http://eshaykh.com/sufism/ego-2/
Tanya:
Assalamualikum!
Saya ingin tahu bagaimana saya dapat menyingkirkan ego saya sepenuhnya karena saya menyadari bahwa Mahdi (as) akan segera datang dan saya ingin bersiap-siap sepenuhnya? Mohon doanya untuk keluarga saya dan saya agar dapat bersama beliau dan semoga Allah mengampuni saya dan memberkati semua.
Jazakallah!
Jawab:
Wa `alaykum salam,
Insya-Allah Mawlana berdoa untuk Anda.
Menjinakkan ego memerlukan disiplin spiritual, termasuk: puasa, salat malam, khalwat yang memerlukan kerendahan hati dan kesabaran. Mawlana Syekh Nazim telah memberikan nasihat yang kuat bahwa, “Hanya puasa yang dapat menutup pintu kejahatan…”
Silakan lihat video berikut ini: Spiritual Alchemy from Bitter to Sweet
Mengontrol Egomu
Bersama dengan ego, kita juga dikaruniai dengan Akl-wal-Iradath — kontrol atas keduanya. Akl memberi kalian pikiran dan kehendak untuk mengontrol ego. Allah tidak akan memberi kita ego (nafs, atau nafsi dalam bahasa Indonesia) kecuali ia dapat dikontrol dengan Akl-wal-Iradath — pikiran dan kehendak.
Mengontrol ego melalui pikiran dan kehendak adalah hal yang dapat dilakukan, tetapi pada umumnya manusia mengikuti keinginan ego mereka. Yaitu untuk bersenang-senang dan kehilangan kehendak dan pikirannya sampai ia terjatuh dan membelah kepalanya menjadi dua bagian. Hanya ketika kewarasannya kembali ia akan menyadari bahwa ia salah. Oleh sebab itu, tidak ada orang yang mengikuti egonya namun berakhir dengan bahagia. Itu adalah mustahil.
Jika kalian mengikuti ego kalian, sesuatu akan terjadi sebagai sebuah hukuman baik sekarang maupun besok. Jika bukan besok, mungkin pada hari berikutnya. Seseorang yang mengikuti egonya suatu saat pasti akan mendapati hukumannya. Kalau tidak, maka itu adalah mustahil karena Allah (swt) tidak akan membiarkan orang itu sampai ia merasakan pahitnya hukuman yang diberikan dan sampai ia bertobat dan memperbaiki jalan hidupnya. Selama ia mengikuti egonya (nafs), ia selalu berada di dalam bahaya.
Berurusan dengan ego kita adalah perkara yang sulit, karena ia sangat membangkang, dan sulit sekali untuk mencapai kesepakatan dengannya. Kalian tidak bisa membuat suatu kesepakatan dengan ego kalian karena kalian tidak bisa mempercayainya. Setelah berkata “Ya” terhadap sesuatu, beberapa saat kemudian ia akan berubah mengatakan “Tidak”; ia akan mengatakan, “Aku tidak berkata ‘Ya’. Jika aku mengatakan “Ya”, sekarang aku katakan ‘Tidak’ apakah kalian suka atau tidak; itu tidak masalah. Aku tidak peduli apakah aku mengatakan ‘Ya’ atau ‘Tidak,’ aku (nafs) akan melakukan apa yang kusuka.”
Oleh sebab itu, tidak akan ada kesepakatan dengan nafs karena nafs itu menentang Pencipta-Nya dan ia menentang semua Nabi, menentang semua Awliya, menentang semua orang saleh, menentang kalian, dan menentang semua manusia. Ia hanya berteman dengan Setan. Perhatikanlah nafs kalian sewaktu-waktu, dan lihatlah bahwa ia selalu mencintai (muhabbah) — sangat mencintai dan bersahabat dengan Setan.
Setiap saat kalian berpikir untuk mengontrol nafs kalian, kalian akan segera melihat bahwa ia mendorong pada sesuatu yang rendah bagi kalian dan bagi yang lainnya. Ya, kalian tidak bisa menemukan ego kalian menjadi bersahabat dengan sesuatu yang baik, atau bersahabat dengan kalian, bersahabat dengan Allah (swt), atau bersahabat dengan para Nabi, karena ia adalah seorang musuh.
Jadi jangan percaya dengan ego kalian, sebagaimana Nabi (s) berdoa:
“Allahumma la takilni ila nafsi tarfatha-`ain.”
“Wahai Tuhanku, jangan tinggalkan aku pada egoku walau hanya sekejap mata.”
Gigitan Kobra
Bahkan dalam waktu yang singkat, ego dapat menyakiti kalian dan menggiggit kalian seperti seekor ular. Dapatkah kalian mempercayai seekor kobra? Jika kalian mempercayainya, masukan ia ke dalam baju kalian, lalu tidur. Jika kobra itu berbahaya dalam skala satu, maka ego kita lebih berbahaya tujuh puluh kali lipatnya.
Kita tidak merasa nyeri ketika digigit oleh ego kita—seperti halnya orang yang mabuk yang mengalami kecelakaan. Pada awalnya mereka tidak merasakan sakit, tetapi ketika mereka sadar dari mabuknya, barulah mereka merasakan sakitnya. Kita terlalu asyik meminum anggur dari kehidupan ini, dari dunia ini. Oleh sebab itu, kita tidak merasakan gigitan ego kita sampai kita dimasukan ke dalam kubur. Pada saat itu, begitu banyak kobra akan datang, paling tidak ada tujuh puluh; barulah orang akan mengetahui betapa berbahayanya egonya. Para malaikat akan mengatakan kepadanya bahwa kobra-kobra itu tidak berasal dari luar tetapi dari dalam dirinya. Mereka adalah kobra dari ego yang telah dipelihara semasa hidupnya. Di dunia orang itu memberinya makanan, sehingga ia tumbuh menjadi besar. Kobra-kobra itu bukanlah kobra yang kecil. Karena selama hidupnya, orang itu memberinya makan, dan sekarang mereka keluar; ia dapat melihatnya melalui kalbunya. Kobra itu datang dan menggigitnya. Ia menggigitnya dari luar dan dari dalam. Ini adalah ego yang mengerikan. Oleh sebab itu, setiap Nabi meminta perlindungan dari ego.
Menolak Keinginan Ego
Jadi, jangan percaya atau membiarkan ego kalian berbuat sesukanya. Paling tidak, beberpa kali kalian harus bisa menolak keinginan nafs kalian. Pertama, sangat sulit untuk menghilangkan keinginan nafs kalian. Tetapi sebagaimana Nabi (s) dan Allah (swt) telah memerintahkan untuk memerangi nafs, kalian harus berusaha untuk melakukan sesuatu untuk menentangnya melawan keinginan nafs. Barangkali kalian bisa berusaha untuk menyenangkannya beberapa kali dalam sehari, tetapi paling tidak beberapa kali, berusahalah untuk tidak memberi apa yang diminta oleh nafs kalian. Kalian mengetahui banyak hal yang tidak berguna atau bisa membahayakan, tetapi karena kalian telah terbiasa, itu membuat kalian tidak bisa menghentikannya. Jika kalian tahu bahwa itu berbahaya, maka jangan diulangi. Lakukan sekali atau dua kali, tetapi bila ego kalian memintanya lagi, kalian harus mengatakan, “Tidak”. Katakan itu sekali, “Aku tidak mau mendengarmu hari ini.” Kemudian lakukan lebih dari sekali, atau katakan, “Aku tidak akan mendengarmu lebih dari dua kali.” Kalian dapat mengatakan hal ini dan menolak ego kalian, dan kalian harus mencobanya paling tidak sekali dalam 24 jam.
Kalian dapat mengatakan, “Aku baru sekali menolak keinginan egoku,” walaupun sekali, kalian mempunyai cahaya, walaupun kecil, dan itu berarti kalian mempunyai kekuatan spiritual yang dapat membuat kalian menggunakan kehendak kalian walaupun sekali. Jika kalian tidak berhasil paling tidak sekali, kalian harus tahu bahwa kalian belum mati. Jika kalian menolak, walaupun hanya sekali, itu artinya ada iman yang memberi kalian kehidupan spiritual, dan bahwa kalian masih hidup dan kalian dapat menjaganya dan meningkatkannya dari sekali menjadi dua kali, lalu tiga kali dan seterusnya.
Itulah jalan untuk mengontrol ego kalian, mulai dari sekali setiap hari. Paling tidak satu keinginan ditolak untuk makan, minum, untuk melihat-lihat, untuk bicara, untuk tidur, untuk memberi, dan untuk mengambil. Ada banyak hal di mana ego kalian dapat berkata, “Tidak,” dan kalian harus mengatakan, “Ya.” Jika ego kalian mengatakan, “Ya,” kalian harus mengatakan “Tidak,” walaupun sekali. Itulah metode yang dapat kalian raih untuk dapat menyempurnakan pengendalian ego kalian. Jika tidak ada kemauan dari seseorang dan ia tidak menggunakan kehendaknya, jangan terkesan dengan pakaiannya (penampilannya), walaupun ia adalah manusia. Tidak, itu sudah berakhir.
Jika seseorang tidak mampu menggunakan kehendaknya untuk mengontrol egonya, maka levelnya masih berada di level binatang karena binatang tidak mempunyai suatu kehendak (iradat). Kalian telah dimuliakan dengan mempunyai kehendak. Oleh sebab itu, walaupun sekali, gunakan kehendak kalian untuk melawan ego kalian, dan kalian akan mampu mencapai pengendalian yang sempurna.
[Dikutip dari buku satu, Sufi Spiritual Practices for Polishing of the Heart oleh Mawlana Syekh Nazim]
Terakhir, insya-Allah Anda akan menemukan lebih banyak nasihat di bawah ini:
Saya ingat ketika saudara saya Syekh Adnan dan saya masih muda, Grandsyekh mengatakan kepada kami untuk melakukan wirid antara `Ashar dan Maghrib, Maghrib dan `Isya’ dan pagi hari sampai waktu isyraq, dari setengah jam atau satu jam sebelum Subuh sampai isyraq, dan beliau berkata, “lakukan pengasingan diri.” Beliau mengatakan kepada kami agar menutupi diri kami dengan kain seprai atau selimut. Ketika Anda menutupi diri Anda sendiri, Anda tahu bahwa Anda berada dalam batasan-batasan; ini adalah makam duniawi Anda. Anda tidak bisa keluar sebelum menyelesaikan wirid Anda. Kita menutupi diri seolah-olah mengasingkan diri, memutuskan diri kita dari kehidupan normal, di dalam kotak persegi itu. Anda tidak dapat bergerak ke kanan atau ke kiri ketika sedang melakukan wirid Anda. Jadi koneksi kepada Syekh Anda ketika Anda sedang melakukan wirid akan membawa Anda ke hadirat Nabi (s), dan dari hadirat Nabi (s), beliau membawanya ke Hadirat Allah (swt).
Anda duduk di dalam selimut. Jika panas, gunakan kain yang tipis, karena Setan mengatakan kepada Anda, “Kau kepanasan, lepaskan itu.” Di dalam setiap ibadah ia datang untuk mengatakan kepada Anda agar berhenti melakukannya.Saya biasa melakukannya dengan suara nyaring—Anda dapat melakukannya dengan suara nyaring (jahar) atau khafi, dalam hati, tetapi ketika Anda melakukannya dengan suara nyaring, Anda dapat menghentikan gosip yang masuk, karena Anda bermeditasi pada apa yang Anda baca.
Dengan menutupi diri Anda, seolah-olah Anda mengisolasi diri Anda sepenuhnya dari dunia luar. Anda merasakanya kenyamanan di sana, hari demi hari. Kunci itu adalah salah satu kunci yang kita perlukan di dalam perjalanan kita.
Syekh Muhammad Hisyam Kabbani
[dikutip dari Who Are the Guides, dan sebuah shuhbat tanggal 17 November, 2007 oleh Syekh Muhammad Hisyam Kabbani]
Staff
http://eshaykh.com/sufism/ego-2/
Jumat, 25 November 2011
Selasa, 01 November 2011
Keguguran kandungan – Kehilangan seorang anak
Tanya: Jika seorang perempuan mengalami keguguran kandungan, yang bisa saja disebabkan oleh stres, kesalahan yang telah dilakukannya di masa lalu, jika telah menyebabkan seseorang tidak rida padanya, atau jika dia pergi ke pantai walau sesungguhnya dia tidak menghendakinya (saya pernah diberi tahu kalau jin, khususnya yang berdiam di pantai, bisa mencelakakan seorang perempuan hamil, tapi saya tidak tahu apakah hal ini sungguh benar atau tidak),
atau hal itu bisa saja terjadi karena telur perempuan dan sperma laki-laki tidaklah cukup kokoh (dalam menyatu, penerj.)?
Karena saya heran mengapa Tuhan mengaruniai seorang bayi tapi kemudian mengambilnya kembali sebelum prosesnya berjalan sempurna? Saya sungguh ingin mengetahui apa-apa saja yang telah dibahas tentang hal ini karena dengan demikian akan cukup menenteramkan pikiran saya. Terima kasih.
Jawab: Wa `alaykum as-Salam wa rahmatullah, Ilmu kedokteran mungkin saja memberikan penjelasan ini atau itu tetapi kita percaya bahwa celaka yang disebabkan oleh jin dan mata setan adalah sesuatu yang nyata tapi bisa tidak membahayakan kita kalau kita taat dan berzikir baik secara umum maupun yang khusus; tapi alasan yang paling mendasar adalah Qadar.
Allah (swt) menciptakan kita dan menetapkan umur kita. Dia menguji kita dengan kesenangan dan penderitaan {dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan} (QS 94: 5-6), menebus dosa-dosa kita dan meninggikan derajat kita di Hadirat-Nya. {Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan; dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadanya-Nyalah kami kembali”. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.} (QS 2: 155-157).
Kehilangan adalah tentang KESABARAN seorang hamba dan CINTA Sang Pencipta. Allah (swt) mencintai seseorang karena luasnya kesabaran-Nya sebagaimana Dia berfirman: {Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar} (QS 3:146) dan Dia bersama mereka, menolong mereka: {Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar} (QS 2: 153, 2:249, 8:46, 8:66). Nabi (s) bersabda, “Seseorang bisa saja belum mencapai derajat (maqam) yang tinggi sebagaimana yang Allah kehendaki karena kurangnya amal saleh mereka, sehingga Allah tak henti menguji mereka dengan hal-hal yang tidak mereka sukai, sampai Dia menjadikan mereka mencapainya (mencapai derajat/maqam yang tinggi itu, penerj.)” Shahih Ibn Hibban, Musnad Abu Ya`la.
Dan beliau (s) juga berkata kepada perempuan yang sedang sangat berduka,”SABAR itu hanyalah pada awal peristiwa saja”. Waktu membawa pelipur lara tapi kejutan pertama (yaitu saat pertama kali kita menghadapi kejadian yang memerlukan kesabaran kita, penerj.) adalah ujian yang sesungguhnya karena secara alaminya hal itu mendorong kita ke arah pembangkangan atas perintah Ilahi. Orang Beriman mempunyai perlindungan atas gerak hati yang wajar seperti sebagaimana Allah (swt) telah berfirman, {Tidak ada musibah menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada kalbunya} (QS 64:11).
Para Awliya Allah adalah mereka yang, ketika yang lainnya jatuh tersungkur, mereka tetap tegar dan berpikiran jernih dalam penyerahan diri mereka: {dan siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka tak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati} (QS 2:38), {Sesungguhnya Awliya Allah adalah mereka yang tak ada ketakutan atas mereka, tidak pula mereka bersedih hati} (QS 10:62). Dalam al-Bukhari, al-Nasa’i dan Ahmad, Nabi (s) bersabda, “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Kuasa berfirman, ‘Tidak ada ganjaran lain bagi hamba-Ku, ketika Aku mengambil yang dicintainya dari kalangan orang-orang yang ada di muka bumi ini dan dia mengharapkan balasan, kecuali Surga”.
Disebutkan dalam al-Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya: “Barangsiapa dari kalangan umatku yang mempunyai dua orang anak yang meninggal dunia mendahuluinya (farataan), Allah memasukkannya ke Surga”. Aisyah (r) bertanya, “Bagaimana kalau yang meninggal dunia satu anak saja?” Nabi (s) menjawab, “Dan juga yang mempunyai satu anak yang meninggal dunia, kau wanita yang diberkati!” Aisyah (r) menjawab lagi, “Dan (bagaimana dengan yang) tidak mempunyai anak yang meninggal dunia (farataan)?” Beliau (s) menjawab, “Aku adalah farataan bagi umatku. Mereka tidaklah lebih menderita dibandingkan dengan deritaku.”
