalian lihat Mawlana Syekh hari ini, ketika beliau berdiri!
إن رحمتي سبقت غضبي
Sabaqat rahmatii `ala ghadabii.
Rahmat-Ku mendahului Kemurkaan-Ku.

Kemudian beliau berdoa memohon ampun dan mulai menangis. Sultan, mengapa beliau menangis? Seluruh hidupnya, beliau dan keluarganya tidak mempunyai privasi. Beliau tidak pernah tahu beliau sendiri, karena selalu saja satu orang pergi dan satu orang datang. Mereka tidak datang secara sekaligus untuk bertemu Mawlana, tetapi satu per satu. Itu adalah ujian bagi awliya. Mereka juga datang seperti itu kepada Nabi (s) dan Allah (swt) melarangnya dengan mengatakan, "Cukup, itu sudah cukup!" Nabi (s) tidak bisa mempunyai privasi dengan keluarganya, jadi awliyaullah juga tidak bisa. Dan Mawlana Syekh menangis. Sepanjang tahun beliau memberikan nasihat, pelajaran dan ceramah, tetapi tetap saja kita belum meningkat hingga mencapai standard atau level yang beliau inginkan; kita tetap mengikuti Setan sepanjang waktu!

Waktu terbesar di mana Setan bermain dengan kalian adalah ketika ia membuat kalian terlalu banyak tidur. Jangan tidur terlalu banyak! Beberapa orang tidur hingga 16 jam. Mereka bangun untuk makan dan kemudian, y'Allah, tidur lagi. Mawlana Syekh menangis untuk kita! Tajali rahmat itu menguasai beliau, sabaqat rahmatii `ala ghadabii. Beliau menarik tajali Rahmat Allah dan beliau menghiasi setiap orang yang menyaksikan, dan yang tidak menyaksikan beliau pagi ini (waktu kita, waktu mereka adalah sore hari). Setiap orang yang menyaksikannya sekarang, atau nanti, atau tidak menyaksikan tetapi hanya mengambil bayat, akan berada di bawah khitab itu, "Rahmat-Ku mendahului Kemurkaan-Ku." ketika rahmat itu datang, setiap orang akan masuk Surga! Beliau tidak senang dengan sesuatu yang terjadi yang membuat penyampaian nasihatnya menjadi terpotong. Beliau tidak senang, karena beliau ingin agar pesannya sampai kepada setiap orang.

Alhamdulillah, kita berharap bahwa Allah (swt) akan memberi Mawlana usia yang panjang untuk dapat memberikan pesannya setiap saat dalam hidup kita! Beliau adalah jalan kita menuju keselamatan, beliau membawa kita menuju hadirat Nabi (s) dan menuju keselamatan Ilahi dan kepada hadirat awliya. Semoga Allah memberkati Syekh kita dan membuat kita terus berada dalam hadiratnya!

Wa min Allahi 't-tawfiiq, bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.

Pilih: Kerendahan Hati atau Arogansi?

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
10 September 2010 Burton, Michigan
Jumu`ah Khutbah at As-Siddiq Mosque


Wahai Muslim! Wahai Mukmin!

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا
Laa yukallifullahu nafsan illa wusa`aha,
Allah (swt) tidak memberikan beban kepada seseorang melebihi apa yang dapat ia tanggung. (al-Baqarah 2:286)

Dan Nabi (s) bersabda,
كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته
kullukum ra`in wa kullukum mas'uulun `an ra`iyyatih
Kalian semua adalah gembala dan kalian bertanggung jawab terhadap hewan ternak kalian.

Itu artinya sebagai ayah dan ibu dari sebuah rumah, kalian bertanggung jawab terhadap seluruh isi rumah. Ada rumah, ada masjid, ada masyarakat, ada negeri, dan setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk menggembalakan apa yang telah ditetapkan oleh Allah (swt) bagi mereka. Kalian harus berusaha sebaik mungkin untuk menekan fitnah sekecil-kecilnya. Di mana pun terjadi fitnah, menghindarinya adalah yang terbaik. Jangan membakar tangan kalian, sebagaimana Nabi (s) bersabda mengenai Tanda-Tanda Hari Kiamat:

ستكون فتن كقطع الليل المظلم
Satakunuu fitanan kaqita`ti 'l-layli 'l-muzhlim
Akan terjadi kekacauan seperti potongan malam yang gelap.

Ini artinya akan terjadi fitnah di mana-mana.

Dalam hadis yang lain:

ستكون فتن القاعد فيها خير من القائم والقائم فيها خير من الماشي والماشي فيها خير من الساعي ومن يشرف لها تستشرفه
Al-qa`idu khayrun fiihi min al-qaa'im, wa 'l-qaa'imu fiihaa khayrun min as-saa`ii wa man yusyarrif lahaa tasyarrafahu.
Siapa yang duduk di dalam rumah lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri di sana lebih baik daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan di sana lebih baik daripada orang yang berlari, dan siapa yang mengindahkannya, ia akan menjadi terhormat.

Orang itu berdiri dan menonton. Mengapa kalian ingin menontonnya dan membebani kalian sendiri, berpikir tentang apa yang kalian saksikan? Melihat melalui jendela, ini artinya segala sesuatu yang kalian lihat, termasuk pada TV dan internet. Mengapa kalian ingin melibatkan diri kalian dengan segala sesuatu yang bukan urusan kalian, melainkan hanya akan mendatangkan kegelapan ke dalam kalbu kalian? Wa 'l-qa`idu fiihaa khayrun min al-maasyii, "Dan orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan (ke arah fitnah itu)." Sekarang kalian bisa berjalan dengan mudah, dengan telepon, dengan internet, dengan pesan tertulis. Jadi kalian tidak perlu untuk menjadi bagian dari itu, biarkan mereka membakar jari mereka dengan apa yang mereka lakukan, dan kita akan duduk di belakang, melihat diri kita sendiri dari belakang. Tidak perlu untuk menyaksikan mereka.

Semoga Allah (swt) menjaga kita terhindar dari fitnah, karena ini adalah fitnah dari Hari Kiamat, fitnah dari arogansi atau kesombongan dan siapa yang akan lebih kuat daripada yang lain. Ini adalah tanda dari jabbaaruun, diktator, tiran. Para tiran, mereka keras kepala dan kukuh dengan pendirian mereka.

‏ ‏تحاجت ‏ ‏الجنة والنار فقالت النار ‏ ‏أوثرت ‏ ‏بالمتكبرين ‏ ‏والمتجبرين ‏ ‏وقالت الجنة ما لي لا يدخلني إلا ضعفاء الناس ‏ ‏وسقطهم ‏ ‏قال الله تبارك وتعالى للجنة أنت رحمتي أرحم بك من أشاء من عبادي وقال للنار إنما أنت عذابي أعذب بك من أشاء من عبادي ولكل واحدة منهما ملؤها فأما النار فلا تمتلئ حتى يضع رجله فتقول قط قط فهنالك تمتلئ ‏ ‏ويزوى ‏ ‏بعضها إلى بعض ولا يظلم الله عز وجل من خلقه أحدا وأما الجنة فإن الله عز وجل ‏ ‏ينشئ ‏ ‏لها خلقا

Nabi (s) bersabda, "Surga dan Neraka saling berbicara, dan Neraka berkata, 'Aku telah diberi hak untuk menerima orang-orang yang sombong dan juga para tiran.' Surga berkata, 'Ada apa denganku? Mengapa hanya orang-orang yang lemah dan rendah hati di antara manusia yang memasukiku?' Mengenai hal itu Allah (swt) berkata kepada Surga, 'Engkau adalah Rahmat-Ku yang Aku berikan kepada hamba-hamba yang Aku kehendaki.' Lalu Allah (swt) berkata kepada Neraka, 'Engkau adalah (alat untuk) menghukum di mana Aku memberi hukuman kepada budak-budak yang Aku kehendaki. Dan masing-masing dari kalian akan mendapatkan penghuninya.' Sementara bagi Neraka, ia tidak akan diisi sampai Allah (swt) meletakkan Kaki-Nya di atasnya kemudian Neraka akan berkata, 'Cukup! Cukup! Pada saat itu ia akan diisi, dan bagian-bagian lainnya akan datang lebih dekat satu sama lain, dan Allah (swt) tidak akan salah terhadap ciptaan-Nya. Dan mengenai Surga, Allah (swt) akan menciptakan makhluk baru untuk mengisinya." (Bukhari)

Diriwayatkan oleh Abi Sayyid al-Khudri (r), dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi (s) bersabda, "Surga dan Neraka mengeluh di Hadirat Allah karena mereka ingin agar manusia menjadi penghuni mereka. Surga ingin agar manusia menghuni Surga, sementara Neraka ingin agar manusia menjadi penghuni Neraka."

Jadi, jika kalian menginginkan Surga, maka ikuti hadis ini, dan jika kalian ingin Neraka, ikuti tanda-tanda yang disebutkan dalam hadis ini!

Allah (swt) bertanya kepada Neraka, "Mengapa kalian mengeluh, apa yang kalian inginkan?" faqaalat an-naar awritstu al-mutakabiruun, "Neraka berkata, 'Kami menginginkan penghuni kami.'" Allah (swt) berkata, "Baiklah, ambil para tiran, orang-orang yang keras kepala, dan orang-orang yang arogan yang tidak bisa berpindah dari posisi mereka.'"

Seseorang berkata, "Aku adalah Namrud," dan yang lain berkata, "Tidak, akulah Namrud!" Namrud adalah orang yang membakar Sayyidina Ibrahim (a), ia adalah seorang tiran yang arogan!

(Melanjutkan hadis) Jadi Neraka berkata, "Yaa Rabbii! Berikan aku seseorang untuk mengisi Api Nerakaku!" Allah berkata, "Baiklah, ambil para tiran, orang-orang yang arogan."

Wahai Mukmin! Jangan sampai kita menjadi tiran, orang yang arogan! Jangan bersikukuh dengan pendapat kalian, jadilah orang yang mudah, biarkan saja!

Surga berkata, "Ya Allah! Berikan aku milikku."
Allah bertanya, "Apa yang kau inginkan?"
"Yaa Rabbii! Berikan aku dhu`afa an-naas, orang-orang yang lemah (orang-orang yang rendah hati)."

Surga tidak menginginkan orang-orang yang arogan; Surga hanya menginginkan orang-orang yang rendah hati. Dapatkah dua orang berendah hati satu sama lain? Cek diri kalian. Jika seseorang membuat kalian marah, dapatkan kalian dengan rendah hati berkata, "Maafkan aku, Allah membuatmu mengatakan hal yang benar tentang diriku, aku arogan. Maafkan aku." atau kalian bertengkar dengannya? Kalian tidak suka bila seseorang mengatakan sesuatu untuk memperbaiki kalian dan kalian berkata, "Jangan ikut campur," karena kalian tidak bisa menerima nasihatnya. Jadi bagi mereka yang tidak rendah hati, Api Neraka menanti mereka, dan bagi mereka yang rendah hati, Surga menanti mereka.