Lihatlah bagaimana beliau (s) menginginkan agar semua orang mendapat manfaat terbesar {Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam} (QS 21:107). Dalam Ahmad, al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, Nabi (s) bersabda, “Siapa saja yang memiliki tiga anak yang belum mencapai akil balig dan ketiganya meninggal dunia mendahului orang tuanya, maka anak-anaknya tersebut akan menjadi benteng yang kuat bagi orang tuanya dari api neraka [di akhirat kelak]”. Abu Dzar berkata, “Aku telah kehilangan kedua anakku”. Nabi (s) mengatakan, “Demikian juga untuk dua orang anak”. Ubay bin Ka’ab (r) berkata, “Aku telah kehilangan satu anakku”. Nabi (s) mengatakan, “Demikian juga untuk satu anak; asalkan bisa bersabar pada saat mengalami peristiwa ini”.
Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud (r).Dalam Musnad dari ‘Abd bin Humaidi diriwatkan dari Mu’adz (r), Nabi (s) bersabda, “Tidaklah sepasang Muslim kehilangan tiga orang anaknya kecuali Allah akan menjadikan kedua orang tuanya ini mamasuki surga dengan karunia rahmat-Nya atas mereka”. Mereka (para sahabat, penerj.) menanyakan, ”Bagaimana dengan dua anak, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Juga untuk dua orang anak”. Mereka bertanya lagi, “Dan bagaimana dengan satu orang anak?” Beliau menjawab, “(Walau) anak yang meninggal dunia karena keguguran kandungan pasti akan menarik ibunya (dan ayahnya, lihat di bawah ini) dengan tali pusarnya ke Surga!” Nabi (s) bersabda, “Anak yang meninggal dunia karena keguguran kandungan akan mengganggu Tuhannya Yang Maha Mulia lagi Maha Kuasa ketika Dia akan memasukkan kedua orangtuanya ke dalam Neraka sampai dikatakan,”Wahai anak yang meninggal dunia dalam keguguran kandungan dan yang mengganggu Tuhannya! Bawa masuk ayahmu dan ibumu ke dalam Surga”.
Lalu mereka akan menarik orangtuanya dengan menggunakan tali pusarnya sampai kedua orangtuanya masuk ke dalam Surga”. Ibnu Majah dan Abu Ya’la meriwayatkan dari ‘Ali (kw).Dan lagi, “Demi yang jiwaku ada di Tangan-Nya, sungguh seorang anak yang meninggal karena keguguran kandungan pasti akan menyeret ibunya dengan tali pusarnya ke Surga, asalkan dia mengharapkan balasan [atas KESABARANNYA]”. Ibnu Majah dan Ahmad diriwayatkan dari Mu’adz (r). Dan beliau (s) bersabda, “Anak-anak kecil kalian adalah layaknya jentik-jentik (da’amiis) Surga. Mereka akan menemui orang tua mereka dan memegang erat pakaian atau tangan orang tua mereka hingga pada akhirnya Allah memasukkan mereka ke Surga”, Shahih Muslim. Pernahkah kalian menyaksikan rahmat dan ganjaran kebaikan yang seperti ini? Sebagaimana guru kami Dr. Samir al-Nass menunjukkan dalam buku terbarunya, al-Tawassul, ini adalah sejenis wasilah atau “cara penyelamatan” yang langsung terjadi tanpa didahului adanya permohonan walau sedikitpun, perbuatan/amal saleh, atau bahkan pahala dari yang mendapatkannya (yang mendapatkan keselamatan dari api neraka dengan cara ini, penerj.).
Hal ini ditegaskan dalam Qur’an dan Sunnah, wal-Hamdu liLlah. Sampai-sampai Nabi (s) bersabda, “Aku bersumpah bahwa anakku yang meninggal dunia mendahuluiku karena keguguran dalam kandungan adalah lebih kusukai daripada membesarkan (anak itu sehingga menjadi seorang, penerj.) ksatria perkasa yang menyelamatkanku”. Diriwayatkan Ibnu Majah dari Abu Hurayrah. Ketabahan dalam iman dan pasrah berserah diri dalam rida – penerimaan mutlak (atas Kehendak dan Ketentuan Allah (swt), penerj.) – atas kehilangan seorang anak mensyaratkan kekuatan karakter yang luar biasa karena sesungguhnya SABAR membawa ganjaran pahala yang sangat besar dan kesulitan yang ditimbulkannya memberikan ganjaran pahala yang lebih banyak lagi”. “Dan barangsiapa yang yatasabbaru (= yaitu yang bersusah payah mencoba bertahan dalam kesabaran), Allah akan mengaruniai mereka SABAR, dan tidak ada karunia yang lebih besar daripada SABAR.
Dinyatakan dalam lima buku. Karena begitu indahnya (hal ini, yaitu tentang SABAR, penerj.) maka Ayat yang luar biasa ini menyatakan {Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan disempurnakan pahalanya tanpa batas} (QS 39:10)Karenanya Ummul Darda’ mengatakan: “Mereka yang menerima dengan senang hati segala ketentuan Ilahiah akan mendapat derajat di Surga yang bahkan para Syuhada pun menginginkannya di Hari Kiamat”. Ini, tak diragukan lagi pasti didengarnya dari mulut yang penuh berkah (maksudnya dari Nabi (s), penerj.). Nafi’ mengatakan ketika anak dari Ibnu ‘Umar sedang menderita sakit, Ibnu ‘Umar sangatlah terpengaruh emosinya sehingga orang-orang takut beliau menjadi tidak waras jika terjadi sesuatu pada anaknya.
Lalu sang anak meninggal dunia dan Ibnu ‘Umar tersenyum ketika berjalan pulang dari pemakaman anaknya. Ketika ditanya mengapa, beliau menjawab, “[Kematian] ini bukanlah suatu rahmat baginya dan ketika hal itu ditentukan oleh Allah (swt) maka aku rida dengan hal itu”.‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata kepada anak laki-lakinya yang sedang sekarat, ”{Harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia} (QS 18:46) dan engkau anakku adalah perhiasaan terbaik! {Tetapi} hari ini harapanku adalah engkau berada di antara {amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan} (QS 18:46)!” Hanya sekali saja Fudayl bin ‘Iyad pernah terlihat tersenyum, yaitu setelah kematian anaknya dan jawabannya kepada orang-orang di sekitarnya adalah, “Allah menyukai sesuatu dan aku menyukai yang Allah sukai”.
Apa yang dikehendaki Allah bukanlah hanya menaikkan derajat tapi juga untuk menghapus dosa-dosa. Nabi (s) bersabda, “Tidaklah seorang mukmin diuji dengan kelelahan, tidak juga dengan penyakit, tidak juga dengan kecemasan, tidak juga dengan kesusahan, tidak juga dengan kerugian, tidak juga dengan penderitaan/kedukaan – bahkan tidak juga dengan sebilah duri yang menusuk mereka kecuali Allah (swt) menghapus beberapa dosa dengannya!” Al-Bukhari dan Muslim. Di lain kesempatan beliau (s) mengguncang-guncang sebuah pohon sampai dedaunannya jatuh berserakan di sekitarnya dan berkata, “Kesulitan-kesulitan dan penderitaan lebih cepat dalam menghapuskan dosa-dosa umat manusia daripada apa yang aku lakukan atas (membuat dedaunan jatuh dari) pohon ini”.
Musnad Abi Ya’la dan Abi al-Dunya. Sumber dari semua keterangan di atas: Ibnu Nasir al-Din al-Dimashqi, _Bardu al-Akbad ‘an Faqd al-Awlad_ (“Pelipur lara bagi yang Hidup atas Kematian Anak-anaknya”), ed. `Abd al-Jalil al-`Ata (Damascus: Dar al-Nu`man, 1992). Semoga Allah mengampuni dan menyelamatkan kita, semoga Dia menjauhkan penderitaan dari kita dengan tanpa mengurangi sedikitpun pahala kita – Dia Maha Mengetahui betapa lemahnya kita ketika kita diciptakan-Nya – dan semoga Dia memasukkan kita dengan selamat ke Surga dan tanpa dicederai oleh godaan dan cobaan.
Haji Gibril GF Haddad Qasyoun/at/ziplip.com [14 May 2003] http://www.livingislam.org/fiqhi/fiqha_e88.html
atau hal itu bisa saja terjadi karena telur perempuan dan sperma laki-laki tidaklah cukup kokoh (dalam menyatu, penerj.)?
Karena saya heran mengapa Tuhan mengaruniai seorang bayi tapi kemudian mengambilnya kembali sebelum prosesnya berjalan sempurna? Saya sungguh ingin mengetahui apa-apa saja yang telah dibahas tentang hal ini karena dengan demikian akan cukup menenteramkan pikiran saya. Terima kasih.
Jawab: Wa `alaykum as-Salam wa rahmatullah, Ilmu kedokteran mungkin saja memberikan penjelasan ini atau itu tetapi kita percaya bahwa celaka yang disebabkan oleh jin dan mata setan adalah sesuatu yang nyata tapi bisa tidak membahayakan kita kalau kita taat dan berzikir baik secara umum maupun yang khusus; tapi alasan yang paling mendasar adalah Qadar.
Allah (swt) menciptakan kita dan menetapkan umur kita. Dia menguji kita dengan kesenangan dan penderitaan {dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan} (QS 94: 5-6), menebus dosa-dosa kita dan meninggikan derajat kita di Hadirat-Nya. {Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan; dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadanya-Nyalah kami kembali”. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.} (QS 2: 155-157).
Kehilangan adalah tentang KESABARAN seorang hamba dan CINTA Sang Pencipta. Allah (swt) mencintai seseorang karena luasnya kesabaran-Nya sebagaimana Dia berfirman: {Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar} (QS 3:146) dan Dia bersama mereka, menolong mereka: {Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar} (QS 2: 153, 2:249, 8:46, 8:66). Nabi (s) bersabda, “Seseorang bisa saja belum mencapai derajat (maqam) yang tinggi sebagaimana yang Allah kehendaki karena kurangnya amal saleh mereka, sehingga Allah tak henti menguji mereka dengan hal-hal yang tidak mereka sukai, sampai Dia menjadikan mereka mencapainya (mencapai derajat/maqam yang tinggi itu, penerj.)” Shahih Ibn Hibban, Musnad Abu Ya`la.
Dan beliau (s) juga berkata kepada perempuan yang sedang sangat berduka,”SABAR itu hanyalah pada awal peristiwa saja”. Waktu membawa pelipur lara tapi kejutan pertama (yaitu saat pertama kali kita menghadapi kejadian yang memerlukan kesabaran kita, penerj.) adalah ujian yang sesungguhnya karena secara alaminya hal itu mendorong kita ke arah pembangkangan atas perintah Ilahi. Orang Beriman mempunyai perlindungan atas gerak hati yang wajar seperti sebagaimana Allah (swt) telah berfirman, {Tidak ada musibah menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada kalbunya} (QS 64:11).
Para Awliya Allah adalah mereka yang, ketika yang lainnya jatuh tersungkur, mereka tetap tegar dan berpikiran jernih dalam penyerahan diri mereka: {dan siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka tak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati} (QS 2:38), {Sesungguhnya Awliya Allah adalah mereka yang tak ada ketakutan atas mereka, tidak pula mereka bersedih hati} (QS 10:62). Dalam al-Bukhari, al-Nasa’i dan Ahmad, Nabi (s) bersabda, “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Kuasa berfirman, ‘Tidak ada ganjaran lain bagi hamba-Ku, ketika Aku mengambil yang dicintainya dari kalangan orang-orang yang ada di muka bumi ini dan dia mengharapkan balasan, kecuali Surga”.
Disebutkan dalam al-Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya: “Barangsiapa dari kalangan umatku yang mempunyai dua orang anak yang meninggal dunia mendahuluinya (farataan), Allah memasukkannya ke Surga”. Aisyah (r) bertanya, “Bagaimana kalau yang meninggal dunia satu anak saja?” Nabi (s) menjawab, “Dan juga yang mempunyai satu anak yang meninggal dunia, kau wanita yang diberkati!” Aisyah (r) menjawab lagi, “Dan (bagaimana dengan yang) tidak mempunyai anak yang meninggal dunia (farataan)?” Beliau (s) menjawab, “Aku adalah farataan bagi umatku. Mereka tidaklah lebih menderita dibandingkan dengan deritaku.”
Lihatlah bagaimana beliau (s) menginginkan agar semua orang mendapat manfaat terbesar {Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam} (QS 21:107). Dalam Ahmad, al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, Nabi (s) bersabda, “Siapa saja yang memiliki tiga anak yang belum mencapai akil balig dan ketiganya meninggal dunia mendahului orang tuanya, maka anak-anaknya tersebut akan menjadi benteng yang kuat bagi orang tuanya dari api neraka [di akhirat kelak]”. Abu Dzar berkata, “Aku telah kehilangan kedua anakku”. Nabi (s) mengatakan, “Demikian juga untuk dua orang anak”. Ubay bin Ka’ab (r) berkata, “Aku telah kehilangan satu anakku”. Nabi (s) mengatakan, “Demikian juga untuk satu anak; asalkan bisa bersabar pada saat mengalami peristiwa ini”.
Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud (r).Dalam Musnad dari ‘Abd bin Humaidi diriwatkan dari Mu’adz (r), Nabi (s) bersabda, “Tidaklah sepasang Muslim kehilangan tiga orang anaknya kecuali Allah akan menjadikan kedua orang tuanya ini mamasuki surga dengan karunia rahmat-Nya atas mereka”. Mereka (para sahabat, penerj.) menanyakan, ”Bagaimana dengan dua anak, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Juga untuk dua orang anak”. Mereka bertanya lagi, “Dan bagaimana dengan satu orang anak?” Beliau menjawab, “(Walau) anak yang meninggal dunia karena keguguran kandungan pasti akan menarik ibunya (dan ayahnya, lihat di bawah ini) dengan tali pusarnya ke Surga!” Nabi (s) bersabda, “Anak yang meninggal dunia karena keguguran kandungan akan mengganggu Tuhannya Yang Maha Mulia lagi Maha Kuasa ketika Dia akan memasukkan kedua orangtuanya ke dalam Neraka sampai dikatakan,”Wahai anak yang meninggal dunia dalam keguguran kandungan dan yang mengganggu Tuhannya! Bawa masuk ayahmu dan ibumu ke dalam Surga”.
Lalu mereka akan menarik orangtuanya dengan menggunakan tali pusarnya sampai kedua orangtuanya masuk ke dalam Surga”. Ibnu Majah dan Abu Ya’la meriwayatkan dari ‘Ali (kw).Dan lagi, “Demi yang jiwaku ada di Tangan-Nya, sungguh seorang anak yang meninggal karena keguguran kandungan pasti akan menyeret ibunya dengan tali pusarnya ke Surga, asalkan dia mengharapkan balasan [atas KESABARANNYA]”. Ibnu Majah dan Ahmad diriwayatkan dari Mu’adz (r). Dan beliau (s) bersabda, “Anak-anak kecil kalian adalah layaknya jentik-jentik (da’amiis) Surga. Mereka akan menemui orang tua mereka dan memegang erat pakaian atau tangan orang tua mereka hingga pada akhirnya Allah memasukkan mereka ke Surga”, Shahih Muslim. Pernahkah kalian menyaksikan rahmat dan ganjaran kebaikan yang seperti ini? Sebagaimana guru kami Dr. Samir al-Nass menunjukkan dalam buku terbarunya, al-Tawassul, ini adalah sejenis wasilah atau “cara penyelamatan” yang langsung terjadi tanpa didahului adanya permohonan walau sedikitpun, perbuatan/amal saleh, atau bahkan pahala dari yang mendapatkannya (yang mendapatkan keselamatan dari api neraka dengan cara ini, penerj.).
Hal ini ditegaskan dalam Qur’an dan Sunnah, wal-Hamdu liLlah. Sampai-sampai Nabi (s) bersabda, “Aku bersumpah bahwa anakku yang meninggal dunia mendahuluiku karena keguguran dalam kandungan adalah lebih kusukai daripada membesarkan (anak itu sehingga menjadi seorang, penerj.) ksatria perkasa yang menyelamatkanku”. Diriwayatkan Ibnu Majah dari Abu Hurayrah. Ketabahan dalam iman dan pasrah berserah diri dalam rida – penerimaan mutlak (atas Kehendak dan Ketentuan Allah (swt), penerj.) – atas kehilangan seorang anak mensyaratkan kekuatan karakter yang luar biasa karena sesungguhnya SABAR membawa ganjaran pahala yang sangat besar dan kesulitan yang ditimbulkannya memberikan ganjaran pahala yang lebih banyak lagi”. “Dan barangsiapa yang yatasabbaru (= yaitu yang bersusah payah mencoba bertahan dalam kesabaran), Allah akan mengaruniai mereka SABAR, dan tidak ada karunia yang lebih besar daripada SABAR.
Dinyatakan dalam lima buku. Karena begitu indahnya (hal ini, yaitu tentang SABAR, penerj.) maka Ayat yang luar biasa ini menyatakan {Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan disempurnakan pahalanya tanpa batas} (QS 39:10)Karenanya Ummul Darda’ mengatakan: “Mereka yang menerima dengan senang hati segala ketentuan Ilahiah akan mendapat derajat di Surga yang bahkan para Syuhada pun menginginkannya di Hari Kiamat”. Ini, tak diragukan lagi pasti didengarnya dari mulut yang penuh berkah (maksudnya dari Nabi (s), penerj.). Nafi’ mengatakan ketika anak dari Ibnu ‘Umar sedang menderita sakit, Ibnu ‘Umar sangatlah terpengaruh emosinya sehingga orang-orang takut beliau menjadi tidak waras jika terjadi sesuatu pada anaknya.
Lalu sang anak meninggal dunia dan Ibnu ‘Umar tersenyum ketika berjalan pulang dari pemakaman anaknya. Ketika ditanya mengapa, beliau menjawab, “[Kematian] ini bukanlah suatu rahmat baginya dan ketika hal itu ditentukan oleh Allah (swt) maka aku rida dengan hal itu”.‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata kepada anak laki-lakinya yang sedang sekarat, ”{Harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia} (QS 18:46) dan engkau anakku adalah perhiasaan terbaik! {Tetapi} hari ini harapanku adalah engkau berada di antara {amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan} (QS 18:46)!” Hanya sekali saja Fudayl bin ‘Iyad pernah terlihat tersenyum, yaitu setelah kematian anaknya dan jawabannya kepada orang-orang di sekitarnya adalah, “Allah menyukai sesuatu dan aku menyukai yang Allah sukai”.
Apa yang dikehendaki Allah bukanlah hanya menaikkan derajat tapi juga untuk menghapus dosa-dosa. Nabi (s) bersabda, “Tidaklah seorang mukmin diuji dengan kelelahan, tidak juga dengan penyakit, tidak juga dengan kecemasan, tidak juga dengan kesusahan, tidak juga dengan kerugian, tidak juga dengan penderitaan/kedukaan – bahkan tidak juga dengan sebilah duri yang menusuk mereka kecuali Allah (swt) menghapus beberapa dosa dengannya!” Al-Bukhari dan Muslim. Di lain kesempatan beliau (s) mengguncang-guncang sebuah pohon sampai dedaunannya jatuh berserakan di sekitarnya dan berkata, “Kesulitan-kesulitan dan penderitaan lebih cepat dalam menghapuskan dosa-dosa umat manusia daripada apa yang aku lakukan atas (membuat dedaunan jatuh dari) pohon ini”.
Musnad Abi Ya’la dan Abi al-Dunya. Sumber dari semua keterangan di atas: Ibnu Nasir al-Din al-Dimashqi, _Bardu al-Akbad ‘an Faqd al-Awlad_ (“Pelipur lara bagi yang Hidup atas Kematian Anak-anaknya”), ed. `Abd al-Jalil al-`Ata (Damascus: Dar al-Nu`man, 1992). Semoga Allah mengampuni dan menyelamatkan kita, semoga Dia menjauhkan penderitaan dari kita dengan tanpa mengurangi sedikitpun pahala kita – Dia Maha Mengetahui betapa lemahnya kita ketika kita diciptakan-Nya – dan semoga Dia memasukkan kita dengan selamat ke Surga dan tanpa dicederai oleh godaan dan cobaan.
Haji Gibril GF Haddad Qasyoun/at/ziplip.com [14 May 2003] http://www.livingislam.org/fiqhi/fiqha_e88.html
Selasa, 04 Oktober 2011
Jangan menangis cinta
Sedulurku tercinta,ada seorang laki-laki yang bernama 'Umran bin Hashim menderita busung perutnya.Ia pun hanya mampu tidur telentang selama tiga puluh tahun,ya tiga puluh tahun,30 tahun.Ia tidak bisa duduk dan tidak bisa berdiri.Untuk buang air pun ia tidak mampu,sehingga disiapkan di bawah ranjangnya tempat khusus yang terbuat dari pelepah kurma. Suatu ketika kakaknya yang paling tua datang menjenguk,ia pun hanya dapat menangis melihat kondisi adiknya yang begitu parah,maka sang adik pun bertanya:Mengapa engkau menangis?Jawab sang kakak:Karena aku melihat engkau dalam keadaan yang sangat memilukan.
Jangan menangis--jawab sang adik,sesungguhnya apa yang menjadi kebahagiaanku ini tentunya yang paling dicintai Allah,aku katakan kepadamu satu hal sehingga engkau dapat mengambil pelajaran dari hal ini,dan jangan engkau ceritakan kepada manusia kecuali aku telah mati: sesungguhnya para malaikat sedang mengunjungiku dan aku sambut mereka,mereka mengucapkan salam kepadaku dan aku dengarkan salam mereka.
Kisah ini bisa menjadi cermin bagi siapa pun yang merasa menderita,menderita karena sakit,menderita karena patah hati,menderita karena bangkrut,menderita karena dihina,menderita karena diolok-olok,menderita karena diremeh-remehkan,menderita karena tak diperhatikan,menderita karena,menderita karena,menderita karena,menderita karena,menderita karena. Semuanya bagian dari hal yang tak dikehendakinya,namun keyakinan akan Dia mengantarkan bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini merupakan kehendakNya yang terbaik itu,kesadaran ini akan mengantarkan manusia jauh dari keputusasaan,jauh dari keluhan,jauh dari kebencian karena ia menyadari betul bahwa tidaklah Allah menginginkan kejelekan pada diri setiap hambaNya,Dia tidak membebani hamba kecuali di atas kemampuannya itu.
Dari sini bisa kita dengar wasiat Lukmanul Hakim kepada anaknya: Wahai anakku,ketahuilah bahwa jikalau emas itu diuji dengan api,maka manusia akan diuji dengan bala'.Pernah,ada wanita hitam datang kepada Rasulullah saw dan berkata:Aku menderita penyakit ayan,Wahai Rasululllah!Aku merasa malu,maka doakan aku! Kemudian Rasulullah saw menjawab:Jika kamu bersabar maka bagimulah pahala surga,dan jika engkau ingin maka akan aku mohonkan kepadaNya agar menyembuhkanmu.Lalu wanita hitam itu berkata:Aku akan bersabar wahai Rasulullah,aku juga malu kepadaNya,maka mohonkanlah kepadaNya agar aku tidak malu.
Maka beliau pun berdoa memohonkan kepadaNya untuk perempuan itu,dengan memilih pahala disisiNya. Pada suatu ketika Abu Said Al-Khudhry menghadap Rasulullah saw,yang saat itu sedang menderita demam tinggi,Abu Said berkata:Wahai Rasulullah,betapa demam yang kau derita ini sangat tinggi!Kanjeng Nabi saw bekata:Semakin berat ujian yang ditimpakan kepada seseorang,sesungguhnya banyak pula pahala yang akan diraih.Wahai Baginda--tanya Abu Said,katakan kepadaku siapakah orang yang paling berat mendapat cobaan? Para Nabi--jawab beliau.Siapa lagi wahai Rasululllah--tanya sahabatnya itu.Para Ulama--jawab beliau.
Lantas--tanya sahabatnya,siapa lagi?Kemudian--jawab Kanjeng Nabi saw,para kaum shaleh yang konon ada di antara mereka diuji dengan kemiskinan sampai-sampai tiada lagi harta yang melekat pada dirinya kecuali hanya ibadah,ada dari mereka yang diuji dengan kutu hingga ia pun mati,dan kebahagiaan mereka akan ujian tersebut lebih tinggi daripada kebahagiaan kalian atas anugrah....
Kawan-kawan,seberapa berat sih deritamu,seberapa lama sih deritamu,seberapa sakit sih deritamu,seberapa,seberapa,seberapa.Pada ujungnya tetap aku bisikkan lembut di hatimu:jangan menangis,jangan menangis,jangan menangis--jangan menangis Cinta.Bila ternyata masih ada suara ketidak relaan di hatimu,itu tanda bahwa kau mereguk rahmanNya,dan ujungnya nanti akan sampai pada rahimNya,pasti....Barokallah!!!
Jangan menangis--jawab sang adik,sesungguhnya apa yang menjadi kebahagiaanku ini tentunya yang paling dicintai Allah,aku katakan kepadamu satu hal sehingga engkau dapat mengambil pelajaran dari hal ini,dan jangan engkau ceritakan kepada manusia kecuali aku telah mati: sesungguhnya para malaikat sedang mengunjungiku dan aku sambut mereka,mereka mengucapkan salam kepadaku dan aku dengarkan salam mereka.
Kisah ini bisa menjadi cermin bagi siapa pun yang merasa menderita,menderita karena sakit,menderita karena patah hati,menderita karena bangkrut,menderita karena dihina,menderita karena diolok-olok,menderita karena diremeh-remehkan,menderita karena tak diperhatikan,menderita karena,menderita karena,menderita karena,menderita karena,menderita karena. Semuanya bagian dari hal yang tak dikehendakinya,namun keyakinan akan Dia mengantarkan bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini merupakan kehendakNya yang terbaik itu,kesadaran ini akan mengantarkan manusia jauh dari keputusasaan,jauh dari keluhan,jauh dari kebencian karena ia menyadari betul bahwa tidaklah Allah menginginkan kejelekan pada diri setiap hambaNya,Dia tidak membebani hamba kecuali di atas kemampuannya itu.
Dari sini bisa kita dengar wasiat Lukmanul Hakim kepada anaknya: Wahai anakku,ketahuilah bahwa jikalau emas itu diuji dengan api,maka manusia akan diuji dengan bala'.Pernah,ada wanita hitam datang kepada Rasulullah saw dan berkata:Aku menderita penyakit ayan,Wahai Rasululllah!Aku merasa malu,maka doakan aku! Kemudian Rasulullah saw menjawab:Jika kamu bersabar maka bagimulah pahala surga,dan jika engkau ingin maka akan aku mohonkan kepadaNya agar menyembuhkanmu.Lalu wanita hitam itu berkata:Aku akan bersabar wahai Rasulullah,aku juga malu kepadaNya,maka mohonkanlah kepadaNya agar aku tidak malu.
Maka beliau pun berdoa memohonkan kepadaNya untuk perempuan itu,dengan memilih pahala disisiNya. Pada suatu ketika Abu Said Al-Khudhry menghadap Rasulullah saw,yang saat itu sedang menderita demam tinggi,Abu Said berkata:Wahai Rasulullah,betapa demam yang kau derita ini sangat tinggi!Kanjeng Nabi saw bekata:Semakin berat ujian yang ditimpakan kepada seseorang,sesungguhnya banyak pula pahala yang akan diraih.Wahai Baginda--tanya Abu Said,katakan kepadaku siapakah orang yang paling berat mendapat cobaan? Para Nabi--jawab beliau.Siapa lagi wahai Rasululllah--tanya sahabatnya itu.Para Ulama--jawab beliau.
Lantas--tanya sahabatnya,siapa lagi?Kemudian--jawab Kanjeng Nabi saw,para kaum shaleh yang konon ada di antara mereka diuji dengan kemiskinan sampai-sampai tiada lagi harta yang melekat pada dirinya kecuali hanya ibadah,ada dari mereka yang diuji dengan kutu hingga ia pun mati,dan kebahagiaan mereka akan ujian tersebut lebih tinggi daripada kebahagiaan kalian atas anugrah....
Kawan-kawan,seberapa berat sih deritamu,seberapa lama sih deritamu,seberapa sakit sih deritamu,seberapa,seberapa,seberapa.Pada ujungnya tetap aku bisikkan lembut di hatimu:jangan menangis,jangan menangis,jangan menangis--jangan menangis Cinta.Bila ternyata masih ada suara ketidak relaan di hatimu,itu tanda bahwa kau mereguk rahmanNya,dan ujungnya nanti akan sampai pada rahimNya,pasti....Barokallah!!!
Kisah Elang Sang Raja
Alkisah, terbanglah seekor elang,
meninggalkan istana Raja,
sampai dia tersesat
ke rumah seorang nenek tua;
yang sedang mengaduk tepung,
di lantai rumahnya.
Si nenek sedang menyiapkan makanan
bagi anak-anaknya, ketika dilihatnya
elang ningrat yang anggun itu.
Segera kaki elang itu diikatnya,
dipangkasnya sayapnya,
dipotongya cakarnya,
dan diberinya jerami untuk makanan.
“Pastilah orang salah merawatmu,” katanya,
“sayapmu terlalu lebar, dan cakarmu panjang.”
“Itulah sebabnya engkau sakit, dan kini
aku akan merawatmu.”
Ketahuilah sahabat,
demikianlah cara orang bodoh
memperlakukanmu: orang bodoh
sesat jalan.
Sang Raja mencari elangnya kesana kemari,
sampai akhirnya dia sampai ke gubuk si nenek.
Dilihatnya elangnya disitu,
dibalik asap dan debu,
keadaannya sangat menyedihkan.
Sang Raja berkata, “ini adalah ganjaran
dari perbuatanmu, engkau tidak teguh
dalam bersetia kepadaku.”
“Mengapakah engkau tinggalkan Taman dan
tinggal dalam Api ini; apakah tak kau simak:
‘dan tidaklah sama antara penghuni an-Naar
dengan penghuni al-Jannah.’ ”
Ini adalah ganjaran yang tepat,
bagi mereka yang secara tak-sadar
telah meninggalkan keakraban
dengan Sang Raja; malahan tinggal
di rumah sang nenek tua.
Si elang menggosokkan sayapnya ke tangan
Sang Raja; dia berkata tanpa kata,
“Aku telah berdosa.
Wahai Sang Raja nan Pemurah,
jika tak kau terima sesuatupun, kecuali
hal-hal yang baik, maka kemanakah
seorang pendosa memohon,
kepada siapakah merintih?”
Kemurahan Sang Raja
menarik hati jiwa yang sarat dosa,
karena Sang Raja mengubah
semua hal buruk menjadi indah.
Hindarilah berbuat buruk,
karena, bahkan amal terbaik kita pun
tampak buruk di hadapan kecantikan
Sang Kekasih.
Jika kau anggap pengabdianmu berharga,
telah kau kibarkan bendera dosa.
Janganlah engkau mengandalkan
puja-puji dan do’amu, karena itu dapat
membuat hatimu angkuh.
Kau anggap dirimu telah langsung bicara
dengan Rabb: wahai, tak terhitung jumlahnya
mereka yang terpelanting menjauh dari Rabb
karena prasangka ini.
Sungguhpun Sang Raja sama-sama duduk
bersamamu di lantai, tahu dirilah: duduklah
dengan takzim dan merendahkan diri.
Sang Elang berkata,
“Wahai Raja, aku insyaf,
aku kembali,
kuperbarui keislamanku.
Mereka yang mabuk karenamu,
lalu menabrak kesana kemari,
tak lurus lagi jalan kembalinya,
sudilah kiranya Engkau mengampuni.
Walaupun cakarku telah dipotong,
ketika Engkau milikku,
akan kurobek genggaman sang matahari.
Walaupun sayapku telah dipangkas,
ketika Engkau menerimaku,
lengkung langit melambat karena takjub
kepada kecepatan terbangku.
Jika engkau anugerahi aku sebuah sabuk,
gunung kan kucabut;
jika engkau anugerahi aku sebatang pena,
kan kupatahkan tiang-tiang bendera.
Bagaimanapun, tubuhku ini tidaklah kalah
jika dibandingkan dengan serangga itu:
dengan sayapku ini akan kutantang
kerajaan Namrud.
Kalaupun tubuhku selemah burung-burung
‘ababiil, dan lawan-lawanku setangguh
armada gajah,
Jika kulempar tanah-liat panas,
sebesar biji kenari, bagi mereka itu bagai
seratus rudal ballista”
Musa berperang
bersenjatakan sebatang tongkat,
menundukkan Fir’aun
dengan bala-tentara berpedang.