Surga berkata, "Ya Allah! Berikan aku orang yang rendah hati dan darwis, orang yang sederhana."

Allah (swt) memutuskan antara mereka berdua, dan Nabi (s) bersabda bahwa Allah (swt) berfirman, "Engkau adalah Surga-Ku dan Aku akan mengirimkan Rahmat-Ku melaluimu untuk orang-orang yang Ku-kehendaki. Aku akan memberimu penghuni yang Ku-kehendaki untuk menghunimu. Dan Engkau adalah Neraka-Ku, di mana Aku akan menghukum orang-orang yang tidak Ku-sukai."

Itu artinya orang-orang yang arogan dan keras kepala akan menghuni Neraka; dan mereka yang sederhana dan rendah hati akan menjadi penghuni Surga. Pilihannya ada pada kalian! Jadilah orang yang sederhana, jadilah orang yang rendah hati, dan Allah (swt) akan mengampuni dosa-dosa kalian. Kita semua melakukan dosa; jangan mengatakan, "Tidak, aku tidak berdosa."

Anak-anak muda yang belum mencapai akil balig tidak mempunyai dosa, dan ibadah mereka dituliskan untuk orang tuanya. Jika kalian membesarkan seorang anak dalam Islam, itu akan dituliskan bagi orang tuanya. Tetapi ketika kalian beranjak dewasa, tanggung jawabnya menjadi milik kalian.

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
faman ya`mal mitsqaala dzarratin khayraan yarahu wa man ya`mal mitsqaala dzarratin syarraan yarah.
Barang siapa yang melakukan perbuatan baik bahkan seberat atom (zarah) maka ia akan mendapatkan balasannya, dan barang siapa yang melakukan kejahatan walaupun seberat atom (atau sebesar semut), ia juga akan mendapatkan balasannya. (al-Zalzalah, 99:7,8)

Allah Maha Pemurah terhadap kalian jika kalian rendah hati, tetapi Dia akan menghukum kalian, jika kalian bersikap seperti tiran, jadi pilihlah apa yang kalian inginkan. Bahkan jika seseorang datang dan berteriak di hadapan kalian, apa yang harus kalian katakan kepadanya? “Semoga Allah (swt) mengampunimu dan mengampuniku, wahai saudaraku.” Kalian harus memaafkan. Jadi jangan harapkan pahala dari manusia. Dengan apa mereka akan memberi balasan untuk kalian, dengan jam tangan, cincin? Tetapi jika kalian sabar dan rendah hati, Allah (swt) akan memberi pahala untuk kalian. Jangan biarkan itu masuk lewat telinga yang satu lalu keluar lewat telinga yang lain. Biarkan itu masuk lewat telinga kalian dan berhenti di sana, di dalam telinga bagian dalam kalian. Kadang-kadang telinga bagian dalam mempunyai infeksi yang berair dan kalian harus pergi ke dokter, “Oh, aku mempunyai sejenis penyakit.” Lalu dokter akan memasukkan sebuah tabung untuk mengeringkannya. Dalam spiritualitas hal itu berlaku sebaliknya, jangan dikeringkan, ambil nasihatnya, letakkan di dalam telinga bagian dalam kalian dan biarkan tinggal di sana, itu akan mengingatkan kalian suatu hari nanti, bahwa Allah (swt) menyelamatkan kalian karena kesederhanaan dan kerendahan hati kalian.

Nabi (s) bersabda, “Di Hari Kiamat, pria, ar-rajul, yang gemuk, samiin, yang berada di Hadirat Allah (swt) dengan segala kegemukan mereka dan tubuh yang besar, seberat kira-kira 1.000 ton, mereka tidak mempunyai berat bahkan seberat sayap nyamuk.”

Apakah artinya itu? Itu artinya barang siapa yang di dunia mengejar kekayaan, menjadi tiran, melakukan dosa, bersikap arogan, siapa pun yang merupakan tokoh berpengaruh di dunia. Mungkin orang-orang datang kepada mereka untuk urusan bisnis. Itu artinya mereka yang melakukan usahanya di dunia, berpikir bahwa mereka membuatnya untuk mereka sendiri tanpa Allah, mereka akan menjadi orang-orang yang gemuk. Setan memompa mereka dengan helium sehingga membuat mereka melayang, mereka pikir bahwa mereka terangkat, mereka berpikir bahwa setiap orang harus menjadi budak mereka, mereka pikir bahwa mereka adalah yang terdekat (dengan Allah), tetapi mereka adalah yang terjauh! Mereka datang ke Hari Kiamat dengan berpikir bahwa mereka akan berada pada garis pertama, tetapi bagi Allah (swt), semua ibadah mereka tidak mencapai seberat sayap seekor nyamuk, karena mereka arogan dan tiran!

Wahai Muslim! Kita tidak bisa menjadi orang yang arogan dan tiran, atau Allah (swt) akan melempar amal kalian ke dalam kotak sampah! Amal apapun yang kalian lakukan, kalian harus menjadi orang yang rendah hati agar itu bisa menyelamatkan kalian di Hari Kiamat! Tetapi bila kalian melakukannya untuk pamer (agar terlihat), itu adalah syirik karena kalian meletakkan diri kalian bersama Allah (swt)!

Nabi (s) bersabda, dan Abu Hurayrah (r) melaporkan:

رب اشعث اغبر لو اقسم على الله لأبره
rubba asy`ats aghbara law aqsama `ala allahi la-abbarah.
Barangkali ada seseorang yang kumal, orang yang lusuh, tetapi bila ia bersumpah menyebut nama Allah, Allah akan memenuhinya. (Muslim)

Kadang-kadang ada orang yang datang dan salat, menjadi bagian dari masyarakat, tetapi orang melihatnya dengan pandangan yang buruk karena ia tidak mempunyai pakaian yang bagus, atau karena ia kotor. Orang ingin menyingkirkannya, madfu`an bi 'l-abwaab, mereka tidak senang untuk bertemu dengannya di depan, mereka ingin agar ia duduk di pintu dengan rambuatnya yang berminyak, pakaian yang kotor, dengan bau yang menyengat. “Ia begitu bau!” Oh, Saya banyak mendengar hal ini, apa yang kalian cium, ego kalian? Jika Allah (swt) melepas bau yang menyengat dari ego kalian, seluruh dunia akan jatuh pingsan karenanya! Jadi orang itu yang di mata kalian, bau dan kotor, mengenakan pakaian yang lusuh, jika ia meminta sesuatu kepada Allah (swt), Allah (swt) akan menjawabnya segera karena Allah (swt) melihat apa yang ada di dalamnya. rubba asy`ats aghbara law aqsama `ala allahi la-abbarah. Orang-orang mendorongnya keluar dan berkata, “Oh kau, pindahlah!” Lalu ia berpindah, tetapi bila ia meminta kepada Allah (swt) dengan satu doa, Allah (swt) akan menghilangkan bebannya dan mengabulkan doanya.

Itulah sebabnya jika kadang-kdang kalian melihat pengemis di jalanan, jangan memandangnya dengan pandangan yang merendahkan, mungkin saja mereka itu adalah wali, atau seorang yang beriman, dan mungkin Allah (swt) sedang menguji kalian. Bawalah uang receh dalam kantong kalian, jika ada yang memintanya; maka itu bukanlah uang kalian; itu adalah uang Allah! Jangan katakan, “Pergi, aku tidak menginginkanmu!” Kadang-kadang mereka datang untuk mencuci mobil kalian, bahkan jika kalian baru saja mencucinya, biarkan mereka mengotorinya, dan Allah (swt) akan mengampuni kalian. Seseorang bisa masuk ke dalam masjid dan ia bau, tidak mengapa, itu lebih baik daripada bau Api Neraka!

Saya akan mengakhirinya dengan sebuah hadis:
عن سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه أنه قال : " مرّ رجل على رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فقال لرجل عنده جالس : ( ما رأيك في هذا ؟) ، فقال: رجلٌ من أشراف الناس، هذا والله حريٌّ إن خطب أن يُنكح، وإن شفع أن يُشفّع، فسكت رسول الله - صلى الله عليه وسلم -، ثم مرّ رجل فقال له رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : (ما رأيك في هذا ؟) ، فقال: يا رسول الله، هذا رجل من فقراء المسلمين، هذا حريُّ إن خطب أن لا ينكح، وإن شفع أن لا يشفّع، وإن قال أن لا يسمع لقوله، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ( هذا خير من ملء الأرض مثل هذا) "، رواه البخاري


Ibn `Abbas (r) meriwayatkan, “Suatu ketika Nabi (s) sedang duduk bersama seorang (Sahabat) di mana seorang pria lewat (di hadapannya), lalu Nabi (s) bertanya kepada orang yang duduk bersamanya (seorang Sahaabi), 'Menurutmu bagaimana orang yang baru saja lewat tadi?' (Yang ditanya menjawab), 'Ia adalah salah satu orang terpandang di masyarakat. Allah (swt) adalah saksiku, jika orang itu meminta seseorang untuk menikahi putrinya, orang-orang akan segera menerimanya! Dan jika orang memintanya untuk menjadi penengah untuk mengatasi masalah-masalah mereka, maka orang akan menerima arbitrasinya dan masalah itu akan dapat diselesaikan.’ Nabi (s) tidak mengatakan apa-apa. Lalu seseorang yang lainnya lewat dan Nabi (s) bertanya, ‘Bagaimana pendapatmu dengan orang itu?’ Dan sahabi itu menjawab, ‘Yaa Rasuulullah, haadza rajulun min fuqaraa al-muslimiin, ini adalah orang yang berasal dari kalangan fakir miskin dalam masyarakat Muslim, (artinya ia tidak mempunyai apa-apa, orang memberinya sedekah untuknya.) Jika ia meminta orang untuk menikahi putrinya, mereka akan mengusirnya, dan berkata, ‘Betapa beraninya kau!’..”

Tidakkah kalian mendengar banyak hal seperti itu, jika sesorang yang miskin datang untuk meminta menikahi putri orang kaya atau orang terpandang di masyarakat, mereka menolaknya dengan mengatakan, “Betapa beraninya kau meminta untuk menikahi putriku?”

(Melanjutkan hadis) " ...'Dan jika ia meminta seseorang untuk menjadi perantara baginya jika ia mempunyai amsalah, mereka tidak mau melakukannya karena ia bukanlah apa-apa di masyarakat. Jika ia mengatakan sesuatu, orang tidak akan mendengarnya, karena di mata mereka ia bukanlah apa-apa.’ Dan Nabi (s) berkata, ‘Bahkan jika seluruh bumi ini penuh dengan orang-orang seperti orang pertama (yang kaya), orang miskin itu lebih baik bagi Allah! Jika ia meminta, doanya tidak akan ditolak!'" (akhir dari hadis suci, Bukhari)

Jadi, itulah yang Nabi (s) katakan, jadilah orang yang sederhana, rendah hati, jadilah seorang darwis, jangan menjadi orang yang arogan seperti merak, jangan menjadi jabbaar, mutakabbir, orang-orang yang sangat berkuasa. Jangan memandang rendah seseorang seolah-olah mereka adalah budak-budak kalian, sebagaimana yang kini terjadi di mana-mana.