Setiap nabi berjuang
dengan hanya mengandalkan pertolongan Rabb:
berperang seorang diri,
mengalahkan seluruh dunia.
Ketika Nuh memohonkan kepada Rabb-nya
sebilah pedang,
dengan perintah-Nya, gelombang banjir
menjadi pedang murka-Nya.
Apakah artinya tentara Bumi
bagi seorang Muhammad?
Ditatapnya rembulan di langit,
yang lalu terbelah.
Agar para ahli nujum yang jahil menyadari
tentang masa umat mereka,
dan dimulainya masa umat Sang Rembulan.
Terbelah itu tentang selesainya masa umat mereka;
karena bahkan Musa kalamullah a.s,
takjub akan umat Sang Rembulan.
Ketika Musa melihat cemerlangnya cahaya
umat Muhammad, yang memancar ketika terbit
fajar Hari Agama.
Dia berkata, “Yaa Rabb, umat siapa itu,
yang begitu dirahmati? Bahkan tak terperikan
oleh rahmat: pada umat itu terdapat visi
akan Engkau?”
Lemparkanlah ke-Musa-anmu
dalam samudera Sang Waktu, dan tampillah
di tengah umat Muhammad.
Rabb bersabda, “Wahai Musa,
Ku-perlihatkan tentang mereka kepadamu,
agar bagimu terbuka jalan penyatuan spiritual
dengan Muhammad,
Karena masamu ini, yaa Kalim,
terpisah jauh dengan masa Muhammad,
tidaklah itu terjangkau olehmu:
tariklah kembali kakimu,
selimut masa ini terlalu panjang bagimu.
Dalam kasih-Ku,
Kuperlihatkan sepotong roti bagi abdi-Ku,
agar kehendak akan itu akan menghidupkan
rintihannya.
Bagai seorang ibu yang menyentuh hidung
bayinya, agar dia terbangun dan segera
mencari makanan,
Karena sang bayi dapat tanpa sadar tertidur
dalam keadaan lapar;
Ketika bangun, segera sang bayi menuju
payudara ibunya, untuk mendapat susu.
Aku adalah sebuah Khazanah,
sebuah Rahmat Tersembunyi,
karenanya Kukirimkan seorang Imam
yang terpandu dengan Haqq.”
Semua kemurahan Ilahiah yang kau cari
dengan segenap dirimu;
Dia memperlihatkannya padamu,
agar engkau mendambakannya.
Berapa banyak berhala
Muhammad hancurkan, agar umat dapat
memohon, “yaa Rabb, yaa Rabb!”
Tanpa upaya Muhammad itu,
engkau--seperti para penghulumu--
akan menyembah berhala.
Kepalamu itu telah diselamatkan
dari menyembah berhala,
agar engkau dapat ikut
bersama sekalian umat
mengaku berhutang-budi kepadanya.
Jika engkau berbicara,
nyatakanlah terimakasihmu kepadanya,
bahwa engkau telah diselamatkan:
agar diselamatkannya pula engkau
dari berhala di dalam dirimu.
Kepalamu memang telah diselamatkan
dari tunduk kepada berhala; tapi adakah
telah kau peroleh kekuatan darinya,
agar qalb-mu juga selamat?
Kau lupa berterimakasih kepada ad-Diin,
karena kau peroleh itu secara cuma-cuma,
warisan dari ayahmu.
Orang yang memperolehnya sebagai warisan
takkan menghargainya.
Seorang Rustam mengalami derita yang hebat
untuk mendapatkannya; tak bisa itu
dibandingkan seorang Zal yang tanpa-usaha
memperolehnya.
“Ketika Kusebabkan seseorang merintih,
maka bangkitlah Rahmat-Ku: yang menjerit itu
akan meminum anugerah-Ku.
Jika Aku tak berkehendak memberi sesuatu,
takkan hal itu Kuperlihatkan kepada sang hamba;
tapi ketika telah kuciutkan qalb-nya dengan
kesedihan, makan akan Kuluaskan
dengan kegembiraan.
Rahmat-Ku bergantung pada tangisan yang haqq:
ketika air-mata yang benar menitik,
bangkit menjemput gelombang samudera
Rahmat-Ku.”
Minggu, 13 Maret 2011
Tsunami Yang Lebih Besar Akan Terjadi di 70 Negara
Kematian Akibat Tsunami yang Lebih Besar Akan Terjadi
(Maulana Shaykh Muhammad Hisham Kabbani qs)
Bismillah hirRohmaanir Rohim
”Kematian datang tanpa pemberitahuan awal,
ia datang kapan saja, di mana saja,
pada kesempatan apa saja.
“Saat kematian menjelang, tak seorang pun mampu lari darinya. Tapi, jika ‘ajal belum tertulis, bahkan bila seseorang berada di tengah suatu ledakan, di tengah suatu gempa bumi, di tengah suatu samudera, ia pun tetap akan selamat”. “Allah mengambil siapa yang Ia kehendaki. Kita tak tahu mengapa, dan kita pun tak dapat bertanya mengapa”.
A'uudzu billahi minasy syaithanirrajiim. Bismillaahir Rahmaanir Rahiim, Nawaytul Arba'in Nawaytul I'tikaf, Nawaytul Kalwah,Nawaytul 'Uzlah Nawaytur Riyadah,Nawaytus Suluuk, Lillahi ta'alaa Athi'ullaaha wa athi'urrasuula wa ulil amri minkum (QS An Nisa' 4: 59).
( Ba'da dhikr Khatm Khawajagan )
Allah SWT memerintahkan pada kita untuk mematuhi-Nya, untuk mematuhi Nabi/Rasul sall-Allahu ‘alayhi wasallam, dan untuk mematuhi pemimpin kita, atau mereka yang memiliki otoritas (wewenang). Allah SWT tak suka diri kita bila tak patuh.
Allah berfirman: Innaa Nahnu nazzalna dz-dzikraa wa innaa lahuu lahaafizhuun” (QS. Al-Hijr 15:9) Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz Dzikr (Peringatan), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Kami menyimpannya)”. Dzikr (Peringatan) itu diwahyukan hanya pada Nabi suci Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam, tidak kepada siapa pun lainnya. Diwahyukan pada beliau melalui Malaikat Utama Sayyidina Jibril ‘alaihissalam.
Makna umum dari Adz-Dzikr adalah Quran Suci. Itu berarti segala sesuatu yang ada dalam Quran Suci. Itu berarti segala sesuatu yang diciptakan, seluruh makhluq, karena Allah berfirman: “Wa laa rothbin wa laa yaabisin illaa fii kitaabin mubiin” (QS. Al An’aam 6:59) “dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Quran Suci)”. Hidup atau tak-hidup semua ada dalam Al Quran yang Suci.
Al Quran Suci adalah Pengetahuan Ilahiah yang Allah SWT karuniakan dan berikan pada Nabi sall-Allahu alaihi wasallam tentang seluruh makhluk ciptaan, baik yang ada sebelum masa hidup Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam maupun yang hidup setelah masa hidup Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam. Karena itulah, Quran Suci memuat cerita-cerita tentang ummat-ummat terdahulu, dan juga pengetahuan-pengetahuan ilmiah masa depan.
Juga, Hadits Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam adalah juga merupakan wahyu. Allah telah menyebutkan dalam Quran Suci: “Wa maa yanthiqu ‘anil hawa’, in huwa illaa wahyuy yuuhaa” (QS. An-Najm 53:3-4) “dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),”.
‘Ulama Sejati (yaitu Awliya-ullah – para kekasih Allah) mampu untuk mengambil makna atau rahasia dari huruf-huruf, kata-kata, dan kalimat-kalimat dalam Quran Suci. Ulama biasa hanya mendapatkan ilmunya dengan belajar ke sana ke mari (untuk mengetahui apa yang sudah dibicarakan atau sudah ditulis dalam buku-buku). Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam dikaruniai Ilmu oleh Allah, yang kemudian oleh Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam dibagi-bagikan pengetahuan itu pada para Sahabat beliau.
Setiap orang dari sahabat beliau adalah bagai sebuah bintang, seorang pembimbing atau pemandu (bagi kemanusiaan) yang membawa Hadits-hadits yang berbeda yang telah diberikan Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam pada masing-masing dari mereka. Dan para pewaris dari sahabat ini, yaitu Awliya’ullah pun membawa pula Ilmu tersebut.
[Seperti apa yang telah disebutkan dalam suhbat sebelumnya pada tanggal 1 Januari 2005]. Orang-orang tak berdosa turut mati bersama mereka yang berdosa. Kedua golongan ini berada dalam naungan tajalli (manifestasi) dari Nama-Nama Allah. Mereka yang tak berdosa tersebut pergi (mati) bersama mereka yang berdosa.
Mengapa? Ingatlah akan kisah Sayyidina Musa ‘alaihis salam (yang diceritakan pada suhbat sebelumnya) ketika beliau bertanya akan Keadilan Allah. Allah kemudian menyuruh beliau menunggu di hutan. Lalu ratusan semut merayap di kaki beliau. Ketika, satu saja dari semut itu menggigit beliau, beliau segera saja memukul seluruh kelompok semut tersebut hingga tewas.
Kita harus belajar dari kisah ini: Kematian datang tanpa pemberitahuan awal, ia datang kapan saja, di mana saja, pada kesempatan apa saja. Saat ‘ajal (kematian) menjelang, tak seorang pun mampu lari darinya. Tapi, jika ‘ajal belum tertulis, bahkan bila seseorang berada di tengah suatu ledakan, di tengah suatu gempa bumi, di tengah suatu samudera, ia pun tetap akan selamat. Allah mengambil siapa yang Ia kehendaki. Kita tak tahu mengapa, dan kita pun tak dapat bertanya mengapa.
Allah berfirman (dalam ayat yang ditulis di atas), “Kami memelihara Kitab Suci itu hingga Hari Penghakiman (Kiyamat), dan (termasuk) rahasia-rahasia di dalamnya, akan tersimpan. Tersimpan’ berarti untuk dituangkan pada wadah seseorang yang mampu menampungnya dan menyimpannya sampai saatnya ketika (rahasia) itu mesti muncul. Seperti di zaman sekarang, ketika kita ingin menyimpan suatu (data) ke dalam komputer-komputer kita, kita menekan suatu tombol ‘save’ (‘simpan’). Jika kita tidak melakukannya, data kita pun akan hilang. Menyimpan di situ berarti untuk menyimpannya sebagai bentuk frekuensi vibrasi (getaran) yang berbeda.
Teknologi yang tersedia di zaman sekarang, sudah pernah disebutkan oleh Quran Suci pada Nabi kita sall-Allahu ‘alaihi wasallam 1400 tahun yang lalu. Tapi, kita tak mampu memahaminya. [Allah berfirman] “Wa in min syai-in illaa yusabbihuu bihamdihi wa laakin laa tafqahuuna tasbiihahum” (QS Al-Isra’ 17:44), “Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.”
(Pengetahuan Rahasia) itu tersimpan, tapi kita tak mempunyai Teknologi untuk mengambilnya. Allah SWT berfirman (dalam ayat yang sama, bagian awal): “Tusabbihu lahu s-samaawaatu s-sab’u wa l-ardhu wa man fiihinna” [QS Al-Isra’ 17:44] “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah.” Itu bermakna segala sesuatu memuji-Nya, tapi kalian tak mampu memahami puji-pujian mereka. Dalam ayat lain (QS. Al-Hijr 15:9):
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz Dzikr (Peringatan), dan sesungguhnya Kami benar-benar memelihara nya. (Kami menyimpannya)”. Ini bermakna setiap makhluq ciptaan ter’simpan’ dalam Quran Suci. Maknanya, dalam segenap rentang frekuensi dari vibrasi (getaran) yang berbeda-beda. Sebagaimana dalam komputer: kita menyimpan segala sesuatunya berbagai macam data ke dalam komputer sebagai frekuensi dari bilangan dari 0 dan 1
Awliya’ullah, apa yang mereka warisi dalam kalbu mereka dari Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam adalah dalam berbagai frekuensi yang berbeda-beda. Mereka mampu untuk men”decode”-nya dengan menekan “tombol” tertentu à yaitu Asmaul Husna (Nama-nama yang indah dari Allah), dan seluruh pengetahuan itu akan keluar ke suatu ‘layar’ di hadapan mereka, seperti saat ini para pembaca berita memiliki teleprompter di hadapan mereka yang bertuliskan apa-apa yang mesti mereka baca. Apa yang tertulis di teleprompter tersebut berasal dari suatu komputer.
Seluruh bilangan ini adalah dari 0 hingga 1. Bila dirimu menjadi 0, kau pun akan dikaruniai 1, Ilmu atau Pengetahuan itu. (Allah berfirman) “Kami menurunkan nya, dan menyimpannya”. Ini bermakna Kalamullah (Firman-firman Allah) tak akan bisa diubah. Segala sesuatu dalam Al-Quran akan dikeluarkan pada waktunya. Awliya’ mengetahui tentang hal ini.
Karena itu, ketika mereka (Awliya’ullah) melihat bahwa [sebagaimana firman Allah] “Zhaharal fasaadu fi l-barri wa l-bahri bimaa kasabat aydin naas…” [QS.Ar-Ruum 30:41] Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,” mereka pun memohon kepada Allah, yastajiruuna billaah.
Segala sesuatu mensucikan dan memuji Allah. Tasbih-tasbih itu bergerak demikian banyak dan cepat bagai halilintar hingga tasbih tersebut menggerakkan bumi. Demikian banyak Awliya’ullah di daerah itu, dan mereka semua memuji dan memuji tanpa henti hingga pepujian mereka mengguncangkan segala sesuatunya. Saat segala sesuatunya berguncang, segala sesuatu pun akan hilang musnah.
Bumi berotasi pada sumbunya. Saat ia berotasi, tercipta suatu medan magnet yang melindungi Bumi dari radiasi dari luar angkasa. (Catatan penerjemah: mungkin yang diacu di sini adalah sabuk van Allen, suatu sabuk magnetik berbentuk torus yang melindungi bumi dari radiasi kosmis). Allah berfirman dalam Quran Suci di Suurah Al-Anbiya’ (Surah nomor 21): “Wa yaquuluuna mataa hadzal wa’du in kuntum saadiqiin” [QS. 21:38, lihat pula 10:48 dan 36:48] “Mereka berkata: "Kapankah janji itu akan datang, jika kamu sekalian adalah orang-orang yang benar?" Mereka berkata, “Kapan itu akan terjadi…?” “Idzaa Zulzilatil Ardhu Zilzaalahaa” [QS. Az-Zalzalah 99:11]. “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya”
Tsunami di Asia yang baru saja terjadi, hanyalah suatu permulaan. Muhyiddin Ibn ‘Arabi menyebutkan dalam Futuhat al-Makkiyyah, bahwa akan datang suatu masa ketika rambut seorang anak akan tumbuh dengan warna putih (uban)… karena 6 dari 7 orang akan mati. Lihatlah sekarang, para pemimpin itu masih sanggup pergi ke tempat itu (ke Indonesia untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi KTT tentang Tsunami dan meninjau tempat bencana. Apa yang akan terjadi di hadapan kita di masa depan adalah jauh lebih besar, tak akan ada lagi pemimpin-pemimpin yang hidup. Setiap orang akan tewas.
Allah berfirman: “Bal ta’tiihim baghtatan fa-tabhatuhum falaa yastathii’uuna raddahaa wa laa hum yunzharuun” [QS. Al-Anbiya’ 21:40] “Sebenarnya (azab) itu akan datang kepada mereka dengan sekonyong-konyong lalu membuat mereka menjadi panik, maka mereka tidak sanggup menolaknya dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.”
Apa yang baru terjadi Tsunami di Asia hanyalah suatu pertanda kecil. Tunggu hingga kalian melihat tanda yang besar. Enam dari tujuh orang akan pergi akan mati. Jadi, jika kini Bumi memiliki populasi 6 milliar manusia, hanya 800 juta yang akan tetap tinggal hidup. Apa yang akan terjadi lebih dari sekedar gempa bumi.
Ada dua macam hukuman:
1. Dari atas, dari berbagai arah (dari luar)
2. Dari dalam.
Allah menyebutkan dalam QS. Al-Anbiya’ 21:44 “Bal matta’naa haa-ulaa-I wa aabaa-ahum hattaa thoola alaihimu l-‘umur”
“Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup di dunia hingga panjanglah umur mereka.”
Mereka memiliki rencana untuk masa depan mereka, hingga 5 tahun ke depan, untuk 10 tahun ke depan, 20 tahun ke depan, dst. Lihatlah bagaimana kini orang-orang berlomba-lomba menolong korban-korban Tsunami ini. Tentu saja ini adalah hal yang penting, untuk menolong orang lain dengan makanan, tempat perlindungan, obat, dll. Tapi, ingatlah pula untuk menolong orang dalam urusan akhirah mereka. Kini, mereka tidak memikirkan tentang hal ini.
Dalam lanjutan ayat tersebut “Afalaa yarauna annaa na’til ardha nanqushuhaa min athraafihaa. Afahumu l-ghaalibuun” [QS. 21:44] “Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri itu, lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya/sisinya. Maka apakah mereka yang menang?”
Secara berangsur-angsur, Kami (Allah) mengurangi tanah yang ada dalam kendali mereka. Artinya, mengurangi batas-batasnya. Siapa yang akan menang? Kami atau mereka? Musibah itu mendatangi mereka dari arah yang sama sekali tidak terpikir oleh orang-orang bahwa akan muncul musibah dari situ. Yaitu, musibah itu datang dari lautan. Dari batas/sisi. (Sebagaimana Allah menyebutkan dalam ayat itu, “nanqushuhaa min athrafihaa”, mengurangi tanah itu dari batas/sisi-nya à dari lautan, pada daerah pantai.
Malaikat memohon perlindungan, Awliya’ memohon perlindungan, Sang Bumi pun memohon perlindungan. Jika kalian memegang suatu tali, tali yang panjang, dan kalian menggoyangkannya pada salah satu ujungnya, maka suatu getaran atau gelombang akan tercipta. Maka, apa yang terjadi adalah ketika Malaikat hanya menyentuh, dengan mengambil pepujian dan tasbih (dari Awliya’), menyentuh pada satu ujung saja, dan menimbulkan suatu vibrasi pada jalur itu (jalur gempa ).
Para Awliya’ harus berdzikir memuji Allah siang dan malam agar getaran itu (yang ditimbulkan oleh sentuhan Malaikat pada satu ujung) tidak menghancurkan seluruh dunia. Dan ini barulah suatu tanda kecil!! “Annaa na’til ardha nanqushuhaa min athraafihaa…” Perlahan-lahan mengurangi… maknanya Bumi terkurangi. Di sini Mawlana Syaikh Hisham Kabbani mulai masuk pada makna ke-2 ayat tersebut. Yaitu, lapisan pelindung Bumi (sabuk van Allen yangdisebut sebelum ini, penerj.), Allah SWT akan membaliknya ke dalam, menghancurkan Bumi… hingga 6 dari 7 orang akan mati.
Jangan katakan, “Bagaimana hal itu akan terjadi?” Bahkan jika Awliya’ memberitahukan sebelumnya pada kalian bahwa sebuah Tsunami akan terjadi (di Asia), kalian tak akan mempercayai mereka. Setelah Tsunami ini Tsunami Asia terjadi, sesuatu yang lebih besar dari Tsunami ini akan terjadi!!
Ini untuk memperingatkan orang-orang akan Akhirah. Hari Pembalasan tengah datang. Dan ia tidak akan membedakan tua atau muda. Lihatlah di TV saat ini: anak-anak kehilangan saudara-saudaranya, ayahnya, ibunya, kakek-neneknya, mereka menjadi yatim. Dan ini barulah akibat dari suatu tsunami yang kecil.
Tsunami yang lebih besar akan terjadi!!
Jangan takut! Jika tsunami yang lebih besar datang dan mengambil kalian, setidaknya kalian telah melakukan suatu kebaikan di dunya ini. Fasad (Korupsi atau kerusakan dalam maknanya yang luas. Lihat Suhbat sebelumnya!, penerj.) harus diakhiri. Pada semua pantai-pantai yang hancur itu, berbagai macam Fasad terjadi. Dan Allah sama sekali tak menyukainya.
Lakukan Salat 5 Waktu kalian, lakukan zakat kalian. Lakukan Puasa Ramadan, lakukan Hajj. Dan ucapkan Syahadat setiap hari. Jika lima pilar ini belum cukup, dan kalian membutuhkan perlindungan yang lebih, lakukan Ihsan, sebagaimana diajarkan oleh Nabi sall-Allahu alaihi wasallam. Bi hurmatil habib Fatihah
Wa min Allah at-Tawfiiq
(Maulana Shaykh Muhammad Hisham Kabbani qs)
Bismillah hirRohmaanir Rohim
”Kematian datang tanpa pemberitahuan awal,
ia datang kapan saja, di mana saja,
pada kesempatan apa saja.
“Saat kematian menjelang, tak seorang pun mampu lari darinya. Tapi, jika ‘ajal belum tertulis, bahkan bila seseorang berada di tengah suatu ledakan, di tengah suatu gempa bumi, di tengah suatu samudera, ia pun tetap akan selamat”. “Allah mengambil siapa yang Ia kehendaki. Kita tak tahu mengapa, dan kita pun tak dapat bertanya mengapa”.
A'uudzu billahi minasy syaithanirrajiim. Bismillaahir Rahmaanir Rahiim, Nawaytul Arba'in Nawaytul I'tikaf, Nawaytul Kalwah,Nawaytul 'Uzlah Nawaytur Riyadah,Nawaytus Suluuk, Lillahi ta'alaa Athi'ullaaha wa athi'urrasuula wa ulil amri minkum (QS An Nisa' 4: 59).
( Ba'da dhikr Khatm Khawajagan )
Allah SWT memerintahkan pada kita untuk mematuhi-Nya, untuk mematuhi Nabi/Rasul sall-Allahu ‘alayhi wasallam, dan untuk mematuhi pemimpin kita, atau mereka yang memiliki otoritas (wewenang). Allah SWT tak suka diri kita bila tak patuh.
Allah berfirman: Innaa Nahnu nazzalna dz-dzikraa wa innaa lahuu lahaafizhuun” (QS. Al-Hijr 15:9) Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz Dzikr (Peringatan), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Kami menyimpannya)”. Dzikr (Peringatan) itu diwahyukan hanya pada Nabi suci Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam, tidak kepada siapa pun lainnya. Diwahyukan pada beliau melalui Malaikat Utama Sayyidina Jibril ‘alaihissalam.
Makna umum dari Adz-Dzikr adalah Quran Suci. Itu berarti segala sesuatu yang ada dalam Quran Suci. Itu berarti segala sesuatu yang diciptakan, seluruh makhluq, karena Allah berfirman: “Wa laa rothbin wa laa yaabisin illaa fii kitaabin mubiin” (QS. Al An’aam 6:59) “dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Quran Suci)”. Hidup atau tak-hidup semua ada dalam Al Quran yang Suci.
Al Quran Suci adalah Pengetahuan Ilahiah yang Allah SWT karuniakan dan berikan pada Nabi sall-Allahu alaihi wasallam tentang seluruh makhluk ciptaan, baik yang ada sebelum masa hidup Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam maupun yang hidup setelah masa hidup Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam. Karena itulah, Quran Suci memuat cerita-cerita tentang ummat-ummat terdahulu, dan juga pengetahuan-pengetahuan ilmiah masa depan.
Juga, Hadits Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam adalah juga merupakan wahyu. Allah telah menyebutkan dalam Quran Suci: “Wa maa yanthiqu ‘anil hawa’, in huwa illaa wahyuy yuuhaa” (QS. An-Najm 53:3-4) “dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),”.
‘Ulama Sejati (yaitu Awliya-ullah – para kekasih Allah) mampu untuk mengambil makna atau rahasia dari huruf-huruf, kata-kata, dan kalimat-kalimat dalam Quran Suci. Ulama biasa hanya mendapatkan ilmunya dengan belajar ke sana ke mari (untuk mengetahui apa yang sudah dibicarakan atau sudah ditulis dalam buku-buku). Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam dikaruniai Ilmu oleh Allah, yang kemudian oleh Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam dibagi-bagikan pengetahuan itu pada para Sahabat beliau.
Setiap orang dari sahabat beliau adalah bagai sebuah bintang, seorang pembimbing atau pemandu (bagi kemanusiaan) yang membawa Hadits-hadits yang berbeda yang telah diberikan Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam pada masing-masing dari mereka. Dan para pewaris dari sahabat ini, yaitu Awliya’ullah pun membawa pula Ilmu tersebut.
[Seperti apa yang telah disebutkan dalam suhbat sebelumnya pada tanggal 1 Januari 2005]. Orang-orang tak berdosa turut mati bersama mereka yang berdosa. Kedua golongan ini berada dalam naungan tajalli (manifestasi) dari Nama-Nama Allah. Mereka yang tak berdosa tersebut pergi (mati) bersama mereka yang berdosa.
Mengapa? Ingatlah akan kisah Sayyidina Musa ‘alaihis salam (yang diceritakan pada suhbat sebelumnya) ketika beliau bertanya akan Keadilan Allah. Allah kemudian menyuruh beliau menunggu di hutan. Lalu ratusan semut merayap di kaki beliau. Ketika, satu saja dari semut itu menggigit beliau, beliau segera saja memukul seluruh kelompok semut tersebut hingga tewas.
Kita harus belajar dari kisah ini: Kematian datang tanpa pemberitahuan awal, ia datang kapan saja, di mana saja, pada kesempatan apa saja. Saat ‘ajal (kematian) menjelang, tak seorang pun mampu lari darinya. Tapi, jika ‘ajal belum tertulis, bahkan bila seseorang berada di tengah suatu ledakan, di tengah suatu gempa bumi, di tengah suatu samudera, ia pun tetap akan selamat. Allah mengambil siapa yang Ia kehendaki. Kita tak tahu mengapa, dan kita pun tak dapat bertanya mengapa.
Allah berfirman (dalam ayat yang ditulis di atas), “Kami memelihara Kitab Suci itu hingga Hari Penghakiman (Kiyamat), dan (termasuk) rahasia-rahasia di dalamnya, akan tersimpan. Tersimpan’ berarti untuk dituangkan pada wadah seseorang yang mampu menampungnya dan menyimpannya sampai saatnya ketika (rahasia) itu mesti muncul. Seperti di zaman sekarang, ketika kita ingin menyimpan suatu (data) ke dalam komputer-komputer kita, kita menekan suatu tombol ‘save’ (‘simpan’). Jika kita tidak melakukannya, data kita pun akan hilang. Menyimpan di situ berarti untuk menyimpannya sebagai bentuk frekuensi vibrasi (getaran) yang berbeda.
Teknologi yang tersedia di zaman sekarang, sudah pernah disebutkan oleh Quran Suci pada Nabi kita sall-Allahu ‘alaihi wasallam 1400 tahun yang lalu. Tapi, kita tak mampu memahaminya. [Allah berfirman] “Wa in min syai-in illaa yusabbihuu bihamdihi wa laakin laa tafqahuuna tasbiihahum” (QS Al-Isra’ 17:44), “Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.”
(Pengetahuan Rahasia) itu tersimpan, tapi kita tak mempunyai Teknologi untuk mengambilnya. Allah SWT berfirman (dalam ayat yang sama, bagian awal): “Tusabbihu lahu s-samaawaatu s-sab’u wa l-ardhu wa man fiihinna” [QS Al-Isra’ 17:44] “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah.” Itu bermakna segala sesuatu memuji-Nya, tapi kalian tak mampu memahami puji-pujian mereka. Dalam ayat lain (QS. Al-Hijr 15:9):
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz Dzikr (Peringatan), dan sesungguhnya Kami benar-benar memelihara nya. (Kami menyimpannya)”. Ini bermakna setiap makhluq ciptaan ter’simpan’ dalam Quran Suci. Maknanya, dalam segenap rentang frekuensi dari vibrasi (getaran) yang berbeda-beda. Sebagaimana dalam komputer: kita menyimpan segala sesuatunya berbagai macam data ke dalam komputer sebagai frekuensi dari bilangan dari 0 dan 1
Awliya’ullah, apa yang mereka warisi dalam kalbu mereka dari Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam adalah dalam berbagai frekuensi yang berbeda-beda. Mereka mampu untuk men”decode”-nya dengan menekan “tombol” tertentu à yaitu Asmaul Husna (Nama-nama yang indah dari Allah), dan seluruh pengetahuan itu akan keluar ke suatu ‘layar’ di hadapan mereka, seperti saat ini para pembaca berita memiliki teleprompter di hadapan mereka yang bertuliskan apa-apa yang mesti mereka baca. Apa yang tertulis di teleprompter tersebut berasal dari suatu komputer.
Seluruh bilangan ini adalah dari 0 hingga 1. Bila dirimu menjadi 0, kau pun akan dikaruniai 1, Ilmu atau Pengetahuan itu. (Allah berfirman) “Kami menurunkan nya, dan menyimpannya”. Ini bermakna Kalamullah (Firman-firman Allah) tak akan bisa diubah. Segala sesuatu dalam Al-Quran akan dikeluarkan pada waktunya. Awliya’ mengetahui tentang hal ini.
Karena itu, ketika mereka (Awliya’ullah) melihat bahwa [sebagaimana firman Allah] “Zhaharal fasaadu fi l-barri wa l-bahri bimaa kasabat aydin naas…” [QS.Ar-Ruum 30:41] Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,” mereka pun memohon kepada Allah, yastajiruuna billaah.
Segala sesuatu mensucikan dan memuji Allah. Tasbih-tasbih itu bergerak demikian banyak dan cepat bagai halilintar hingga tasbih tersebut menggerakkan bumi. Demikian banyak Awliya’ullah di daerah itu, dan mereka semua memuji dan memuji tanpa henti hingga pepujian mereka mengguncangkan segala sesuatunya. Saat segala sesuatunya berguncang, segala sesuatu pun akan hilang musnah.
Bumi berotasi pada sumbunya. Saat ia berotasi, tercipta suatu medan magnet yang melindungi Bumi dari radiasi dari luar angkasa. (Catatan penerjemah: mungkin yang diacu di sini adalah sabuk van Allen, suatu sabuk magnetik berbentuk torus yang melindungi bumi dari radiasi kosmis). Allah berfirman dalam Quran Suci di Suurah Al-Anbiya’ (Surah nomor 21): “Wa yaquuluuna mataa hadzal wa’du in kuntum saadiqiin” [QS. 21:38, lihat pula 10:48 dan 36:48] “Mereka berkata: "Kapankah janji itu akan datang, jika kamu sekalian adalah orang-orang yang benar?" Mereka berkata, “Kapan itu akan terjadi…?” “Idzaa Zulzilatil Ardhu Zilzaalahaa” [QS. Az-Zalzalah 99:11]. “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya”
Tsunami di Asia yang baru saja terjadi, hanyalah suatu permulaan. Muhyiddin Ibn ‘Arabi menyebutkan dalam Futuhat al-Makkiyyah, bahwa akan datang suatu masa ketika rambut seorang anak akan tumbuh dengan warna putih (uban)… karena 6 dari 7 orang akan mati. Lihatlah sekarang, para pemimpin itu masih sanggup pergi ke tempat itu (ke Indonesia untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi KTT tentang Tsunami dan meninjau tempat bencana. Apa yang akan terjadi di hadapan kita di masa depan adalah jauh lebih besar, tak akan ada lagi pemimpin-pemimpin yang hidup. Setiap orang akan tewas.
Allah berfirman: “Bal ta’tiihim baghtatan fa-tabhatuhum falaa yastathii’uuna raddahaa wa laa hum yunzharuun” [QS. Al-Anbiya’ 21:40] “Sebenarnya (azab) itu akan datang kepada mereka dengan sekonyong-konyong lalu membuat mereka menjadi panik, maka mereka tidak sanggup menolaknya dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.”
Apa yang baru terjadi Tsunami di Asia hanyalah suatu pertanda kecil. Tunggu hingga kalian melihat tanda yang besar. Enam dari tujuh orang akan pergi akan mati. Jadi, jika kini Bumi memiliki populasi 6 milliar manusia, hanya 800 juta yang akan tetap tinggal hidup. Apa yang akan terjadi lebih dari sekedar gempa bumi.
Ada dua macam hukuman:
1. Dari atas, dari berbagai arah (dari luar)
2. Dari dalam.
Allah menyebutkan dalam QS. Al-Anbiya’ 21:44 “Bal matta’naa haa-ulaa-I wa aabaa-ahum hattaa thoola alaihimu l-‘umur”
“Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup di dunia hingga panjanglah umur mereka.”