Semoga Allah (swt) mengampuni dosa-dosa kita! Dosa apapun yang kalian miliki, istighfar membuat dosa kalian hilang, tetapi bila kalian tidak ingat bahwa kalian harus menyingkirkan kemarahan dan tirani dari diri kalian, kalian akan diputuskan sebagai tiran pada Hari Perhitungan! Jadilah orang yang rendah hati. Nabi (s) adalah orang yang paling rendah hati! Allah (swt) mengangkatnya hingga qaba qawsayni aw adna (jarak antara dua busur atau yang lebih dekat lagi). Ibliis adalah yang paling arogan, dan Allah (swt) mengutuknya ke Neraka terendah. Jadi itu adalah pilihan kalian: apakah kalian ingin menjadi rendah hati, atau arogan? Semoga Allah (swt) menjadikan kita orang yang rendah hati!

Pentingnya Disiplin dalam Tarekat, Bagian 1

Mawlana Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
16 September, 2010 | Fenton Zawiya


Apapun yang ingin kalian pilih, pilihlah. Jika kalian tidak ingin memilih salah satu dari tarekat ini, dan kalian hanya ingin mengatakan, “Aku mengikuti keempat mazhab, Imam Malik, Imam Syafi’ii, Imam Abu Hanifa, Imam Ahmad," itu tidak masalah. Jika kalian ingin mengatakan, “Aku tidak ingin mengikuti seseorang, aku ingin mengikuti jalanku sendiri.” Itu juga ok.

TETAPI, jalur apapun yang kalian pilih, pasti ada disiplinnya. Kalian tidak dapat mengikuti suatu jalur tanpa disiplin.

Seperti mengendarai mobil, apakah tidak ada disiplin dalam mengendarai mobil? Dapatkah kalian melihat ke kanan atau ke kiri? Bisa, tetapi kalian harus melihatnya ke dalam spion. Spion itu akan memberi tahu kalian apa yang harus kalian lakukan dengan sisi kanan dan kiri kalian dan (terutama) kalian harus melihat ke depan. Jadi dalam menyetir pun ada disiplinnya.

Di masa lalu, mereka tidak mempunyai spion di kiri dan kanan. Jadi ke mana kalian melihatnya? Kalian melihat siapa yang berada di belakang kalian (spion untuk melihat ke belakang). Mereka biasa menjual, saya ingat pada tahun lima puluhan, ini adalah masa saya, kami biasa membeli spion yang besar (membentangkan lengannya) dan kalian kaitkan pada spion yang lebih kecil sehingga kalian dapat melihat apa saja. Tetapi kalian tidak dapat menyetir tanpa mengikuti jalur jalan. Kalian tidak dapat berjalan di jalanan bila tidak mempunyai disiplin.

Jadi pilihlah jalan yang kalian sukai. Kalian memilih jalan setani, baiklah, kalian akan berakhir dalam kejahatan. Tidak masalah, ini adalah yang kalian inginkan. Jika kalian memilih jalan yang baik, kalian akan berakhir dalam kebaikan. Jangan katakatan, “Aku memilih jalan yang tidak ada disiplinnya.” Bahkan dalam duduk pun ada disiplinnya. Sekarang pada awalnya, jika saya sampai ke bagian ujung (di mana mereka duduk) tidak ada disiplin lagi. Mereka semua duduk di sudut, merapat. Menyebarlah!

Kamau! Mengapa kamu tidak mengatakan apa-apa kepada mereka? Kau mengajarkan yoga, benar kan? Bukankah kadang-kadang kau mengajar yoga? Apakah ada disiplin di dalamnya atau tidak? Ya, dan ini adalah yoga. Mengapa bila sesuatu untuk Allah (swt) maka tidak ada disiplin di dalamnya? Apapun untuk Allah, orang-orang akan berkata, “Siapa peduli?”

Kalian mengajar bela diri. Dalam bela diri, apakah tidak ada disiplin? Itu penuh dengan disiplin. Dalam bela diri Cina—saya tidak tahu namanya—dalam bela diri Cina atau Jepang, bahkan sang guru ketika menutup matanya ia masih bisa merasakan siapa yang datang dari arah sini, atau sini atau sini. Jadi bagaimana menurut kalian jika kalian berada di Jalan Allah (swt)? Bisakah kalian tidak melihat kanan, kiri atau dari belakang? Jadi itu memberi kita indikasi untuk mengetahui bahwa kita tidak mengikutinya dengan benar. Jadi ketika kita mengikutinya dengan benar, kita berakhir di jalan yang benar dan arah yang benar. Arah yang benar adalah arahnya Allah (swt)

فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ
fa ayanamaa tawallu fa tsamma wajhullah.
Ke mana pun kalian menghadap, di situlah wajah Allah. (al-Baqara, 2:115)

Apapun kalian, di mana pun kalian mengarahkan padangan kalian menuju Allah (swt), kalian akan menemukan-Nya; di mana pun kalian, dan kalian dapat melihat tanda-tanda-Nya di mana-mana.

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ
sanuriihim ayaatina fi 'l-afaaq wa fii anfusihim
Segera Kami akan memperlihatkan mereka tanda-tanda Kami di cakrawala yang jauh, dan dalam jiwa mereka.

Di manakah cakrawala itu? Pergilah lihat cakrawala, apa yang kalian lihat? Tidak ada. Cakrawala yang mana? Cakrawala dari kalbu kita. Semakin banyak kalian melihat kalbu kalian, semakin jauh kalian mencapai Hadirat Ilahi, tetapi kalian akan selalu melihat tanda-tanda-Nya.

sanuriihim ayaatina fi 'l-afaaq. Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kami (di dalam cakrawala dari kalbu-kalbu mereka).

Itulah di mana makna dari ayatahi 'l-kubra, artinya, "Kami memperlihatkan kepadanya dari tanda-tanda Kami yang tertinggi.” Itu adalah tanda-tanda Allah (swt) yang diperlihatkan kepada Sayyidina Muhammad dalam mi`raaj beliau.

Itulah di mana Dia memperlihatkan Sayyidina Muhammad (s) tanda-tanda terbesar. Awliyaullah mereka mewarisi dari Sayyidina Muhammad (s). Mereka melihat tanda-tanda ini, baik secara fisik maupun spiritual. Itulah di mana awliyaullah mewarisi dari Nabi (s), mereka melihat secara spiritual dan beberapa mungkin dapat melihatnya secara fisik, di mana hal itu jauh lebih sulit.

Keajaiban Kitab Suci al-Qur'an dan Rahmat Nabi Muhammad (s)

Keajaiban Kitab Suci al-Qur'an dan Rahmat Nabi Muhammad (s)


Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
18 September 2010 Naqshbandi Center, Maryland

A`uudzu billahi min asy-Syaythaani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim.
Nawaytu 'l-arba`iin, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-`uzlah,
nawaytu 'r-riyaadhah, nawaytu 's-suluuk, lillahi ta`ala fii haadza 'l-masjid.

Athi`ullaha wa athi`u 'r-Rasuula wa uuli 'l-amri minkum.
Patuhilah Allah, patuhi Nabi (s) dan patuhi orang-orang yang mempunyai otoritas atas kalian. (4:59)
Alhamdulillah, sangat sulit untuk bicara karena ini tidaklah mudah. Saya tidak mempersiapkan sesuatu. Saya datang untuk mendengar dan menyimak, seperti kalian. Kalian harus mempunyai adab, hormat kepada Allah (swt) dan Nabi-Nya, Sayyidina Muhammad (s). Nabi (s) tidak pernah berbicara sesuatu melainkan berasal dari wahyu. Jadi adab untuk disiplin bagi umat Nabi (s) dan manusia adalah mengikuti jejak Sayyidina Muhammad (s), yang mengajarkan kita akhlak terbaik. Sekarang orang bisa mengatakan apa saja yang mereka sukai, setiap orang bebas untuk mengatakan Islam begini atau begitu! Bahkan Setan berkata, "Oh Tuhanku! Aku lebih baik daripada Adam." Itu dinyatakan dalam Kitab Suci Al-Qur'an,

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim, anaa khayrun minhu khalaqtanii min naar wa khalaqtahu min tiin.
(Ibliis) berkata, "Aku lebih baik darinya, Engkau menciptakan aku dari api, dan Engkau menciptakannya dari tanah! (38:76)

Dia mempunyai kekuatan untuk menghadap Tuhannya dan berkata, "Mengapa aku harus bersujud kepada Adam? Aku lebih baik darinya." Iblis masih percaya kepada Tuhan. Allah (swt) mengutus Sayyidina Adam, Nuh, Musa, Jesus, dan Sayyidina Muhammad (semoga kedamaian tercurah kepada mereka semua) untuk mengajarkan kita bagaimana cara berdisiplin. Sekarang, jika kalian ingin menjadi seorang diplomat, kalian harus mengikuti kursus, mengapa? Untuk belajar bagaimana cara menunjukkan hormat. Seorang duta besar harus menunjukkan hormat, bahkan kepada musuhnya. Ia ingin membangun jembatan, bukannya menghancurkannya. Jadi mereka dilatih untuk itu. Lalu bagaimana menurut kalian ketika bicara mengenai pesan surgawi dari Islam, atau dengan apa Jesus dan Nabi Musa (a) datang? Kalian harus mengatakan sesuatu yang diridai Allah. Allah tidak suka seseorang yang berdiri di podium dan menyerang orang lain, bukannya memberi daya tarik, kalian mengatakan beragam kata-kata negatif yang membuat mereka bingung dan pergi.

Oleh sebab itu, tanggung jawab untuk bicara adalah sangat berat. Dikatakan bahwa ada dua macam ilmu: `Ilm al-Awraaq, "Ilmu Kertas," dan `Ilm al-Adzwaaq, "Ilmu Rasa". Kalian membaca kertas, ambil uang, kemudian pergi. Tidak peduli apakah orang lain mendengar atau tidak. Itu adalah ilmu yang kalian peroleh melalui membaca buku-buku. Ilmu tidak dapat diambil kecuali melalui mulut para ulama, yaitu orang-orang yang alim, yang berilmu. Di sisi lain, `Ilm al-Awraaq, artinya ilmu untuk mengetahui bagaimana cara berbicara dan menjaga manisnya kata-kata kalian sehingga orang akan mendengar. Kalian tidak akan pernah tahu bagaimana manisnya isi cangkir ini sampai kalian mencicipinya, saya dapat menggambarkannya dengan sebuah cangkir emas bergaris kuning yang berisi air, tetapi bila kalian tidak merasakannya, apa manfaatnya? Jadi `Ilm al-Adzwaaq adalah ilmu di mana Allah (swt) meletakkannya pada lidah ketika kalian mempunyai disiplin.