Mereka memiliki rencana untuk masa depan mereka, hingga 5 tahun ke depan, untuk 10 tahun ke depan, 20 tahun ke depan, dst. Lihatlah bagaimana kini orang-orang berlomba-lomba menolong korban-korban Tsunami ini. Tentu saja ini adalah hal yang penting, untuk menolong orang lain dengan makanan, tempat perlindungan, obat, dll. Tapi, ingatlah pula untuk menolong orang dalam urusan akhirah mereka. Kini, mereka tidak memikirkan tentang hal ini.
Dalam lanjutan ayat tersebut “Afalaa yarauna annaa na’til ardha nanqushuhaa min athraafihaa. Afahumu l-ghaalibuun” [QS. 21:44] “Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri itu, lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya/sisinya. Maka apakah mereka yang menang?”
Secara berangsur-angsur, Kami (Allah) mengurangi tanah yang ada dalam kendali mereka. Artinya, mengurangi batas-batasnya. Siapa yang akan menang? Kami atau mereka? Musibah itu mendatangi mereka dari arah yang sama sekali tidak terpikir oleh orang-orang bahwa akan muncul musibah dari situ. Yaitu, musibah itu datang dari lautan. Dari batas/sisi. (Sebagaimana Allah menyebutkan dalam ayat itu, “nanqushuhaa min athrafihaa”, mengurangi tanah itu dari batas/sisi-nya à dari lautan, pada daerah pantai.
Malaikat memohon perlindungan, Awliya’ memohon perlindungan, Sang Bumi pun memohon perlindungan. Jika kalian memegang suatu tali, tali yang panjang, dan kalian menggoyangkannya pada salah satu ujungnya, maka suatu getaran atau gelombang akan tercipta. Maka, apa yang terjadi adalah ketika Malaikat hanya menyentuh, dengan mengambil pepujian dan tasbih (dari Awliya’), menyentuh pada satu ujung saja, dan menimbulkan suatu vibrasi pada jalur itu (jalur gempa ).
Para Awliya’ harus berdzikir memuji Allah siang dan malam agar getaran itu (yang ditimbulkan oleh sentuhan Malaikat pada satu ujung) tidak menghancurkan seluruh dunia. Dan ini barulah suatu tanda kecil!! “Annaa na’til ardha nanqushuhaa min athraafihaa…” Perlahan-lahan mengurangi… maknanya Bumi terkurangi. Di sini Mawlana Syaikh Hisham Kabbani mulai masuk pada makna ke-2 ayat tersebut. Yaitu, lapisan pelindung Bumi (sabuk van Allen yangdisebut sebelum ini, penerj.), Allah SWT akan membaliknya ke dalam, menghancurkan Bumi… hingga 6 dari 7 orang akan mati.
Jangan katakan, “Bagaimana hal itu akan terjadi?” Bahkan jika Awliya’ memberitahukan sebelumnya pada kalian bahwa sebuah Tsunami akan terjadi (di Asia), kalian tak akan mempercayai mereka. Setelah Tsunami ini Tsunami Asia terjadi, sesuatu yang lebih besar dari Tsunami ini akan terjadi!!
Ini untuk memperingatkan orang-orang akan Akhirah. Hari Pembalasan tengah datang. Dan ia tidak akan membedakan tua atau muda. Lihatlah di TV saat ini: anak-anak kehilangan saudara-saudaranya, ayahnya, ibunya, kakek-neneknya, mereka menjadi yatim. Dan ini barulah akibat dari suatu tsunami yang kecil.
Tsunami yang lebih besar akan terjadi!!
Jangan takut! Jika tsunami yang lebih besar datang dan mengambil kalian, setidaknya kalian telah melakukan suatu kebaikan di dunya ini. Fasad (Korupsi atau kerusakan dalam maknanya yang luas. Lihat Suhbat sebelumnya!, penerj.) harus diakhiri. Pada semua pantai-pantai yang hancur itu, berbagai macam Fasad terjadi. Dan Allah sama sekali tak menyukainya.
Lakukan Salat 5 Waktu kalian, lakukan zakat kalian. Lakukan Puasa Ramadan, lakukan Hajj. Dan ucapkan Syahadat setiap hari. Jika lima pilar ini belum cukup, dan kalian membutuhkan perlindungan yang lebih, lakukan Ihsan, sebagaimana diajarkan oleh Nabi sall-Allahu alaihi wasallam. Bi hurmatil habib Fatihah
Wa min Allah at-Tawfiiq
Selasa, 15 Februari 2011
Tips Memilih Oli Motor 4 Tak
Tips Memilih Oli Motor 4 Tak
Tips memilih oli motor 4 Tak, cara memilih oli yang cocok untuk motor mesin 4 Tak. Mendengar kata Oli pastinya tidak asing lagi di telinga brader semua, Ya benda ini adalah “Darah” Motor kita, fungsi oli seringkali hanya dianggap sebagai pelumas mesin padahal oli juga memiliki fungsi lain yang tidak kalah penting, seperti sebagai pendingin, pelindung dari karat, pembersih dan penutup celah pada dinding mesin.
Sebagai pelumas, oli membuat gesekan antar komponen dalam mesin menjadi lebih halus dan memudahkan mesin mencapai suhu kerja yang ideal. Oli juga bertindak sebagai fluida yang memindahkan panas ruang bakar ke bagian lain dari mesin yang lebih dingin.
Melihat fungsi penting dari oli, maka perlulah kita mengetahui bagaimana cara memilih oli yang tepat untuk mesin sepeda motor kita agar mesin sepeda motor bekerja secara optimal dan lebih awet tentunya.
Memilih Oli untuk motor kita tidaklah sulit, perhatikan langkah – langkah berikut ini:
Pertama, kenali dulu bahan dasarnya, ada 3 jenis oli dilihat dari bahan dasarnya yaitu:
1.Mineral
2.Synthetic blend (Semi Sintetik)
3. Full Synthetic
http://setiawanputu.blogspot.com/2010/07/tips-memilih-oli-motor-4-tak.html#more
Secara kasat mata sulit untuk membedakannya namun yang pasti tiap jenis memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing oli mineral lebih tahan terhadap penguapan namun viskositas (kekentalannya) mudah berubah karena tidak tahan suhu tinggi dan kondisi ekstrim sedangkan oli sintetik lebih mudah menguap tapi viskositasnya lebih stabil dan tahan dalam kondisi ekstrim panas maupun dingin.
Oli mineral cocok untuk motor keluaran tahun lama karena clearance atau celah-celah mesinnya lebih renggang, lain halnya dengan oli semi sintetik yang lebih cocok untuk motor-motor keluaran tahun terbaru, sedangkan oli full sintetik lebih cocok pada motor high performance, multi silinder, multi klep dan berkompresi tinggi atau motor yang digunakan untuk keperluan kompetisi (balap), sebenarnya motor harian tidak haram menggunakan oli full sintetik hanya saja akan menjadi mubazir karena dari segi ekonomis oli yang benar-benar full sintetik harga per liternya bisa bikin nangis mewek mencapai 100 sd 150rb bahkan lebih, mending beli bensin dapet berliter-liter he..he.. bisa jalan sampe jauuuuuhhhhh……
Kedua, kenali kode – kode dan sertifikasi pada kemasan Oli.
Kalau kita baca dan perhatikan pada kemasan Oli ada tulisan kode huruf dan angka misalnya seperti ini : (10W-40 API service SL / JASO MA2). Kalau brader baca tulisan tersebut gak usah bingung apa maksudnya, kode – kode tersebut merupakan “sertifikat” dan keterangan yang diberikan oleh perusahaan pembuat oli tersebut, Sertifikat terhadap kualitas oli secara internasional beragam, namun yang umumnya sering dipakai sebagai standar oli di dunia adalah API dan JASO. Lalu apakah API dan JASO itu?
API yang ini bukan buat masak locah melainkan American Petroleum Institute, adalah lembaga yang mengetes dan memeriksa kualitas oli yang dipakai di negara-negara eropa dan amerika dan umumnya standar API sudah dimiliki oleh hampir seluruh merek oli.
API Service biasanya menggunakan inisial S = untuk bensin dan C = untuk solar. Adapun huruf yang mengikuti di belakangnya merupakan tingkatan (grade) dari oli tersebut. Contoh: SA, SB, SC, SD, SE, SF, SG, SH, SJ, SL (bensin) CA, CB, CF, CH, CH4 (solar).
Semakin jauh abjad yang mengikutinya, semakin bagus kualitas oli tersebut dan telah memenuhi syarat oli sebelumnya. Dengan kata lain kendaraan yang dianjurkan menggunakan oli dengan grade SH dapat menggunakan oli grade SL. Tetapi tidak sebaliknya karena akan ada efek samping seperti mudah oli menguap, terlalu cepat minta diganti, mudah berubah warna dll. Berikut grade yang ada di pasaran (untuk bensin):
API Service SL: untuk kendaraan tahun 2001
API Service SJ: untuk kendaraan tahun 1996
API Service SH: untuk kendaraan tahun 1996
API Service SG: untuk kendaraan tahun 1993
Sedangkan JASO (Japanese Automotive Standar Association) adalah lembaga di jepang yang mengecek dan menguji kualitas oli untuk kendaraan di negaranya (timbul pertanyaan kok jepang ngeluarin standar oli sendiri?) itu karena karakteristik mesin dan kendaraan buatan eropa dengan kendaraan buatan jepang berbeda. Motor-motor buatan jepang umumnya menggunakan kopling basah sedangkan kendaraan buatan eropa menganut sistem kopling kering yang artinya tidak terendam oli sehingga kendaraan buatan eropa cukup dengan sertifikasi API sedangkan kendaraan buatan jepang selain sertifikasi API wajib memiliki sertifikasi JASO.
JASO MA adalah kode untuk menunjukkan bahwa oli tersebut sangat cocok untuk motor berkopling basah (terendam oli) dan umumnya semua motor yang masuk ke indonesia menganut sistem kopling basah jadi saya sarankan pilih oli HARUS punya sertifikasi ini, kalau gak ada kode ini mendingan jangan pilih oli tersebut, karena akan beresiko kanvas kopling motor sobat cepat aus dan selip bahkan gosong. Sedangkan kode di belakang JASO menunjukkan kualitas sertifikat. Yang paling tinggi adalah JASO MA2 jadi klo bisa pilih yang kode MA nya paling tinggi. Khusus untuk motor matic pilih yang ada kode JASO MB karena tipe mesinnya berbeda.
Terus kode angkanya (misal 20w-50 atau 10w-40) artinya apa tuh? ini artinya oli memiliki tingkat viskositas atau kekentalan dengan indeks (10) pada keadaan dingin (Winter) dan akan berubah menjadi kekentalan dengan indeks (40) pada suhu 100 derajat celcius.
Banyak sobat kita diluar sana masih kurang paham dalam memilih oli untuk sepeda motor bingung bahkan ada yang menggunakan oli mobil untuk motor mereka atau bahkan ada yang salah beli karena sama sekali gak ngeh bedanya oli motor ama oli mobil bingung (mungkin pas beli di tokonya mati lampu sehingga gelap dan salah ngambil, xixixixi…)ngakakngakakngakak, timbul pertanyaan sebenarnya boleh gak sich pake oli mobil di motor kita?
Jawabannya bukan tidak boleh, hanya saja tidak direkomendasikan, alasannya bahan yang digunakan untuk membuat oli motor dan mobil jauh berbeda, oli mobil lazim dilengkapi bahan yang masuk kategori friction modifier. Maksudnya, sejenis aditif yang bikin pelumasan makin lama makin licin dan makin licin makin asik.(Itu lain lagi kalee yaa ngakak…ha..ha..) Untuk kebutuhan hindari gesekan material dalam mesin, memang bahan itu memberi efek bagus. Meski memakai oli yg termasuk katagori encer, tapi tidak khawatir gesekannya akan merusak material. Tapi ingat! Oli tersebut tidak cocok untuk motor dengan kopling basah. Soalnya akan terjadi slip kopling, kanvas kopling gampang aus atau bahkan gosong. Itu sebabnya oli mobil tidak direkomendasikan untuk motor.
Lalu bagaimana dengan motor matic bisakah pakai oli mobil? Kan sistem transmisinya terpisah dari mesin tuch. Jawabannya sama yaitu tidak direkomendasikan, alasannya meskipun mesinnya mirip-mirip dengan mobil tapi faktanya mesin motor baik itu matic atau motor apapun lebih stress daripada mesin mobil, bisa dilihat dari RPM nya. Putaran mesin motor bisa sampai 9000 RPM (belum red line) bahakan lebih, sedangkan mobil pada umumnya hanya 6000 RPM (lebih dari itu masuk red line), sehingga motor lebih memerlukan oli yang tahan banting dan tahan stress karena melumasi tiga bagian penting yaitu mesin ( piston, klep, kem, kruk as brikut teman2 nya), kopling, dan gearbox. Jika dipaksakan pake oli mobil yang hanya diformulasikan untuk mesin saja dikhawatirkan olinya lebih cepat minta ganti, performanya cepat menurun lalu kekentalannya mudah berubah sehingga tidak mampu bekerja maksimal melindungi mesin, ujung – ujungnya bisa merusak mesin.
Untuk membedakan mana oli buat motor dan mana yang buat mobil sebenarnya mudah, bisa dilihat dari kemasannya. Oli motor umumnya ada gambar motor bukan yang ada gambar cewek seksinya loch, kalau oli yang itu beda lagi kegunaannya walaupun sama-sama bikin licin. : p ( kok nyasar kesitu terus jadinya, he..he..) hammer dan biasanya ada tulisan 4T atau kalau gak ada tanda tersebut cukup baca kodenya saja kalau ada kode JASO MA itu tandanya untuk motor kopling basah, kalau JASO MB untuk motor matic.
Jadi dari penjabaran diatas rasanya kita para biker jangan lagi salah dan bingung memilih oli untuk cewek… waduh… maksud saya motor kesayangannya, walaupun sebenarnya oli yang paling aman untuk motor kita adalah oli rekomendasi pabrikan namun kita sebagai konsumenlah yang memiliki hak dalam memilih oli apa yang digunakan untuk motornya, dimanapun konsumen adalah raja! so…. apapun merek motor dan tipenya yang penting olinya harus tepat ya bro… Trus jangan sampe jadi korban iklan dan terpaku pada merek oli tertentu dengan jargon atau semboyan andalannya
Tips memilih oli motor 4 Tak, cara memilih oli yang cocok untuk motor mesin 4 Tak. Mendengar kata Oli pastinya tidak asing lagi di telinga brader semua, Ya benda ini adalah “Darah” Motor kita, fungsi oli seringkali hanya dianggap sebagai pelumas mesin padahal oli juga memiliki fungsi lain yang tidak kalah penting, seperti sebagai pendingin, pelindung dari karat, pembersih dan penutup celah pada dinding mesin.
Sebagai pelumas, oli membuat gesekan antar komponen dalam mesin menjadi lebih halus dan memudahkan mesin mencapai suhu kerja yang ideal. Oli juga bertindak sebagai fluida yang memindahkan panas ruang bakar ke bagian lain dari mesin yang lebih dingin.
Melihat fungsi penting dari oli, maka perlulah kita mengetahui bagaimana cara memilih oli yang tepat untuk mesin sepeda motor kita agar mesin sepeda motor bekerja secara optimal dan lebih awet tentunya.
Memilih Oli untuk motor kita tidaklah sulit, perhatikan langkah – langkah berikut ini:
Pertama, kenali dulu bahan dasarnya, ada 3 jenis oli dilihat dari bahan dasarnya yaitu:
1.Mineral
2.Synthetic blend (Semi Sintetik)
3. Full Synthetic
http://setiawanputu.blogspot.com/2010/07/tips-memilih-oli-motor-4-tak.html#more
Secara kasat mata sulit untuk membedakannya namun yang pasti tiap jenis memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing oli mineral lebih tahan terhadap penguapan namun viskositas (kekentalannya) mudah berubah karena tidak tahan suhu tinggi dan kondisi ekstrim sedangkan oli sintetik lebih mudah menguap tapi viskositasnya lebih stabil dan tahan dalam kondisi ekstrim panas maupun dingin.
Oli mineral cocok untuk motor keluaran tahun lama karena clearance atau celah-celah mesinnya lebih renggang, lain halnya dengan oli semi sintetik yang lebih cocok untuk motor-motor keluaran tahun terbaru, sedangkan oli full sintetik lebih cocok pada motor high performance, multi silinder, multi klep dan berkompresi tinggi atau motor yang digunakan untuk keperluan kompetisi (balap), sebenarnya motor harian tidak haram menggunakan oli full sintetik hanya saja akan menjadi mubazir karena dari segi ekonomis oli yang benar-benar full sintetik harga per liternya bisa bikin nangis mewek mencapai 100 sd 150rb bahkan lebih, mending beli bensin dapet berliter-liter he..he.. bisa jalan sampe jauuuuuhhhhh……
Kedua, kenali kode – kode dan sertifikasi pada kemasan Oli.
Kalau kita baca dan perhatikan pada kemasan Oli ada tulisan kode huruf dan angka misalnya seperti ini : (10W-40 API service SL / JASO MA2). Kalau brader baca tulisan tersebut gak usah bingung apa maksudnya, kode – kode tersebut merupakan “sertifikat” dan keterangan yang diberikan oleh perusahaan pembuat oli tersebut, Sertifikat terhadap kualitas oli secara internasional beragam, namun yang umumnya sering dipakai sebagai standar oli di dunia adalah API dan JASO. Lalu apakah API dan JASO itu?
API yang ini bukan buat masak locah melainkan American Petroleum Institute, adalah lembaga yang mengetes dan memeriksa kualitas oli yang dipakai di negara-negara eropa dan amerika dan umumnya standar API sudah dimiliki oleh hampir seluruh merek oli.
API Service biasanya menggunakan inisial S = untuk bensin dan C = untuk solar. Adapun huruf yang mengikuti di belakangnya merupakan tingkatan (grade) dari oli tersebut. Contoh: SA, SB, SC, SD, SE, SF, SG, SH, SJ, SL (bensin) CA, CB, CF, CH, CH4 (solar).
Semakin jauh abjad yang mengikutinya, semakin bagus kualitas oli tersebut dan telah memenuhi syarat oli sebelumnya. Dengan kata lain kendaraan yang dianjurkan menggunakan oli dengan grade SH dapat menggunakan oli grade SL. Tetapi tidak sebaliknya karena akan ada efek samping seperti mudah oli menguap, terlalu cepat minta diganti, mudah berubah warna dll. Berikut grade yang ada di pasaran (untuk bensin):
API Service SL: untuk kendaraan tahun 2001
API Service SJ: untuk kendaraan tahun 1996
API Service SH: untuk kendaraan tahun 1996
API Service SG: untuk kendaraan tahun 1993
Sedangkan JASO (Japanese Automotive Standar Association) adalah lembaga di jepang yang mengecek dan menguji kualitas oli untuk kendaraan di negaranya (timbul pertanyaan kok jepang ngeluarin standar oli sendiri?) itu karena karakteristik mesin dan kendaraan buatan eropa dengan kendaraan buatan jepang berbeda. Motor-motor buatan jepang umumnya menggunakan kopling basah sedangkan kendaraan buatan eropa menganut sistem kopling kering yang artinya tidak terendam oli sehingga kendaraan buatan eropa cukup dengan sertifikasi API sedangkan kendaraan buatan jepang selain sertifikasi API wajib memiliki sertifikasi JASO.
JASO MA adalah kode untuk menunjukkan bahwa oli tersebut sangat cocok untuk motor berkopling basah (terendam oli) dan umumnya semua motor yang masuk ke indonesia menganut sistem kopling basah jadi saya sarankan pilih oli HARUS punya sertifikasi ini, kalau gak ada kode ini mendingan jangan pilih oli tersebut, karena akan beresiko kanvas kopling motor sobat cepat aus dan selip bahkan gosong. Sedangkan kode di belakang JASO menunjukkan kualitas sertifikat. Yang paling tinggi adalah JASO MA2 jadi klo bisa pilih yang kode MA nya paling tinggi. Khusus untuk motor matic pilih yang ada kode JASO MB karena tipe mesinnya berbeda.
Terus kode angkanya (misal 20w-50 atau 10w-40) artinya apa tuh? ini artinya oli memiliki tingkat viskositas atau kekentalan dengan indeks (10) pada keadaan dingin (Winter) dan akan berubah menjadi kekentalan dengan indeks (40) pada suhu 100 derajat celcius.
Banyak sobat kita diluar sana masih kurang paham dalam memilih oli untuk sepeda motor bingung bahkan ada yang menggunakan oli mobil untuk motor mereka atau bahkan ada yang salah beli karena sama sekali gak ngeh bedanya oli motor ama oli mobil bingung (mungkin pas beli di tokonya mati lampu sehingga gelap dan salah ngambil, xixixixi…)ngakakngakakngakak, timbul pertanyaan sebenarnya boleh gak sich pake oli mobil di motor kita?
Jawabannya bukan tidak boleh, hanya saja tidak direkomendasikan, alasannya bahan yang digunakan untuk membuat oli motor dan mobil jauh berbeda, oli mobil lazim dilengkapi bahan yang masuk kategori friction modifier. Maksudnya, sejenis aditif yang bikin pelumasan makin lama makin licin dan makin licin makin asik.(Itu lain lagi kalee yaa ngakak…ha..ha..) Untuk kebutuhan hindari gesekan material dalam mesin, memang bahan itu memberi efek bagus. Meski memakai oli yg termasuk katagori encer, tapi tidak khawatir gesekannya akan merusak material. Tapi ingat! Oli tersebut tidak cocok untuk motor dengan kopling basah. Soalnya akan terjadi slip kopling, kanvas kopling gampang aus atau bahkan gosong. Itu sebabnya oli mobil tidak direkomendasikan untuk motor.
Lalu bagaimana dengan motor matic bisakah pakai oli mobil? Kan sistem transmisinya terpisah dari mesin tuch. Jawabannya sama yaitu tidak direkomendasikan, alasannya meskipun mesinnya mirip-mirip dengan mobil tapi faktanya mesin motor baik itu matic atau motor apapun lebih stress daripada mesin mobil, bisa dilihat dari RPM nya. Putaran mesin motor bisa sampai 9000 RPM (belum red line) bahakan lebih, sedangkan mobil pada umumnya hanya 6000 RPM (lebih dari itu masuk red line), sehingga motor lebih memerlukan oli yang tahan banting dan tahan stress karena melumasi tiga bagian penting yaitu mesin ( piston, klep, kem, kruk as brikut teman2 nya), kopling, dan gearbox. Jika dipaksakan pake oli mobil yang hanya diformulasikan untuk mesin saja dikhawatirkan olinya lebih cepat minta ganti, performanya cepat menurun lalu kekentalannya mudah berubah sehingga tidak mampu bekerja maksimal melindungi mesin, ujung – ujungnya bisa merusak mesin.
Untuk membedakan mana oli buat motor dan mana yang buat mobil sebenarnya mudah, bisa dilihat dari kemasannya. Oli motor umumnya ada gambar motor bukan yang ada gambar cewek seksinya loch, kalau oli yang itu beda lagi kegunaannya walaupun sama-sama bikin licin. : p ( kok nyasar kesitu terus jadinya, he..he..) hammer dan biasanya ada tulisan 4T atau kalau gak ada tanda tersebut cukup baca kodenya saja kalau ada kode JASO MA itu tandanya untuk motor kopling basah, kalau JASO MB untuk motor matic.
Jadi dari penjabaran diatas rasanya kita para biker jangan lagi salah dan bingung memilih oli untuk cewek… waduh… maksud saya motor kesayangannya, walaupun sebenarnya oli yang paling aman untuk motor kita adalah oli rekomendasi pabrikan namun kita sebagai konsumenlah yang memiliki hak dalam memilih oli apa yang digunakan untuk motornya, dimanapun konsumen adalah raja! so…. apapun merek motor dan tipenya yang penting olinya harus tepat ya bro… Trus jangan sampe jadi korban iklan dan terpaku pada merek oli tertentu dengan jargon atau semboyan andalannya
Hakikat Mencintai Nabi (S) adalah Mempraktikkan Sunahnya dalam Segala Hal
Hakikat Mencintai Nabi (S) adalah Mempraktikkan Sunahnya dalam Segala Hal
Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
7 Januari 2011, Burton, Michigan
Khotbah Jumat di Masjid As-Shiddiq
Wahai Muslimin, kaum beriman! Hari ini adalah hari Jumat dan merupakan hari yang suci. Allah (swt) memberikan penghargaan kepada umat Muslim dengan menghadiahkan mereka hari Jumat, saat di mana para Muslimin bertemu dan mengenal satu sama lain.
Hal yang sangat penting untuk kita pahami adalah mengapa Allah mengirimkan kita ke atas bumi ini ketika Allah berfirman dalam hadis Qudsi:
كنت كنزا مخفياً فأحببت أن أعرف فخلقت الخلق
Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtuhu an u’rafa fa khalaqtul khalq.
(Aku adalah harta simpanan yang tersembunyi. Kemudian Aku menginginkannya untuk dikenal maka Aku ciptakan makhluk).
Mengapa Allah menginginkan untuk dikenal? Dia menghendaki hamba-hamba-Nya yang tulus untuk mengetahui apa yang telah Dia bentuk dan ciptakan dari salah satu Nama Indah-Nya, yaitu “Al-Khaliq”, Sang Maha Pencipta.
Allah menghendaki mereka untuk mengetahui satu perkara: ‘Mencintai Allah!’ Dia yang Menciptakan kalian menghendaki kalian untuk mencintai-Nya, bukan mencintai yang lainnya dari makhluk-makhluk yang ada karena mahkhluk-makhluk itu pasti akan binasa.
Sedangkah Allah adalah Azaliyyun Abdiyyun, Maha Ada dari pra-keabadian sampai pasca keabadian!
Allah (swt) menghendaki hati kalian semua hanya untuk-Nya, itulah alasan Allah menguji Sayyidina Ibrahim (a) dengan puteranya, Sayyidina Isma’il (a), dengan mengatakan “Hatimu adalah hanya untuk-Ku.” Dan juga sebagai pelajaran untuk kita semua, Dia juga menguji Sayyidina Ya’qub (a) dengan puteranya, Sayyidina Yusuf (a) dengan berfirman, “Wahai Ya’qub! Janganlah engkau memperuntukkan hatimu bagi selain Aku. Engkau harus memberikan cintamu hanya untuk-Ku, dan tidak untuk yang lainnya”.
Untuk alasan ini juga Nabi Muhammad (s) bersabda dalam hadisnya yang terkenal: “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu” (Siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya).
Nabi Muhammad (s) dalam hadis ini menjelaskan bahwa cinta itu bukanlah hanya dengan mengatakan “Aku mencintaimu”, tetapi harus dengan tindakan.
Artinya, ketika kalian mencintai seseorang, hal baik apapun yang engkau sukai, engkau juga ingin orang-orang yang engkau cintai untuk merasakannya/memilikinya.
Kesenangan apa pun yang engkau miliki, engkau ingin berbagi dengan mereka. Itulah mengapa Rasul (s) berbagi dengan umatnya.
Rasul (s) akan memastikan bahwa seluruh umatnya akan masuk Surga, dan Rasul (s) tidak akan meninggalkan mereka.
Jika iman kalian kuat maka cinta kalian juga akan kuat. Dan jika cinta kalian kuat maka iman kalian akan menjadi kuat juga.
Ini tergantung dengan bagaimana kalian memahami diri kalian masing-masing.
Jangan biarkan ego kalian menghalangi kalian untuk mengenal Tuhan kalian, karena jika kalian berbuat itu berarti kalian menghalangi diri kalian sendiri untuk mengenal hakikat diri kalian.
Jika cinta kalian hilang, maka iman kalian juga sirna. Rasul (s) bersabda,
“Jika kalaian sekalian mencintaiku, kalian akan mencintai apa yang aku lakukan (sunahku).”
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Qul in kuntum tuhibbunaLLAHA fattabi’uni yuhbibkumuLLAH wa yaghfir lakum zunubakum waLLAHU Ghafurun Rahim. (Katakan [kepada mereka Wahai Muhammad], Jika kamu sekalian [benar-benar] mencintai Allah, ikutilah aku! Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang [Ali Imran: 31])
Bagaimana caranya menunjukkan cintamu? Dengan mengikuti sunnah Rasulullah (s), sebagaimana dalam hadisnya:
Man ahya sunnatii faqad ahabbanii, wa man ahabbanii, kana ma’iy fil jannah. (Siapa yang menghidupkan sunahku berarti dia mencintaiku, dan siapa yang mencintaiku maka dia akan bersamaku di Surga).
Pengertian sunah sebagaimana yang telah dipahami adalah apa-apa yang Rasul (s) lakukan. Jadi kalian harus mengikuti itu, khususnya menghindari diri dari ghibah (membincangkan keburukan orang lain) sebagaimana Rasul (s) tidak pernah melakukan hal itu kepada siapapun, dan kalian juga tidak boleh melakukan itu.
Tetapi saat ini kita telah kehilangan iman dan cinta kita. Rasul (s) bersabda, “Siapa yang mencintaku akan mengikuti jalanku, dan akan bersamaku di Surga”, berarti, jika kalian sekalian mempraktikkan sunah Rasul (s) kalian akan menjadi penghuni Surga.
Apakah kita mengikuti sunah Rasul (s)? Banyak sekali sunah-sunah Rasul (s) yang kita abaikan, dan kita hanya melakukan sedikit sekali dari sunahnya. Kita pergi untuk salat jumat kemudian kembali (meninggalkan sunahnya), atau kita mengerjakan salat kemudian kembali (meninggalkan sunahnya). (Ini berarti) Kita tidak melakukan apa pun dari yang telah Rasul (s) praktikkan.
Wahai kaum Muslimin, jangan kalian tanggalkan jati diri kalian sebagai Muslim! Saat ini kita telah sedikit demi sedikit menanggalkannya. Apa sebetulnya jati diri kalian? Bagaimana kita saling mengetahui bahwa kita adalah kaum Muslim? Jika kalian bepergian kalian harus menunjukkan identitas kalian, foto kalian. Saat ini kita kehilangan foto kita (sebagai Muslim). Bagaimana caranya untuk mendapatkan kembali ‘identitas’ itu? Caranya adalah dengan menunjukkan cinta kita kepada Rasul (s), dengan memahami apa yang telah Allah berikan untuk Rasul (s) yang Allah tidak berikan kepada siapapun. Penghormatan kepada Nabi Muhammad (s) harus menjadi prioritas kita yang paling tinggi, begitu juga penhormatan terhadap agama kalian.
Saat ini orang-orang merasa malu untuk mengatakan dirinya Muslim. Rasul (s) bersabda, “Cintailah aku”. Hidupkanlah sunah Nabi Muhammad (s) dan jangan biarkan orang lain meremehkan kita karena yang Haq adalah Islam.
وَقُلْ جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
Allah SWT berfirman, Wa qul ja-al haqq wa zahaqal batilu. Innal batila kana zahuqa. Katakan (Wahai Muhammad), Kebenaran telah datang dan kebatilan telah sirna… (Al-Isra [17]: 81)
Ini adalah sesuatu yang pasti. Berbahagialah wahai kaum Muslim bahwa Allah telah memberikan kita kebenaran itu. Kalian menjadi muslim bukan karena kalian itu pintar, bukan. Kalian menjadi Muslim karena Allah (swt) menganugerahkan itu untuk kita. Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu, “Siapa yang mengenal dirinya, dia mengenal siapa Tuhannya.”
Nabi Muhammad (s) bersabda: La yu’minu ahadukum hatta akuna ahabba ilayhi min waladihi wa walidihi wan nasi ajma’in wa min nafsihillazi bayna janbayy. (Kamu belum menjadi orang beriman sampai kamu mencintaiku melebihi cintamu untuk anakmu, cintamu untuk orangtuamu, dan cintamu untuk seluruh umat manusia. Dan cintailah aku melebihi cintamu kepada dirimu sendiri).
Kalian belum menjadi Mukmin, tetapi kalian adalah Muslim dan belum menjadi Mukmin sampai kalian mencintai Nabi (s) melebihi siapapun yang kalian cintai di dunia ini. Apakah kalian mencintai Nabi (s) melebihi cinta kalian untuk anak-anak kalian? TIDAK. Kita mengira anak-anak kita akan menyelamatkan kita. Itu keliru. Yang akan menyelamatkan kalian hanyalah syafa’atun Nabiy. Untuk itu Nabi (s) bersabda, “Cintailah aku melebihi cintamu terhadap dirimu sendiri. Jika kamu ingin selamat, kamu harus mencintaiku melebihi cintamu untuk saudara-saudaramu, orang tuamu, anak-anakmu, dan semua isi dunia.” Dan apa yang Nabi (s) katakan pada bagian akhir dari hadisnya? Tidak saja kalian harus mencintai Nabi (s) melebihi keluarga kalian dan dunia, tetapi kalian juga harus mencintai Nabi (s) melebihi cinta kalian terhadap diri kalian sendiri, apa yang berada di antara dua sisi kalian, yaitu ‘jiwa kalian’.