Para nabi dan rasul datang dengan pesan surgawi yang baik. Surga tidak mengirimkan pesannya yang tidak manis. Ucapan atau kata-kata kita harus mempunyai rasa manis di dalamnya, kalau tidak, kalian tidak dapat memperoleh apa-apa dari majelis itu dan lebih baik untuk tinggal di rumah. Di mana pun dan apa pun yang kalian ikuti, jika kalian mengikuti pesan Sayyidina Muhammad (s), Sayyidina Jesus (a), atau Sayyidina Musa (a), kalian harus mempunyai disiplin untuk mengikuti suatu pesan atau orang tertentu. Semua jalan kehidupan selalu mempunyai disiplin. Kalian tidak bisa mengabaikannya dengan mengatakan, "Itu bukan urusanku." Di jalan, kalian mempunyai jalur pejalan kaki dan kalian tidak boleh berjalan di jalanan, itu adalah disiplin. Setiap negara mempunyai undang-undang dasarnya, kalau tidak pemerintah dan masyarakatnya akan kacau balau. Setiap individu juga menerima suatu jalan untuk diikuti.

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ
Wa li kulli lahu wijhatu huwa muwalliihaa fa 'stabiquu 'l-khayraat.
Bagi setiap orang ada arah untuk mencapai tujuan mereka, maka berlomba-lombalah dalam kebaikan itu. (al-Baqara, 2:148)

Fastabiquu'l-khayraat, "Berjuanglah untuk yang terbaik." Tugas kita adalah untuk berjuang demi yang terbaik untuk kemanusiaan dan untuk kita sendiri. Allah berfirman kepada Nabi (s):

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Wa innaka la-`ala khuluqin `azhiim.
Dan sesungguhnya, kau (Wahai Muhammad) mempunyai akhlak yang mulia. (Al-Qalam, 68:4)

Akhlak, khuluq yang Allah berikan kepada Nabi (s), wa innaka la-`alaa khuluqin `azhiim, artinya, "Kau memiliki akhlak terbaik dengan perilaku terbaik dan moral yang sempurna." Allah (swt) mendeskripsikan Nabi-Nya sebagai:
كان خلقه القرآن
Kaana khuluqahu al-qur'an.
Akhlak Nabi (s) adalah al-Qur'an. (al-Bukhari)

Siapa yang ingin mencapai disiplinnya Nabi Muhammad (s), atau nabi-nabi lainnya yang ingin kalian ikuti dalam kalbu kalian, pesan itu pasti mempunyai level kesempurnaan tertinggi. Allah (swt) melukiskan Sayyidina Muhammad (s) mempunyai akhlak terbaik lahir dan batin.

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Qul in kuntum tuhibuun Allah fatabi`uuni yuhbibukum Allah.
Katakan, "Jika engkau benar-benar mencintai Allah, ikuti aku, Allah akan mencintaimu." (3:31)

Jadi, jika kini orang-orang tidak mengikuti teladan terbaik, mereka akan jatuh ke dalam masalah dan kesulitan. Dalam Islam jika kalian melihat sebuah batu di jalan, adabnya adalah memindahkannya, karena bisa jadi ia menimbulkan kesulitan bagi orang lain, atau sebuah mobil dapat mengenainya dan menimbulkan kecelakaan. Jadi apa tugas kalian? Memindahkan batu itu. Kalian tidak boleh memindahkannya dengan kaki kalian. Siapa yang menciptakan batu itu, kalian atau Allah (swt)? Allah yang menciptakannya. Dengan demikian adabnya adalah dengan berjongkok, lalu ambil batu itu dengan tangan kalian, dan memindahkannya ke pinggir. Kalian harus menyingkirkan masalah dari orang banyak dengan menyediakan waktu dan niat kalian terhadap apa yang kalian lihat di depan kalian. Nabi (s) bersabda, "Jika kalian sungguh-sungguh mencintai Allah, ikuti Muhammad (s)." Kita tidak bisa hanya mengucapkannya saja, kita harus mengikuti Sayyidina Muhammad (s) dengan perbuatan dan disiplin!

Allah (swt) berfirman kepada Nabi (s), "Engkau mempunyai akhlak terbaik," dan hadis meriwayatkan, "Akhlak Nabi (s) adalah al-Qur'an." Nabi (s) adalah "Qur'an yang berbicara." Allah (swt) menganugerahinya ilmu dari Al-Qur'an yang sangat luas dan mempunyai makna tak terbatas. Sekarang orang-orang membatasi Al-Qur'an suci dengan mengutip ayat-ayat di luar konteks, atau dengan mengikuti arti harfiah tanpa memahaminya. Mereka membatasinya begitu banyak hingga mereka merendahkan kitab suci Al-Qur'an dan mereka bahkan tidak menyadari apa yang mereka lakukan! Kitab suci al-Qur'an adalah firman Allah yang sakral!

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًاخَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim, inna alladziina aamanuu wa `amiluu 'sh-shaalihaat kaanat lahum jannatu'l-firdawsi nuzula khalidiina fiiha laa yabghuuna `anha hiwalaa, qul law kaan al-bahru midaadan li kalimaati rabbii wa law ji'naa bi-mitslihi madadaa

Sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga firdaus menjadi tempat tinggalnya. Mereka kekal di dalamnya dan mereka pun tidak ingin pindah darinya. Katakanlah: sekiranya lautan menjadi tinta bagi kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan sebanyak itu." (Surat al Kahf, 18:107-109)

Allah (swt) berfirman, "Katakan kepada mereka, yaa Muhammad (s), jika lautan adalah tinta dan pohon-pohon sebagai pena untuk menulis kalimat Allah, kalimat Allah tidak akan pernah habis tetapi tinta dan penanya yang akan habis! Jadi bagaimana mereka membatasi 500 halaman kitab suci al-Qur'an? Dan mereka mengatakan bahwa mereka adalah para ulama yang memberikan fatwa? Allah (swt) menggambarkan kitab suci al-Qur'an di dalam kitab suci al-Qur'an. Itu artinya, kitab suci al-Qur'an mengandung makna dan tafsir yang akan bermanfaat bagi manusia setiap saat dalam kehidupan mereka dan akan bermanfaat dalam area apa pun; baik itu psikologi, kedokteran, atau astrologi, kalian dapat menemukan apa saja di dalam Kitab suci al-Qur'an yang menerangi ilmu-ilmu tersebut. Tetapi kalian memerlukan orang-orang yang mempelajari ilmu-ilmu tersebut untuk membaca dan mengerti. Dan ada begitu banyak contoh dari apa yang mereka temukan dalam Kitab Suci al-Qur'an sejak 1400 tahun yang lalu. Oleh sebab itu kalian harus mempunyai disiplin. Ketika kalian mempunyai sesuatu yang berharga di mana kalian menyimpannya? Jika kalian mempunyai sebuah mahkota, di mana kalian menyimpannya? Di kepala kalian. Apakah Qur'an bukan merupakan mahkota? Kitab Suci al-Qur'an harus diangkat setinggi-tingginya untuk memberikan kehormatan kepada firman Allah (swt).

Wahai ulama-ulama sekarang! Di mana kalian meletakan Kitab Suci al-Qur'an? Kalian hanya mengajarkan bagaimana cara berwudu dan salat, itu memang bagus, tetapi bagaimana tentang Maqaam al-Ihsaan, maqam Kesempurnaan Moral, untuk mengetahui apa yang tersembunyi? Lihatlah pada doa ini (kaligrafi yang tergantung di dinding): rabbana atinaa min ladunka rahmatan wa hayyi lana min amrina rasyada. Apa maknanya? Jika kita membacanya secara harfiah, itu artinya, "Ya Tuhan kami! Berikanlah kami rahmat dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami." Itu adalah arti yang normal, tetapi kalian perlu melihatnya lebih dalam, diperbesar pandangannya (zoom in), jangan diperkecil (zoom out). Ulama-ulama sekarang melihatnya dengan cara diperkecil. Bila diperkecil, kalian tidak bisa melihat rahasia setiap kata dan setiap huruf dari al-Qur'an! Rabbana atina min ladunka rahmah, "Wahai Tuhan kami! Berikanlah kami dari Samudra Rahmat-Mu! Apakah samudra itu? Itu artinya, "Izinkanlah kami menyelam ke dalam samudra-Mu yang tidak berawal dan tidak berakhir! Ilmu yang mencakup awal dan akhir, `uluum al-awwaliin w 'al-akhiriin, yang telah diletakkan di sana." Siapakah yang merupakan Rahmatali 'l-`Alamiin, rahmat bagi seluruh umat manusia? Jadi doa itu berarti, "Masukkan kami di dalam samudra Muhammad (s); izinkanlah kami berada di sana bersamanya sebagai sahabatnya!"

Nabi (s) berkata kepada sahabatnya, Sayyidina Abu Bakr (r):

إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا
Idz yaquulu li shaahibi la tahzan innAllah ma`na.
Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. (Surat at-Tawbah, 9:40)

Jadi ketika kalian membaca ayat itu dengan cara lain, itu artinya, "Wahai Tuhan kami! Jangan biarkan kami dijauhkan dari navigasi dan memperdalam/memperbesar pandangan dalam rahmat yang Engkau berikan kepada Nabi (s)!" Itu adalah ilmu al-awwaliin wa 'l-akhiriin (awal dan akhir). Allah (swt) memberi Sayyidina Muhammad (s) segala macam ilmu. Itu sebabnya ada begitu banyak prinsip sains yang disebutkan dalam kitab suci al-Qur'an dan ahadis sejak 1.400 tahun yang lalu. Ini juga berarti ada suatu jalan dan koneksi bagi setiap orang ke dalam kalbu Nabi (s).

Orang bertanya kepada kalian, "Di mana alamat kamu?" Jika mereka menanyakannya 20 tahun yang lalu, kalian akan memberikan alamat kalian, lengkap dengan kode pos. Sekarang kalian akan memberinya alamat e-mail kalian, yang menghubungkan kita semua di seluruh dunia dengan sebuah "server" yang menyaring (memfilter) semua e-mail. Sekarang kita manusia menginovasi server-server, dan milyaran e-mail masuk ke dalam server-server itu. Bagaimana menurut kalian ketika Allah (swt) mengajarkan kita untuk mengucapkan, "Ya Allah! Berikanlah rahmat itu dan masukkan kami ke dalam kalbu Muhammadun Rasuulullah, untuk menghubungkan kalbu kita dengan server beliau sehingga beliau akan mengarahkan kita dan menunjukan suatu hubungan dengan kita." Setiap orang mempunyai hubungan kepada Nabi (s).