Apa yang Nabi (s) maksudkan dengan “cintai aku melebihi cintamu terhadap dirimu sendiri?” Ego itu selalu beraktifitas. Tidak seperti jasad yang kadang tidak beraktifitas, ego tidak pernah berhenti beraktifitas, jika ia berhenti, roh akan keluar dan kalian akan mati. Ini berarti setiap saat ego selalu berusaha membuat kita lupa, karena jika tidak, kalian akan mengenal Tuhan kalian! Nabi (s) menginginkan kalian untuk lebih mencintainya dengan selalu mengingatnya sebagaimana firman Allah (swt):
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
InnaLLAHA wa malaikatahu yushAlluna ‘alannabiy ya ayyuhallazina amanu shallu ‘alayhi wa sallimu taslima. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya mengirimkan pujian kepada Nabi. Wahai orang yang beriman, kirimkanlah selawat dan salam kepadanya. (Al-Ahzab/33:56).
Wahai kaum Mukmin! Sampaikan selawat dan salam kepada Nabi (s) di setiap saat dalam hidup kalian, terus-menerus dan jangan berhenti. Kita harus mengucapkan selawat meskipun mulut kita dalam keadaan tertutup. Nabi (s) begitu penting dalam hidup kita sehingga kita harus menyebutnya di setiap waktu, di mana pun, kepada komunitas kita, kepada anak-anak kita, sehingga Allah akan rida dengan kita. Allah (swt) berfirman:
قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى
Qul la as’alukum ‘alayhi ajran illa al-mawaddata fil qurba. “Katakanlah, ‘Aku tidak meminta ganjaran dari kamu sekalian kecuali cintamu untuk keluargaku” (As-syura/42:23).
Allah (swt) menghendaki keluarga Nabi (s) untuk dicintai melebihi cinta kalian untuk diri kalian sendiri di antara dua sisi kalian.
Wahai umat Muslim, Jika kita benar-benar menjaga cinta kita kepada Nabi (s) dalam hidup kita, kehidupan kita akan kembali normal dan semua kesulitan hidup akan segera teratasi, sebagaimana Dia yang mengirimkan kepada kita kesulitan, Dia juga yang akan mengangkat kesulitan itu dari kita. Allah (swt) menguji nabi-nabi-Nya yang berada dalam jalan yang lurus dan mereka tidak keluar dari jalan itu. Jika kita mendapati sesuatu yang kita tidak mampu menerimanya, iman kita akan melemah dan kita mulai mengeluh. Ketika kamu berselawat, kegelapan dalam hati kalian akan pergi dan cahaya akan datang.
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ
Allah SWT berfirman : Allahu nurus samawati wal ardhi matsaluhu kamisykatun fiha mishbah. “Allah adalah Cahaya langit-langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya-Nya adalah seperti terdapat lubang gelap yang di dalamnya ada lampu.” (an-Nur/24:35)
Artinya, “Cahaya yang menerangkan segala sesuatu akan datang ke dalam hatimu.” Cahaya-Nya adalah seperti sebuah pelita.
Ma wasi’aniy sama’iy wa la ardhy wa lakin wasi’aniy qalbi ‘abdiyal mu’min. “Langit dan bumi-Ku tidak akan mampu mewadahi-Ku, tetapi hati hamba-Ku yang beriman mampu mewadahi-Ku.”
Cahaya itu akan terwadahi dalam hati seorang Mukmin dan cahaya itu akan membawa kedamaian. Semoga Allah menganugerahkan kita kedamaian ke dalam hati kita dan kepada masyarakat kita.
(Doa)
http://sufilive.com/Khutbat_al_Jum_a-3023.html
Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
7 Januari 2011, Burton, Michigan
Khotbah Jumat di Masjid As-Shiddiq
Wahai Muslimin, kaum beriman! Hari ini adalah hari Jumat dan merupakan hari yang suci. Allah (swt) memberikan penghargaan kepada umat Muslim dengan menghadiahkan mereka hari Jumat, saat di mana para Muslimin bertemu dan mengenal satu sama lain.
Hal yang sangat penting untuk kita pahami adalah mengapa Allah mengirimkan kita ke atas bumi ini ketika Allah berfirman dalam hadis Qudsi:
كنت كنزا مخفياً فأحببت أن أعرف فخلقت الخلق
Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtuhu an u’rafa fa khalaqtul khalq.
(Aku adalah harta simpanan yang tersembunyi. Kemudian Aku menginginkannya untuk dikenal maka Aku ciptakan makhluk).
Mengapa Allah menginginkan untuk dikenal? Dia menghendaki hamba-hamba-Nya yang tulus untuk mengetahui apa yang telah Dia bentuk dan ciptakan dari salah satu Nama Indah-Nya, yaitu “Al-Khaliq”, Sang Maha Pencipta.
Allah menghendaki mereka untuk mengetahui satu perkara: ‘Mencintai Allah!’ Dia yang Menciptakan kalian menghendaki kalian untuk mencintai-Nya, bukan mencintai yang lainnya dari makhluk-makhluk yang ada karena mahkhluk-makhluk itu pasti akan binasa.
Sedangkah Allah adalah Azaliyyun Abdiyyun, Maha Ada dari pra-keabadian sampai pasca keabadian!
Allah (swt) menghendaki hati kalian semua hanya untuk-Nya, itulah alasan Allah menguji Sayyidina Ibrahim (a) dengan puteranya, Sayyidina Isma’il (a), dengan mengatakan “Hatimu adalah hanya untuk-Ku.” Dan juga sebagai pelajaran untuk kita semua, Dia juga menguji Sayyidina Ya’qub (a) dengan puteranya, Sayyidina Yusuf (a) dengan berfirman, “Wahai Ya’qub! Janganlah engkau memperuntukkan hatimu bagi selain Aku. Engkau harus memberikan cintamu hanya untuk-Ku, dan tidak untuk yang lainnya”.
Untuk alasan ini juga Nabi Muhammad (s) bersabda dalam hadisnya yang terkenal: “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu” (Siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya).
Nabi Muhammad (s) dalam hadis ini menjelaskan bahwa cinta itu bukanlah hanya dengan mengatakan “Aku mencintaimu”, tetapi harus dengan tindakan.
Artinya, ketika kalian mencintai seseorang, hal baik apapun yang engkau sukai, engkau juga ingin orang-orang yang engkau cintai untuk merasakannya/memilikinya.
Kesenangan apa pun yang engkau miliki, engkau ingin berbagi dengan mereka. Itulah mengapa Rasul (s) berbagi dengan umatnya.
Rasul (s) akan memastikan bahwa seluruh umatnya akan masuk Surga, dan Rasul (s) tidak akan meninggalkan mereka.
Jika iman kalian kuat maka cinta kalian juga akan kuat. Dan jika cinta kalian kuat maka iman kalian akan menjadi kuat juga.
Ini tergantung dengan bagaimana kalian memahami diri kalian masing-masing.
Jangan biarkan ego kalian menghalangi kalian untuk mengenal Tuhan kalian, karena jika kalian berbuat itu berarti kalian menghalangi diri kalian sendiri untuk mengenal hakikat diri kalian.
Jika cinta kalian hilang, maka iman kalian juga sirna. Rasul (s) bersabda,
“Jika kalaian sekalian mencintaiku, kalian akan mencintai apa yang aku lakukan (sunahku).”
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Qul in kuntum tuhibbunaLLAHA fattabi’uni yuhbibkumuLLAH wa yaghfir lakum zunubakum waLLAHU Ghafurun Rahim. (Katakan [kepada mereka Wahai Muhammad], Jika kamu sekalian [benar-benar] mencintai Allah, ikutilah aku! Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang [Ali Imran: 31])
Bagaimana caranya menunjukkan cintamu? Dengan mengikuti sunnah Rasulullah (s), sebagaimana dalam hadisnya:
Man ahya sunnatii faqad ahabbanii, wa man ahabbanii, kana ma’iy fil jannah. (Siapa yang menghidupkan sunahku berarti dia mencintaiku, dan siapa yang mencintaiku maka dia akan bersamaku di Surga).
Pengertian sunah sebagaimana yang telah dipahami adalah apa-apa yang Rasul (s) lakukan. Jadi kalian harus mengikuti itu, khususnya menghindari diri dari ghibah (membincangkan keburukan orang lain) sebagaimana Rasul (s) tidak pernah melakukan hal itu kepada siapapun, dan kalian juga tidak boleh melakukan itu.
Tetapi saat ini kita telah kehilangan iman dan cinta kita. Rasul (s) bersabda, “Siapa yang mencintaku akan mengikuti jalanku, dan akan bersamaku di Surga”, berarti, jika kalian sekalian mempraktikkan sunah Rasul (s) kalian akan menjadi penghuni Surga.
Apakah kita mengikuti sunah Rasul (s)? Banyak sekali sunah-sunah Rasul (s) yang kita abaikan, dan kita hanya melakukan sedikit sekali dari sunahnya. Kita pergi untuk salat jumat kemudian kembali (meninggalkan sunahnya), atau kita mengerjakan salat kemudian kembali (meninggalkan sunahnya). (Ini berarti) Kita tidak melakukan apa pun dari yang telah Rasul (s) praktikkan.
Wahai kaum Muslimin, jangan kalian tanggalkan jati diri kalian sebagai Muslim! Saat ini kita telah sedikit demi sedikit menanggalkannya. Apa sebetulnya jati diri kalian? Bagaimana kita saling mengetahui bahwa kita adalah kaum Muslim? Jika kalian bepergian kalian harus menunjukkan identitas kalian, foto kalian. Saat ini kita kehilangan foto kita (sebagai Muslim). Bagaimana caranya untuk mendapatkan kembali ‘identitas’ itu? Caranya adalah dengan menunjukkan cinta kita kepada Rasul (s), dengan memahami apa yang telah Allah berikan untuk Rasul (s) yang Allah tidak berikan kepada siapapun. Penghormatan kepada Nabi Muhammad (s) harus menjadi prioritas kita yang paling tinggi, begitu juga penhormatan terhadap agama kalian.
Saat ini orang-orang merasa malu untuk mengatakan dirinya Muslim. Rasul (s) bersabda, “Cintailah aku”. Hidupkanlah sunah Nabi Muhammad (s) dan jangan biarkan orang lain meremehkan kita karena yang Haq adalah Islam.
وَقُلْ جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
Allah SWT berfirman, Wa qul ja-al haqq wa zahaqal batilu. Innal batila kana zahuqa. Katakan (Wahai Muhammad), Kebenaran telah datang dan kebatilan telah sirna… (Al-Isra [17]: 81)
Ini adalah sesuatu yang pasti. Berbahagialah wahai kaum Muslim bahwa Allah telah memberikan kita kebenaran itu. Kalian menjadi muslim bukan karena kalian itu pintar, bukan. Kalian menjadi Muslim karena Allah (swt) menganugerahkan itu untuk kita. Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu, “Siapa yang mengenal dirinya, dia mengenal siapa Tuhannya.”
Nabi Muhammad (s) bersabda: La yu’minu ahadukum hatta akuna ahabba ilayhi min waladihi wa walidihi wan nasi ajma’in wa min nafsihillazi bayna janbayy. (Kamu belum menjadi orang beriman sampai kamu mencintaiku melebihi cintamu untuk anakmu, cintamu untuk orangtuamu, dan cintamu untuk seluruh umat manusia. Dan cintailah aku melebihi cintamu kepada dirimu sendiri).
Kalian belum menjadi Mukmin, tetapi kalian adalah Muslim dan belum menjadi Mukmin sampai kalian mencintai Nabi (s) melebihi siapapun yang kalian cintai di dunia ini. Apakah kalian mencintai Nabi (s) melebihi cinta kalian untuk anak-anak kalian? TIDAK. Kita mengira anak-anak kita akan menyelamatkan kita. Itu keliru. Yang akan menyelamatkan kalian hanyalah syafa’atun Nabiy. Untuk itu Nabi (s) bersabda, “Cintailah aku melebihi cintamu terhadap dirimu sendiri. Jika kamu ingin selamat, kamu harus mencintaiku melebihi cintamu untuk saudara-saudaramu, orang tuamu, anak-anakmu, dan semua isi dunia.” Dan apa yang Nabi (s) katakan pada bagian akhir dari hadisnya? Tidak saja kalian harus mencintai Nabi (s) melebihi keluarga kalian dan dunia, tetapi kalian juga harus mencintai Nabi (s) melebihi cinta kalian terhadap diri kalian sendiri, apa yang berada di antara dua sisi kalian, yaitu ‘jiwa kalian’.
Apa yang Nabi (s) maksudkan dengan “cintai aku melebihi cintamu terhadap dirimu sendiri?” Ego itu selalu beraktifitas. Tidak seperti jasad yang kadang tidak beraktifitas, ego tidak pernah berhenti beraktifitas, jika ia berhenti, roh akan keluar dan kalian akan mati. Ini berarti setiap saat ego selalu berusaha membuat kita lupa, karena jika tidak, kalian akan mengenal Tuhan kalian! Nabi (s) menginginkan kalian untuk lebih mencintainya dengan selalu mengingatnya sebagaimana firman Allah (swt):
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
InnaLLAHA wa malaikatahu yushAlluna ‘alannabiy ya ayyuhallazina amanu shallu ‘alayhi wa sallimu taslima. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya mengirimkan pujian kepada Nabi. Wahai orang yang beriman, kirimkanlah selawat dan salam kepadanya. (Al-Ahzab/33:56).
Wahai kaum Mukmin! Sampaikan selawat dan salam kepada Nabi (s) di setiap saat dalam hidup kalian, terus-menerus dan jangan berhenti. Kita harus mengucapkan selawat meskipun mulut kita dalam keadaan tertutup. Nabi (s) begitu penting dalam hidup kita sehingga kita harus menyebutnya di setiap waktu, di mana pun, kepada komunitas kita, kepada anak-anak kita, sehingga Allah akan rida dengan kita. Allah (swt) berfirman:
قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى
Qul la as’alukum ‘alayhi ajran illa al-mawaddata fil qurba. “Katakanlah, ‘Aku tidak meminta ganjaran dari kamu sekalian kecuali cintamu untuk keluargaku” (As-syura/42:23).
Allah (swt) menghendaki keluarga Nabi (s) untuk dicintai melebihi cinta kalian untuk diri kalian sendiri di antara dua sisi kalian.
Wahai umat Muslim, Jika kita benar-benar menjaga cinta kita kepada Nabi (s) dalam hidup kita, kehidupan kita akan kembali normal dan semua kesulitan hidup akan segera teratasi, sebagaimana Dia yang mengirimkan kepada kita kesulitan, Dia juga yang akan mengangkat kesulitan itu dari kita. Allah (swt) menguji nabi-nabi-Nya yang berada dalam jalan yang lurus dan mereka tidak keluar dari jalan itu. Jika kita mendapati sesuatu yang kita tidak mampu menerimanya, iman kita akan melemah dan kita mulai mengeluh. Ketika kamu berselawat, kegelapan dalam hati kalian akan pergi dan cahaya akan datang.
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ
Allah SWT berfirman : Allahu nurus samawati wal ardhi matsaluhu kamisykatun fiha mishbah. “Allah adalah Cahaya langit-langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya-Nya adalah seperti terdapat lubang gelap yang di dalamnya ada lampu.” (an-Nur/24:35)
Artinya, “Cahaya yang menerangkan segala sesuatu akan datang ke dalam hatimu.” Cahaya-Nya adalah seperti sebuah pelita.
Ma wasi’aniy sama’iy wa la ardhy wa lakin wasi’aniy qalbi ‘abdiyal mu’min. “Langit dan bumi-Ku tidak akan mampu mewadahi-Ku, tetapi hati hamba-Ku yang beriman mampu mewadahi-Ku.”
Cahaya itu akan terwadahi dalam hati seorang Mukmin dan cahaya itu akan membawa kedamaian. Semoga Allah menganugerahkan kita kedamaian ke dalam hati kita dan kepada masyarakat kita.
(Doa)
http://sufilive.com/Khutbat_al_Jum_a-3023.html
Langganan:
Postingan (Atom)