Allah berfirman di dalam Al-Qur'an suci:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil-`alamiin.
Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai Rahmat bagi seluruh alam! (21:107)

وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
Wa hayyi lana min amrina rasyada.
Dan lancarkan urusan kami dengan jalan yang benar. (18:10)

Nabi Muhammad (s) mencapai setiap makhluk di bumi melalui ayat ini, yang artinya, "Ketika Engkau menghubungkan kami dengan jalan Sayyidina Muhammad (s) kami memperoleh hidayah, dan dari situ kami memperoleh disiplin." Tidak ada hidayah kecuali dengan disiplin. Jika kalian ingin memandu anak kecil, kalian harus menunjukannya disiplin. Sama saja dengan orang dewasa. Kalian tidak bisa mengajarkan disiplin bila kalian sendiri masih belum berdisiplin. Kalian harus sangat berdisiplin dengan apa pun yang kalian lakukan. Hari ini mereka mengatakan kepada kalian, misalnya, bahwa sendok untuk sup, garpu untuk salad, dan pisau untuk memotong. Dapatkah kalian memotong dengan garpu? Tidak. Jika kalian melakukannya, mereka mengatakan, "Kita perlu mengajarkan orang ini tentang etiket." Dapatkah kalian makan dengan kaki kalian? Tidak, kalian berjalan dengan kaki kalian.

Nabi (s) bersabda, "Pada hari Kiamat, orang-orang akan berjalan dengan kepala mereka."
Sayyida `Ayisya (r) bertanya, "Bagaimana mereka berjalan dengan kepala mereka?"
Nabi (s) menjawab, "Dia yang membuat orang berjalan dengan kaki dapat membuat orang berjalan dengan kepala mereka."

Wahai Muslim dan non-Muslim! Berhati-hatilah! Bisa jadi Allah membuat kita berjalan dengan kepala kita pada Hari Kiamat nanti, dan itu adalah hukuman (berjalan di atas kaki kita bukanlah hukuman). Jika Allah tidak memberikan Rahmat-Nya, kalian tidak akan mendapat bimbingan! Allah (swt) berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاء وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Innaka laa tahdii man ahbabta walaakin allah yahdii man yasya'a wahuwa aa`alamuu bil-muhtadiin.
Sesungguhnya kalian tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah (swt) memberi hidayah kepada orang-orang yang Dia Kehendaki dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (28:56)

Itulah sebabnya dua hari yang lalu kami terangkan tentang ayat Qur'an:

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُقُمْ فَأَنذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
Yaa ayyuha 'l-mudatstsir, qum fa andzir wa rabbuka fa-kabbir.
Wahai orang-orang yang berselimut! Bangun dan berilah peringatan, dan Tuhanmu, agungkanlah! (Surat al-Muddatstsir, 74:1-3)

"Wahai orang-orang yang berselimut!" Itulah maknanya di sini. Qum fa andzir, "Berdirilah dan berilah peringatan kepada manusia." Wa rabbuka fakabbir, setelah memperingatkan mereka, "tunjukkan kebesaran Allah." Mengapa Nabi (s) harus memperingatkan mereka dan memperlihatkan kebesaran Allah? Ketika kalian mengatakan "pujian", "pengagungan", dan "kebesaran", itu artinya kalian ingin mengatakan sesuatu yang membuat kalian bahagia. "Wahai Nabi (s), yang menyelimuti diri! Berilah peringatan kepada manusia tentang Allah dan kebesaran-Nya, lalu agungkan dan berikan pujian kepada Allah, karena itu adalah hal terpenting yang dapat dilakukan oleh seseorang!" Itulah makna harfiahnya, tetapi ketika diperdalam, diperbesar (zoom in),

Apakah menurut kalian, Allah (swt) akan berkata kepada Nabi-Nya (s), "Wahai orang yang berselimut!" Diselimuti oleh apa? Mereka berkata bahwa beliau menyelimuti dirinya dengan sehelai kain, selimut, atau abaa, jubahnya, karena beliau menggigil sebagai dampak turunnya wahyu. Beliau, "Wahai orang yang Kuselimuti dengan Asmaul Husna wal Sifat yang tak pernah berakhir! Yaa Muhammad, yang merupakan cahaya Surga! Cahaya Hadirat Ilahi telah termanifestasi ke dalam dirimu! Berdirilah di Hadirat Ilahi ini, Dia mengirimkan pujian yang tinggi bagimu. Agungkanlah Tuhanmu atas Kebesaran-Nya dan hiasi manusia dengan apa yang telah Kuhiasi dirimu! Peringatkan mereka bahwa Asmaul Husna wal Sifat ini telah siap untuk disandangkan kepada mereka, dan jangan biarkan mereka lari dari samudra itu!" Itulah sebabnya Dia berfirman, wa rabbuka fa-kabbir, "Dan Tuhanmu Yang Mahabesar, agungkanlah dan akui kebesaran-Nya!"

Wahai Muslim dan non-Muslim! Kitab suci al-Qur'an adalah sebuah kitab tetapi ia tidak diciptakan. Ia disusun sepenuhnya oleh para Sahabat (r). Mereka mendengar dan melihat turunnya wahyu, mereka melihat apa yang kita tidak lihat. Nabi (s) hidup dengan wahyu itu dan tidak ada orang lain yang melakukannya. Beliau memberikan wahyu itu, manisnya wahyu itu dari mulut sucinya. Beliau membacanya dengan jalan yang suci dan tidak ada orang yang mendengarnya kecuali para Sahabat dan mereka meneruskannya dengan menyusunnya menjadi sebuah kitab. Tetapi kata-kata yang telah diturunkan mengandung rahasia-rahasia Allah yang tak terhingga yang diturunkan kepada Nabi (s)! Jika seluruh dunia ini menjadi pena dan seluruh samudra menjadi tinta, maka apa yang Allah berikan kepada Nabi (s) sekarang tidak akan pernah berakhir dan apa yang Allah berikan kepada Nabi (s) sejak awal hingga sekarang itu tidak lain melainkan hanya setetes dari apa yang Allah akan berikan!

Wahai Muslim! Ambillah Cahaya Qur'an dan manfaatnya sebagai sebuah mahkota. Jika kalian tidak membacanya, letakkan al-Qur'an di atas kepala kalian setiap hari dan biarkan cahayanya memasuki seluruh tubuh dan sistem saraf kalian. Ia akan mempengaruhi kalian dan membuat kalian lebih kuat pada hari itu. Tetapi apa yang kita lakukan? Kita menyimpan al-Qur'an di dalam lemari dan berkata, "Kami mendapat manfaatnya." Di beberapa negeri, seperti di Indonesia dan beberapa negeri Arab, mereka menjahit sampul untuk al-Qur'an dan menggantungnya di rumah mereka sebagai berkah. Di sini, saya tidak pernah melihat kitab suci al-Qur'an tergantung. Kalian lihat orang-orang di sini, di masjid, mereka membaca Qur'an, dan ketika selesai mereka meletakannya di lantai! Itu bukan adab, karena dengan demikian kaki mereka lebih tinggi daripada Kitab Suci al-Qur'an pada saat mereka salat. Kitab Suci al-Qur'an harus berada di atas kepala kalian! Siapa yang menghormati al-Qur'an, Allah akan menghormati mereka di Hari Kiamat, dan siapa yang tidak menghormatinya, Allah akan merendahkannya di Hari Kiamat. Semoga Allah (swt) mengampuni kita dan menggolongkan kita sebagai orang-orang yang menghormati kitab suci al-Qur'an.

Alhamdulillah, ini adalah sebuah masjid baru di daerah Washington, D.C. Tempatnya kecil, tetapi bila kita menyelesaikan lantai atas, insya Allah ruang utama akan dapat menampung banyak orang. Ruang utama di atas masih dalam proses renovasi. Ini adalah satu-satunya ruangan yang sudah siap sekarang. Ini adalah berkah dari Mawlana Syekh Nazim (q) dan himmah beliau, membawa cahaya dan rahmat dari kitab suci al-Qur'an dan Nabi kita (s) ke Amerika dan ke seluruh dunia.

Wa min Allahi 't-tawfiiq, bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.

Keajaiban Kitab Suci al-Qur'an dan Rahmat Nabi Muhammad (s)

Keajaiban Kitab Suci al-Qur'an dan Rahmat Nabi Muhammad (s)


Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
18 September 2010 Naqshbandi Center, Maryland

A`uudzu billahi min asy-Syaythaani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim.
Nawaytu 'l-arba`iin, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-`uzlah,
nawaytu 'r-riyaadhah, nawaytu 's-suluuk, lillahi ta`ala fii haadza 'l-masjid.

Athi`ullaha wa athi`u 'r-Rasuula wa uuli 'l-amri minkum.
Patuhilah Allah, patuhi Nabi (s) dan patuhi orang-orang yang mempunyai otoritas atas kalian. (4:59)
Alhamdulillah, sangat sulit untuk bicara karena ini tidaklah mudah. Saya tidak mempersiapkan sesuatu. Saya datang untuk mendengar dan menyimak, seperti kalian. Kalian harus mempunyai adab, hormat kepada Allah (swt) dan Nabi-Nya, Sayyidina Muhammad (s). Nabi (s) tidak pernah berbicara sesuatu melainkan berasal dari wahyu. Jadi adab untuk disiplin bagi umat Nabi (s) dan manusia adalah mengikuti jejak Sayyidina Muhammad (s), yang mengajarkan kita akhlak terbaik. Sekarang orang bisa mengatakan apa saja yang mereka sukai, setiap orang bebas untuk mengatakan Islam begini atau begitu! Bahkan Setan berkata, "Oh Tuhanku! Aku lebih baik daripada Adam." Itu dinyatakan dalam Kitab Suci Al-Qur'an,

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim, anaa khayrun minhu khalaqtanii min naar wa khalaqtahu min tiin.
(Ibliis) berkata, "Aku lebih baik darinya, Engkau menciptakan aku dari api, dan Engkau menciptakannya dari tanah! (38:76)

Dia mempunyai kekuatan untuk menghadap Tuhannya dan berkata, "Mengapa aku harus bersujud kepada Adam? Aku lebih baik darinya." Iblis masih percaya kepada Tuhan. Allah (swt) mengutus Sayyidina Adam, Nuh, Musa, Jesus, dan Sayyidina Muhammad (semoga kedamaian tercurah kepada mereka semua) untuk mengajarkan kita bagaimana cara berdisiplin. Sekarang, jika kalian ingin menjadi seorang diplomat, kalian harus mengikuti kursus, mengapa? Untuk belajar bagaimana cara menunjukkan hormat. Seorang duta besar harus menunjukkan hormat, bahkan kepada musuhnya. Ia ingin membangun jembatan, bukannya menghancurkannya. Jadi mereka dilatih untuk itu. Lalu bagaimana menurut kalian ketika bicara mengenai pesan surgawi dari Islam, atau dengan apa Jesus dan Nabi Musa (a) datang? Kalian harus mengatakan sesuatu yang diridai Allah. Allah tidak suka seseorang yang berdiri di podium dan menyerang orang lain, bukannya memberi daya tarik, kalian mengatakan beragam kata-kata negatif yang membuat mereka bingung dan pergi.

Oleh sebab itu, tanggung jawab untuk bicara adalah sangat berat. Dikatakan bahwa ada dua macam ilmu: `Ilm al-Awraaq, "Ilmu Kertas," dan `Ilm al-Adzwaaq, "Ilmu Rasa". Kalian membaca kertas, ambil uang, kemudian pergi. Tidak peduli apakah orang lain mendengar atau tidak. Itu adalah ilmu yang kalian peroleh melalui membaca buku-buku. Ilmu tidak dapat diambil kecuali melalui mulut para ulama, yaitu orang-orang yang alim, yang berilmu. Di sisi lain, `Ilm al-Awraaq, artinya ilmu untuk mengetahui bagaimana cara berbicara dan menjaga manisnya kata-kata kalian sehingga orang akan mendengar. Kalian tidak akan pernah tahu bagaimana manisnya isi cangkir ini sampai kalian mencicipinya, saya dapat menggambarkannya dengan sebuah cangkir emas bergaris kuning yang berisi air, tetapi bila kalian tidak merasakannya, apa manfaatnya? Jadi `Ilm al-Adzwaaq adalah ilmu di mana Allah (swt) meletakkannya pada lidah ketika kalian mempunyai disiplin.

Para nabi dan rasul datang dengan pesan surgawi yang baik. Surga tidak mengirimkan pesannya yang tidak manis. Ucapan atau kata-kata kita harus mempunyai rasa manis di dalamnya, kalau tidak, kalian tidak dapat memperoleh apa-apa dari majelis itu dan lebih baik untuk tinggal di rumah. Di mana pun dan apa pun yang kalian ikuti, jika kalian mengikuti pesan Sayyidina Muhammad (s), Sayyidina Jesus (a), atau Sayyidina Musa (a), kalian harus mempunyai disiplin untuk mengikuti suatu pesan atau orang tertentu. Semua jalan kehidupan selalu mempunyai disiplin. Kalian tidak bisa mengabaikannya dengan mengatakan, "Itu bukan urusanku." Di jalan, kalian mempunyai jalur pejalan kaki dan kalian tidak boleh berjalan di jalanan, itu adalah disiplin. Setiap negara mempunyai undang-undang dasarnya, kalau tidak pemerintah dan masyarakatnya akan kacau balau. Setiap individu juga menerima suatu jalan untuk diikuti.

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ
Wa li kulli lahu wijhatu huwa muwalliihaa fa 'stabiquu 'l-khayraat.
Bagi setiap orang ada arah untuk mencapai tujuan mereka, maka berlomba-lombalah dalam kebaikan itu. (al-Baqara, 2:148)

Fastabiquu'l-khayraat, "Berjuanglah untuk yang terbaik." Tugas kita adalah untuk berjuang demi yang terbaik untuk kemanusiaan dan untuk kita sendiri. Allah berfirman kepada Nabi (s):

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Wa innaka la-`ala khuluqin `azhiim.
Dan sesungguhnya, kau (Wahai Muhammad) mempunyai akhlak yang mulia. (Al-Qalam, 68:4)

Akhlak, khuluq yang Allah berikan kepada Nabi (s), wa innaka la-`alaa khuluqin `azhiim, artinya, "Kau memiliki akhlak terbaik dengan perilaku terbaik dan moral yang sempurna." Allah (swt) mendeskripsikan Nabi-Nya sebagai:
كان خلقه القرآن
Kaana khuluqahu al-qur'an.
Akhlak Nabi (s) adalah al-Qur'an. (al-Bukhari)

Siapa yang ingin mencapai disiplinnya Nabi Muhammad (s), atau nabi-nabi lainnya yang ingin kalian ikuti dalam kalbu kalian, pesan itu pasti mempunyai level kesempurnaan tertinggi. Allah (swt) melukiskan Sayyidina Muhammad (s) mempunyai akhlak terbaik lahir dan batin.

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Qul in kuntum tuhibuun Allah fatabi`uuni yuhbibukum Allah.
Katakan, "Jika engkau benar-benar mencintai Allah, ikuti aku, Allah akan mencintaimu." (3:31)

Jadi, jika kini orang-orang tidak mengikuti teladan terbaik, mereka akan jatuh ke dalam masalah dan kesulitan. Dalam Islam jika kalian melihat sebuah batu di jalan, adabnya adalah memindahkannya, karena bisa jadi ia menimbulkan kesulitan bagi orang lain, atau sebuah mobil dapat mengenainya dan menimbulkan kecelakaan. Jadi apa tugas kalian? Memindahkan batu itu. Kalian tidak boleh memindahkannya dengan kaki kalian. Siapa yang menciptakan batu itu, kalian atau Allah (swt)? Allah yang menciptakannya. Dengan demikian adabnya adalah dengan berjongkok, lalu ambil batu itu dengan tangan kalian, dan memindahkannya ke pinggir. Kalian harus menyingkirkan masalah dari orang banyak dengan menyediakan waktu dan niat kalian terhadap apa yang kalian lihat di depan kalian. Nabi (s) bersabda, "Jika kalian sungguh-sungguh mencintai Allah, ikuti Muhammad (s)." Kita tidak bisa hanya mengucapkannya saja, kita harus mengikuti Sayyidina Muhammad (s) dengan perbuatan dan disiplin!

Allah (swt) berfirman kepada Nabi (s), "Engkau mempunyai akhlak terbaik," dan hadis meriwayatkan, "Akhlak Nabi (s) adalah al-Qur'an." Nabi (s) adalah "Qur'an yang berbicara." Allah (swt) menganugerahinya ilmu dari Al-Qur'an yang sangat luas dan mempunyai makna tak terbatas. Sekarang orang-orang membatasi Al-Qur'an suci dengan mengutip ayat-ayat di luar konteks, atau dengan mengikuti arti harfiah tanpa memahaminya. Mereka membatasinya begitu banyak hingga mereka merendahkan kitab suci Al-Qur'an dan mereka bahkan tidak menyadari apa yang mereka lakukan! Kitab suci al-Qur'an adalah firman Allah yang sakral!

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًاخَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim, inna alladziina aamanuu wa `amiluu 'sh-shaalihaat kaanat lahum jannatu'l-firdawsi nuzula khalidiina fiiha laa yabghuuna `anha hiwalaa, qul law kaan al-bahru midaadan li kalimaati rabbii wa law ji'naa bi-mitslihi madadaa

Sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga firdaus menjadi tempat tinggalnya. Mereka kekal di dalamnya dan mereka pun tidak ingin pindah darinya. Katakanlah: sekiranya lautan menjadi tinta bagi kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan sebanyak itu." (Surat al Kahf, 18:107-109)

Allah (swt) berfirman, "Katakan kepada mereka, yaa Muhammad (s), jika lautan adalah tinta dan pohon-pohon sebagai pena untuk menulis kalimat Allah, kalimat Allah tidak akan pernah habis tetapi tinta dan penanya yang akan habis! Jadi bagaimana mereka membatasi 500 halaman kitab suci al-Qur'an? Dan mereka mengatakan bahwa mereka adalah para ulama yang memberikan fatwa? Allah (swt) menggambarkan kitab suci al-Qur'an di dalam kitab suci al-Qur'an. Itu artinya, kitab suci al-Qur'an mengandung makna dan tafsir yang akan bermanfaat bagi manusia setiap saat dalam kehidupan mereka dan akan bermanfaat dalam area apa pun; baik itu psikologi, kedokteran, atau astrologi, kalian dapat menemukan apa saja di dalam Kitab suci al-Qur'an yang menerangi ilmu-ilmu tersebut. Tetapi kalian memerlukan orang-orang yang mempelajari ilmu-ilmu tersebut untuk membaca dan mengerti. Dan ada begitu banyak contoh dari apa yang mereka temukan dalam Kitab Suci al-Qur'an sejak 1400 tahun yang lalu. Oleh sebab itu kalian harus mempunyai disiplin. Ketika kalian mempunyai sesuatu yang berharga di mana kalian menyimpannya? Jika kalian mempunyai sebuah mahkota, di mana kalian menyimpannya? Di kepala kalian. Apakah Qur'an bukan merupakan mahkota? Kitab Suci al-Qur'an harus diangkat setinggi-tingginya untuk memberikan kehormatan kepada firman Allah (swt).

Wahai ulama-ulama sekarang! Di mana kalian meletakan Kitab Suci al-Qur'an? Kalian hanya mengajarkan bagaimana cara berwudu dan salat, itu memang bagus, tetapi bagaimana tentang Maqaam al-Ihsaan, maqam Kesempurnaan Moral, untuk mengetahui apa yang tersembunyi? Lihatlah pada doa ini (kaligrafi yang tergantung di dinding): rabbana atinaa min ladunka rahmatan wa hayyi lana min amrina rasyada. Apa maknanya? Jika kita membacanya secara harfiah, itu artinya, "Ya Tuhan kami! Berikanlah kami rahmat dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami." Itu adalah arti yang normal, tetapi kalian perlu melihatnya lebih dalam, diperbesar pandangannya (zoom in), jangan diperkecil (zoom out). Ulama-ulama sekarang melihatnya dengan cara diperkecil. Bila diperkecil, kalian tidak bisa melihat rahasia setiap kata dan setiap huruf dari al-Qur'an! Rabbana atina min ladunka rahmah, "Wahai Tuhan kami! Berikanlah kami dari Samudra Rahmat-Mu! Apakah samudra itu? Itu artinya, "Izinkanlah kami menyelam ke dalam samudra-Mu yang tidak berawal dan tidak berakhir! Ilmu yang mencakup awal dan akhir, `uluum al-awwaliin w 'al-akhiriin, yang telah diletakkan di sana." Siapakah yang merupakan Rahmatali 'l-`Alamiin, rahmat bagi seluruh umat manusia? Jadi doa itu berarti, "Masukkan kami di dalam samudra Muhammad (s); izinkanlah kami berada di sana bersamanya sebagai sahabatnya!"

Nabi (s) berkata kepada sahabatnya, Sayyidina Abu Bakr (r):

إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا
Idz yaquulu li shaahibi la tahzan innAllah ma`na.
Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. (Surat at-Tawbah, 9:40)

Jadi ketika kalian membaca ayat itu dengan cara lain, itu artinya, "Wahai Tuhan kami! Jangan biarkan kami dijauhkan dari navigasi dan memperdalam/memperbesar pandangan dalam rahmat yang Engkau berikan kepada Nabi (s)!" Itu adalah ilmu al-awwaliin wa 'l-akhiriin (awal dan akhir). Allah (swt) memberi Sayyidina Muhammad (s) segala macam ilmu. Itu sebabnya ada begitu banyak prinsip sains yang disebutkan dalam kitab suci al-Qur'an dan ahadis sejak 1.400 tahun yang lalu. Ini juga berarti ada suatu jalan dan koneksi bagi setiap orang ke dalam kalbu Nabi (s).

Orang bertanya kepada kalian, "Di mana alamat kamu?" Jika mereka menanyakannya 20 tahun yang lalu, kalian akan memberikan alamat kalian, lengkap dengan kode pos. Sekarang kalian akan memberinya alamat e-mail kalian, yang menghubungkan kita semua di seluruh dunia dengan sebuah "server" yang menyaring (memfilter) semua e-mail. Sekarang kita manusia menginovasi server-server, dan milyaran e-mail masuk ke dalam server-server itu. Bagaimana menurut kalian ketika Allah (swt) mengajarkan kita untuk mengucapkan, "Ya Allah! Berikanlah rahmat itu dan masukkan kami ke dalam kalbu Muhammadun Rasuulullah, untuk menghubungkan kalbu kita dengan server beliau sehingga beliau akan mengarahkan kita dan menunjukan suatu hubungan dengan kita." Setiap orang mempunyai hubungan kepada Nabi (s).

Allah berfirman di dalam Al-Qur'an suci:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil-`alamiin.
Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai Rahmat bagi seluruh alam! (21:107)

وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
Wa hayyi lana min amrina rasyada.
Dan lancarkan urusan kami dengan jalan yang benar. (18:10)

Nabi Muhammad (s) mencapai setiap makhluk di bumi melalui ayat ini, yang artinya, "Ketika Engkau menghubungkan kami dengan jalan Sayyidina Muhammad (s) kami memperoleh hidayah, dan dari situ kami memperoleh disiplin." Tidak ada hidayah kecuali dengan disiplin. Jika kalian ingin memandu anak kecil, kalian harus menunjukannya disiplin. Sama saja dengan orang dewasa. Kalian tidak bisa mengajarkan disiplin bila kalian sendiri masih belum berdisiplin. Kalian harus sangat berdisiplin dengan apa pun yang kalian lakukan. Hari ini mereka mengatakan kepada kalian, misalnya, bahwa sendok untuk sup, garpu untuk salad, dan pisau untuk memotong. Dapatkah kalian memotong dengan garpu? Tidak. Jika kalian melakukannya, mereka mengatakan, "Kita perlu mengajarkan orang ini tentang etiket." Dapatkah kalian makan dengan kaki kalian? Tidak, kalian berjalan dengan kaki kalian.

Nabi (s) bersabda, "Pada hari Kiamat, orang-orang akan berjalan dengan kepala mereka."
Sayyida `Ayisya (r) bertanya, "Bagaimana mereka berjalan dengan kepala mereka?"
Nabi (s) menjawab, "Dia yang membuat orang berjalan dengan kaki dapat membuat orang berjalan dengan kepala mereka."

Wahai Muslim dan non-Muslim! Berhati-hatilah! Bisa jadi Allah membuat kita berjalan dengan kepala kita pada Hari Kiamat nanti, dan itu adalah hukuman (berjalan di atas kaki kita bukanlah hukuman). Jika Allah tidak memberikan Rahmat-Nya, kalian tidak akan mendapat bimbingan! Allah (swt) berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاء وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Innaka laa tahdii man ahbabta walaakin allah yahdii man yasya'a wahuwa aa`alamuu bil-muhtadiin.
Sesungguhnya kalian tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah (swt) memberi hidayah kepada orang-orang yang Dia Kehendaki dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (28:56)

Itulah sebabnya dua hari yang lalu kami terangkan tentang ayat Qur'an:

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُقُمْ فَأَنذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
Yaa ayyuha 'l-mudatstsir, qum fa andzir wa rabbuka fa-kabbir.
Wahai orang-orang yang berselimut! Bangun dan berilah peringatan, dan Tuhanmu, agungkanlah! (Surat al-Muddatstsir, 74:1-3)

"Wahai orang-orang yang berselimut!" Itulah maknanya di sini. Qum fa andzir, "Berdirilah dan berilah peringatan kepada manusia." Wa rabbuka fakabbir, setelah memperingatkan mereka, "tunjukkan kebesaran Allah." Mengapa Nabi (s) harus memperingatkan mereka dan memperlihatkan kebesaran Allah? Ketika kalian mengatakan "pujian", "pengagungan", dan "kebesaran", itu artinya kalian ingin mengatakan sesuatu yang membuat kalian bahagia. "Wahai Nabi (s), yang menyelimuti diri! Berilah peringatan kepada manusia tentang Allah dan kebesaran-Nya, lalu agungkan dan berikan pujian kepada Allah, karena itu adalah hal terpenting yang dapat dilakukan oleh seseorang!" Itulah makna harfiahnya, tetapi ketika diperdalam, diperbesar (zoom in),

Apakah menurut kalian, Allah (swt) akan berkata kepada Nabi-Nya (s), "Wahai orang yang berselimut!" Diselimuti oleh apa? Mereka berkata bahwa beliau menyelimuti dirinya dengan sehelai kain, selimut, atau abaa, jubahnya, karena beliau menggigil sebagai dampak turunnya wahyu. Beliau, "Wahai orang yang Kuselimuti dengan Asmaul Husna wal Sifat yang tak pernah berakhir! Yaa Muhammad, yang merupakan cahaya Surga! Cahaya Hadirat Ilahi telah termanifestasi ke dalam dirimu! Berdirilah di Hadirat Ilahi ini, Dia mengirimkan pujian yang tinggi bagimu. Agungkanlah Tuhanmu atas Kebesaran-Nya dan hiasi manusia dengan apa yang telah Kuhiasi dirimu! Peringatkan mereka bahwa Asmaul Husna wal Sifat ini telah siap untuk disandangkan kepada mereka, dan jangan biarkan mereka lari dari samudra itu!" Itulah sebabnya Dia berfirman, wa rabbuka fa-kabbir, "Dan Tuhanmu Yang Mahabesar, agungkanlah dan akui kebesaran-Nya!"

Wahai Muslim dan non-Muslim! Kitab suci al-Qur'an adalah sebuah kitab tetapi ia tidak diciptakan. Ia disusun sepenuhnya oleh para Sahabat (r). Mereka mendengar dan melihat turunnya wahyu, mereka melihat apa yang kita tidak lihat. Nabi (s) hidup dengan wahyu itu dan tidak ada orang lain yang melakukannya. Beliau memberikan wahyu itu, manisnya wahyu itu dari mulut sucinya. Beliau membacanya dengan jalan yang suci dan tidak ada orang yang mendengarnya kecuali para Sahabat dan mereka meneruskannya dengan menyusunnya menjadi sebuah kitab. Tetapi kata-kata yang telah diturunkan mengandung rahasia-rahasia Allah yang tak terhingga yang diturunkan kepada Nabi (s)! Jika seluruh dunia ini menjadi pena dan seluruh samudra menjadi tinta, maka apa yang Allah berikan kepada Nabi (s) sekarang tidak akan pernah berakhir dan apa yang Allah berikan kepada Nabi (s) sejak awal hingga sekarang itu tidak lain melainkan hanya setetes dari apa yang Allah akan berikan!

Wahai Muslim! Ambillah Cahaya Qur'an dan manfaatnya sebagai sebuah mahkota. Jika kalian tidak membacanya, letakkan al-Qur'an di atas kepala kalian setiap hari dan biarkan cahayanya memasuki seluruh tubuh dan sistem saraf kalian. Ia akan mempengaruhi kalian dan membuat kalian lebih kuat pada hari itu. Tetapi apa yang kita lakukan? Kita menyimpan al-Qur'an di dalam lemari dan berkata, "Kami mendapat manfaatnya." Di beberapa negeri, seperti di Indonesia dan beberapa negeri Arab, mereka menjahit sampul untuk al-Qur'an dan menggantungnya di rumah mereka sebagai berkah. Di sini, saya tidak pernah melihat kitab suci al-Qur'an tergantung. Kalian lihat orang-orang di sini, di masjid, mereka membaca Qur'an, dan ketika selesai mereka meletakannya di lantai! Itu bukan adab, karena dengan demikian kaki mereka lebih tinggi daripada Kitab Suci al-Qur'an pada saat mereka salat. Kitab Suci al-Qur'an harus berada di atas kepala kalian! Siapa yang menghormati al-Qur'an, Allah akan menghormati mereka di Hari Kiamat, dan siapa yang tidak menghormatinya, Allah akan merendahkannya di Hari Kiamat. Semoga Allah (swt) mengampuni kita dan menggolongkan kita sebagai orang-orang yang menghormati kitab suci al-Qur'an.

Alhamdulillah, ini adalah sebuah masjid baru di daerah Washington, D.C. Tempatnya kecil, tetapi bila kita menyelesaikan lantai atas, insya Allah ruang utama akan dapat menampung banyak orang. Ruang utama di atas masih dalam proses renovasi. Ini adalah satu-satunya ruangan yang sudah siap sekarang. Ini adalah berkah dari Mawlana Syekh Nazim (q) dan himmah beliau, membawa cahaya dan rahmat dari kitab suci al-Qur'an dan Nabi kita (s) ke Amerika dan ke seluruh dunia.

Wa min Allahi 't-tawfiiq, bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.

Kita Diperintahkan untuk Membagi Kekayaan Kita dengan Orang yang Membutuhkan

Kita Diperintahkan untuk Membagi Kekayaan Kita dengan Orang yang Membutuhkan

Sultan al-Awliya
Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani
18 September 2010 Lefke, Cyprus

(Mawlana Syekh berdiri) Laa ilaaha illa-Llah. Laa ilaaha illa-Llah. Laa ilaaha illa-Llah Muhammadun Rasuulullah `alayhi shalaatullah wa salaamu, Khazaliqa as-salaamu alaykum yaa anbiya Allah, yaa `ibaadAllah as-shalihiin, yaa rijalAllah amiduuna bi madadikum. A`uudzu billahi min asy-Syaythani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim, laa hawla wa la quwatta illa billahi 'l-`Aliyyu 'l-`Azhiim (Mawlana Syekh duduk).

Tsumma salaamu `alayk yaa Shahib az-Zamaan. As-salaamu `alayk yaa Qutb az-Zamaan, as-salaamu alaykum yaa as-haab an-nawbah fii masyaariq wal `ardh wa maghaaribihaa. (Mawlana Syekh bernyanyi dalam bahasa Turki)

Tsumma as-salaamu `alaykum, wahai pada hadirin! Masyaa-Allah, jama`tum, hari ini banyak sekali, banyak sekali uang yang kalian dapatkan. Kalian bergembira sekarang karena kalian mendapat jutaan atau milyaran poundsterling, euro atau dolar. Senang? Apa yang kalian berikan untuk sedekah minggu ini? Katakan, "Kami melakukan ini, itu." Di masa lalu, seluruh Sultan memberi sedekah atas nama mereka, untuk membuat namanya hidup sepanjang masa, untuk itu dikatakan, "Allah memberkati mereka di mana mereka membangun masjid yang sangat besar untuk fakir miskin,imaraat khanna, di mana orang-orang miskin datang untuk makan, minum dan beristirahat." Dan mereka membangun begitu banyak madrasah dengan uang mereka sendiri demi sedekah kepada umat Nabi Penutup (s), semoga kedamaian senantiasa tercurah kepada beliau--di mana orang dapat belajar dan melakukan yang terbaik untuk Tuhan mereka, Allah (swt).

Ya, ada level manusia di mana para nabi berkata, "Lakukanlah pengabdianmu! Lakukanlah yang terbaik bagi Tuhanmu." Mereka adalah level manusia pertama yang diserukan oleh para nabi. Kemudian para nabi berseru kepada kelompok berikutnya, "Kalian juga memberikan sedekah untuk manusia, mengangkat beban mereka. Itu adalah karunia dari Allah (swt) demi kehormatan hamba-Nya yang paling mulia." Yaa Rabbii, tawbah yaa Rabbii. Sekelompok orang juga telah dipanggil untuk memberikan sedekah kepada manusia, untuk membuat orang-orang itu bahagia.

Wahai ulama-ulama Salafi! Marhaban! Kayfa syaafikum al-yawm? Apakah kalian bahagia? Bahagia! Allah Allah, SubhaanAllah. Bagaimana menurut kalian tentang hadiits asy-syariif dari Nabi Penutup (s): (Mawlana Syekh berdiri)
الجزاء من جنس العمل
Al-jazau min jins al-`amal, kama tadiirutun.
Hukuman/pahala berasal dari aspek pekerjaan.

Saya mengetahui beberapa hadis juga. (Mawlana Syekh duduk) Itu sangat penting dan saya mengalamatkan ini kepada ulama-ulama Salafi yang mengklaim bahwa mereka adalah ulama, orang-orang terpelajar yang diperintahkan untuk mengajarkan manusia. Itulah misi mereka, mereka harus mengajarkan manusia dan mengatakan kepada mereka, al-jazau min jins al-`amal. Ada jazaa'an hasanan, bagi orang yang melakukan pekerjaan baik, jika mereka melakukan perbuatan baik, mereka akan diberi ganjaran dengan kebaikan. Orang yang memberi sedekah, melakukan pelayanan/ibadah yang baik, Allah (swt) tidak memerlukan ibadah kita, tetapi Dia selalu meminta, "Wahai hamba-hamba-Ku, jagalah hamba-hamba-Ku yang lemah. Ya, Aku memang dapat memberinya, Aku dapat membuat sebagian orang menjadi kaya dan sebagian yang lain menjadi orang yang membutuhkan. Mereka yang telah Kuberikan kekuatan untuk melakukan perbuatan baik dan memberikan sedekah, Aku tinggalkan mereka dan berkata, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang kaya raya! Jagalah orang-orang yang lemah, berikan sedekahmu untuk mereka. Wahai manusia, perlakukanlah mereka dengan adil, jagalah keadilan. Wahai hamba-Ku yang berkuasa dan yang kaya raya! Jagalah dan bantulah hamba-hamba-Ku yang lemah."

Wahai ulama-ulama Salafi! Allah (swt) ingin agar orang-orang yang lemah dilindungi. Dia adalah Qadir, Muqtadir! Dia dapat melakukan apa saja dan perintah-Nya adalah antara kaf dan nuun. Tetapi kalian harus memikirkannya, kalian harus memberikan nasihat kalian kepada raja,malik, umara, dan orang-orang kaya.

Wahai manusia! Datanglah dan lakukan sesuatu yang baik. Demi Tuhan kalian, jagalah orang-orang yang lemah dan berikanlah sedekah untuk mereka, agar mereka bahagia dan membuat Allah rida. Untuk apa? Allah (swt) mengaruniai kalian sesuatu dan kalian memberikannya kepada orang lain. Kita masih jauh dari makna sesungguhnya menjadi "hamba yang baik" bagi Tuhan Surgawi! Dia menganugerahi kalian dengan harta kekayaan untuk menolong orang, bukannya untuk disimpan dalam tabungan kalian, untuk apa?

Allah (swt) berfirman, "Wahai hamba-Ku, jangan simpan emas atau perak, atau permata, tetapi berikan, karena Aku rida ketika kalian memberi dan Aku murka bila kalian tidak memberi."

Ini adalah pembukaan baru bagi seluruh umat, khususnya bagi umat Muslim. Umat Muslim yang seluruh upaya, ijtihad-nya bertujuan untuk mendapat lebih banyak uang, permata dan harta kekayaan! Dan Allah (swt) mampu menurunkan hujan ke beberapa bagian dari benua, dan Muslim yang kaya melihat berita setiap malam bahwa jutaan orang memerlukan segenggam nasi, tetapi mereka tidak peduli, mereka tidak merawat orang-orang itu! Mereka berkata, "Oh! Kami telah mengirim 20 juta. Raja kami baru saja mengirim 50 juta." Itu bukan apa-apa, karena di antara kalian ada yang mempunyai 50 milyar, dan di antara kalian ada yang mempunyai trilyunan, dan sebagian mempunyai quadrilyun! Untuk apa?!! Mengapa ulama-ulama Salafi kita tidak memperingatkan mereka, "Wahai raja, muluuk kami! Wahai raja kami dan orang-orang kaya! Berikan sedekah kalian sebelum kalian dikubur di dalam tanah ini!" Mengapa mereka tidak mengatakannya dan Allah (swt) memerintahkan mereka, wa dzakkir, "Dan ingatkanlah mereka!"

Wahai ulama! Kalian hanya mengaku bahwa kalian adalah ulama-ulama Salafi. Kalian, raja mana di antara raja-raja kalian yang mengirimkan sedekah ke penjuru timur dan barat? Yang mana yang mengirimkan satu milyar dolar atas namanya? Biarkan mereka mengirimkannya, dan kemudian katakan, "Raja kami mengirimkan sejumlah itu." Jika mereka mengirimkannya, mereka harus memperjelasnya, agar orang-orang dapat melihat, dapat gembira dan berdoa untuk mereka, di dunia dan akhirat! Itu adalah hal yang penting. Tetapi ulama kita hanya berkata, "Blah, blah, blah (omong kosong belaka)." Tinggalkan itu dan berilah sedekah! Itu adalah perintah suci dari Allah (swt), bukan dari saya! Saya bukanlah apa-apa, tetapialladzii antaqa kulla syay hanya antaqanii, "Dia yang membuat segala sesuatunya bicara membuat saya bicara!" Jangan katakan, "Orang tua itu mengatakan hal ini," jangan! Apa yang Dia masukkan ke dalam kalbu saya, saya sampaikan kepada kalian!

Berikanlah sedekah kalian lebih banyak lagi, karena waktunya telah datang, waktu yang disebutkan dalam Syari`atullah, fii akhbarii `akhir az-zamaan, "Kabar tentang Tanda-Tanda Akhir Zaman" dari dunia ini. Kini datang hari yang baru, di mana orang akan mengumpulkan begitu banyak emas, tetapi mereka tidak mengambil dari sana, karena Allah (swt) mengirimkan berkah-Nya untuk orang-orang beriman. Dulu pernah diberikan satu baki jamuan makan untuk Jesus Kristus, apakah hanya satu baki yang ada di Surga? Tetapi ketika Hari Kiamat mendekat, Sayyidina Mahdi (a) pasti datang, dan kemudian Allah (swt) akan mengirimkan baki-baki seperti pada masa Sayyidina `Isa (a), setiap hari, karena sebagian orang akan berkata,astaghfirullah, "Apakah Allah (swt) begitu miskin sehingga Dia hanya mengirimkan satu baki? Bagaimana dengan orang-orang yang lain selama berabad-abad?" Dia diminta untuk memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia sanggup mengirimkan baki-baki (makanan) setiap kali hamba-Nya membuka matanya dan berkata, "Wahai Tuhan kami! Kirimkan kami dari Baki Rahasia-Mu karena kami sibuk beribadah kepada-Mu! Kami sibuk melayani-Mu! Urzukna, berikanlah rezeki kami," dan Allah (swt) mengirimkan pada masa Imam Mahdi (a) dan `Isa (a), setiap hari akan datang baki-baki (makanan) ke setiap rumah yang mustahil untuk dibawa oleh setiap orang!

(Mawlana Syekh berdiri) Allah (swt) adalah jalaaluhu ghaniyun mutlaq fa`alun limaa yuriid, "Dia Mahakaya, Dia melakukan apa yang Dikehendaki-Nya." (Mawlana Syekh duduk) Hari itu datang, dan ketika ia datang, seberapa nilai dari emas yang kalian simpan? Tidak ada, tidak ada nilainya!

Wahai ulama-ulama Salafi! Wa dzakkir, "dan ingatkanlah mereka," ummat al-Habiib, umat dari Nabi Penutup (s)! Mereka harus berusaha untuk meningkatkan sedekah mereka lebih banyak lagi dari sekarang, lebih banyak dan lebih banyak lagi, karena segera datang waktunya di mana tak ada lagi yang akan menerima sedekah , mereka berkata, "Kami punya dan kami tidak memerlukannya." Masa itu kini telah mendekat sekarang! Saya tidak tahu apakah ia akan terjadi satu tahun, dua tahun atau tiga tahun lagi, ketika Kemurahan, ikraam Surgawi akan datang dari Tuhan Surgawi. Berikan sekarang dan ambillah karunia surgawi sekarang! Jika kalian tidak memberi, kekayaan kalian akan menjadi sia-sia, bagi kalian dan bagi yang lain!

Wahai manusia! Allah (swt) meminta pengabdian yang baik dan dari situ, satu bagian adalah untuk Keagungan-Nya: yaitu ibadah, ibadah, ibadah! Dan bagian kedua bukan untuk-Nya, tetapi berikanlah sedekah untuk fakir miskin. Kini waktunya telah habis. Kita berharap masa-masa itu akan segera datang dan orang-orang akan menemukan di hadapan mereka ada suatu posisi, sesuatu yang membuat mereka tercengang! Berikan sekarang! Jika kalian tidak memberi, kalian akan menangis di Hari Kebangkitan, dan berkata, " Mengapa aku tidak memberi sedekah?" Semoga Allah (swt) mengampuni kita.

Wahai manusia! Itu adalah nasihat yang baik dan ajaran surgawi bagi saya, bagi kalian dan bagi semua orang beriman. Jika seseorang tidak beriman, jangan sibukkan diri kalian dengannya dan jagalah diri kalian dan mintalah ampunan dan berkah Tuhan kalian. Semoga Allah (swt) memberkati kita demi kehormatan Nabi Penutup, Sayyidina Muhammad (s)! (Mawlana Syekh beridiri dan duduk).

Fatihah.

(35 menit) (1011 pemirsa) Alhamdulillah, itu adalah berkahmu (menunjuk pada CC2 yang kembali ke Siprus pada hari ini). Alhamdulillah.

Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah.