Selasa, 30 November 2010

Cahaya Cinta

oleh Kiai Budi pada 28 November 2010 jam 20:46

Sedulurku tercinta,mungkin orang banyak yang jenuh lalu bosan dan apatis terhadap sejarah yang carut marut,dimana wajah anggun peradaban seolah lenyap dan tinggal kenangan.
Kekerasan demi kekerasan menghiasi bumi,negara,keluarga dan diri sendiri,sehingga kesantunan hidup musnah dan nampaklah wajah beringas sebagai letupan kemarahan--mudah tersentil.

Seolah keadaan ini mengotori kehidupan secara luas,tetapi tidak bagiku,kehidupan yang dicipta dengan cintaNya ini akan selalu memilki harmoni,sementara kotoran itu akan dikembalikan kepada siapa yang mengotorinya.
Aku mendengar banyak orang yang gelisah dan tidak tenteram,aku mendengar keluarga yang terkoyak,aku mendengar kampung yang bentrok gara-gara pesoalan yang tidak jelas jluntrungnya,aku mendengar antar desa saling perang,aku mendengar antar wilayah porak poranda karena permusuhan,aku mendengar antar negara bersitegang karena perang berbagai kepentingan,aku mendengar,aku mendengar,aku mendengar.

Agama yang notabene menentramkan manusia ternyata diperalat juga untuk membenarkan konflik itu sehingga keadaan menjadi tambah tak terkendali,semua berujung kepada tragedi kemanusiaan: terkoyaknya jiwa-jiwa dan raga-raga.Ada sebuah syair yang mengatakan: aku heran ada orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk,tetapi aku lebih heran lagi ada orang yang membeli dunia dengan agama,yang lebih mengherankan lagi dari keduanya adalah orang yang menjual agamanya dengan dunia,yang lain adalah orang yang menghutangkan agama itu--inilah yang lebih mengherankan lagi.Dalam kaitan ini Rumi menyatakan:pertengkaran orang dewasa itu sama tidak berartinya dengan pertengkaran dunia kanak-kanak.Bahkan beliau menyatakan juga bahwa induk dari segala berhala adalah apa yang disebut:aku atau kami.Adalagi syair Jawa yang menyatakan bahwa b anyak orang yang tahu tentang dalil-dalil tetapi suka mengkafirkan pihak lain,sementara kafirnya diri sendiri tidak sempat digubris,kafirnya diri sendiri ini bentuknya adalah kotornya hati dan akalnya itu.

Bukankah dalam realitas sosial sering terdengar: aku harus menang dan harus kuasa,hal ini menjadi ruh terjadinya konflik berkepanjangan,rumit dan jlimet itu.Bukankah dalam banyak kasus bentrok itu bagian dari pertentangan yang saling mencari klaim: kami harus menang dan harus kuasa,hal ini menjadi pembangkit peperangan yang tidak lucu itu.Dimanakah "kita" dalam pengertian kebersamaan itu?Kita dalam komitmen sama-sama makhluk Sang Khalik,yang harus saling mengenal anatar pribadi,suku dan bangsa itu.Kita dalam pengertian sebagai keluarga Tuhan semua,sebagaimana firmanNya itu: semua makhluk adalah keluargaKu.Ternyata aku lihat semua bentrok itu berada dalam lapisan buih--kalau diibaratkan samodra,dan buih itu semua berada di pinggir-pinggir pantai,di manapun--kata Rumi--kalau di pinggir pantai yang akan ditemukan adalah penjajah demi penjajah-- yang hanya berbicara kuasa bukan cinta.

Dalam sunyi di kedalaman semesta ternyata masih aku temukan butiran mutiara-mutiara yang tak terhingga banyaknya,dari sinilah aku selalu yakin terhadap cinta itu selalu ada dan abadi.
Dan buih yang terapung itu ternyata akan lenyap lalu menjadi butiran-butiran pasir di pinggir pantai yang indah juga--di tanganNya.Cinta akan mensucikan segala yang najis,cinta akan mendekatkan segala yang jauh,cinta akan medamaikan segala yang konflik,cinta akan mewangikan segala yang busuk,cinta akan meringankan segala yang berat,cinta akan menyembuhkan segala yang sakit,cinta akan memaafkan segala yang salah,cinta akan meng-emaskan segala yang tembaga,cinta akan menyambung segala yang putus,cinta akan memudahkan segala yang sulit,cinta akan memaniskan segala yang pahit,cinta akan menggembirakan segala yang menyusahkan,cinta akan mensenyumkan segala tangisan,cinta akan mensahayakan segala raja,cinta akan,cinta akan,cinta akan......

Kawan-kawan,sudah saatnya segala bentuk kekerasan dan pertentangan harus dihentikan,lebih-lebih kekerasan bernuansa agama dengan cahaya Cinta,di tengah puing peradaban jangan putus asa karena selalu ada cahaya,di tengah porandanya sejarah jangan putus harapan karena selalu ada harapan itu sendiri,abadi...

Senin, 29 November 2010

Keteladanan Dalam Totalitas Sahabat Abu Bakar


Antara satu sahabat dan sahabat yang lainnya memiliki keutamaan yang berbeda-beda. Tapi pasti masing-masing sahabat mempunyai sirrul A’dzom, keutamaan yang luar biasa. Keutamaan sahabat Abu Bakar, Sahabat Umar, Sahaba Utsman, Sahabat Ali semuanya hakikatnya adalah untuk umat. Bahkan kelemahan mereka adalah untuk umat. Mohon sampai sini tidak disalah pahami.

Pada uraian sebelumnya saya membahas tentang sahabat Abu Bakar. Sahabat Abu Bakar ini adalah sosok yang pengabdiannya pada agama dan pada Nabi Saw sangat total. Sebagai ilustrasi kita merujuk pada peristiwa Hijrah Nabi Saw. Bermula ketika di Gua Tsur Sayidina Abu Bakar Sidiq menutup lubang-lubang yang ada di gua itu dengan pakaian beliau, ketika masih ada lubang yang tersisa, terpaksa lubang tersebut beliau tutup dengan jempol kaki beliau.

Sebab biasanya lubang-lubang di Gua di huni oleh hewan-hewan berbisa, seperti ular, kala jengking dan binatang lainnya. Kehawatiran Sayidina Abu Bakar terjadi, jempol beliau dipatuk ular (menurut pendapat lain oleh kala jengking). Beliau menahan sakit yang luar biasa itu sampai tubuhnya gemetar, keringat bercucuran. Beliau tahan agar tidak mengganggu Nabi Saw yang sedang tidur, sedang isirahat.

Demikian akhlak, pengorbanan Sayidina Abu Bakar Sidiq terhadap Nabi Saw, sampai seperti itu. Kalau kita ke kiai kita sendiri ketika kiai kedatanga tamu, padahal kiai sedang tidur, kita berani menetuk pintu kamarnya. Anak terhadap orang tuanya juga demikian. Adab atau tatakrama Sahabat Abu Bakar pada Rasulullah Saw seperti itu. Teladan Sahabat Abu Bakar itu sangat luar biasa, teladan pengabdian umat pada Nabinya.

Ini sebenarnya teladan bagi kita semua untuk mengabdi pada guru, sesuai kemampuan kita. Pengabdian pada guru bisa mengantarkan pada futuh (dibuka pemahaman terhadap ilmu dan diberikan taufiq untuk mengamalkannya), sebab manfaatnya ilmu tidak terkait dengan kepintaran pelajar sendiri. Umpanya kalau di pesantren tidak sedikit santri yang hafal kitab Ibnu Aqil, Amrithi nya luar biasa, penguasaan ilmu alatnya tidak diraukan, tapi ilmunya tidak manfaat.

Keistimewaannya Sahabat adalah mereka memiliki Akbarul Mafatih, sahabat mempunyai kunci futuh yang sangat sangat isimewa, sangat luar biasa. Sebab itu alimnya tidak seberapa tapi manfaatnya luar biasa. Kita sekarang mempunyai kitab menumpuk, tafsir Al Quran ada ribuan jilid dengan judul dan pembahasan yang beraneka ragam, adapaun sahabat pengetahuan agamanya hanya menunggu dari apa yang disampaikan Nabi Saw, menunggu wahyu turun. Ilmunya pasa-pasan.

Tapi maqomah (kedudukan) ilmu yang sedikit itu bisa menjadi luas luar biasa. Seperti garam yang menyebar dan menyatu di lautan luas. Makanya sebodoh-bodoh-nya Sahabat tetep alim, sebodoh-bodohnya sahabat adalah seorang ‘Arif. Se-agung dan setinggi-tinggi-nya pangkat wali pada umat ini tidak dapat mengalahkan keutamaan sahabat yang sangat bodoh. Sahabat itu demikian adanya dan diberi futuh yang sangat besar oleh Allah Swt.

Kembali ke kisah tadi diatas. Setelah Nabi terjaga dan tahu apa yang terjadi pada Sayidina Abu Bakar, Nabi Saw mendoakan Sayidina Abu Bakar. Nabi Saw membacakan fatihah, setelah di bacakan fatihah jempolnya Sayidina Abu Bakar yang membengkak pulih seperti semula. “Abu Bakar Sidiq, kamu akan mati syahid sebab kejadian ini, dan keturunanmu akan menjadi para syuhada...”. Doa Nabi ini terbukti. Saya kasih contoh dua saja. Pertama Sayidi Syaikh Muhyidin Ibnu ‘Arobi, beliau ini keturunannya Sayidina Abu Bakar, yang kedua Sayid Bakri yang mempunyai Sholawat Fatih; Allahumma Sholi ‘Ala Sayidina Muhammad Al Fih lima ugliq, wal Khotimi lima sabaq, nashiril Haq bil Haq walhadi ila Sirotil Mustaqim Sholollahu alaihi wa ala alihi wa ashabibi haqqo qodrihi wamiqdarihil al Adzim.

Di Mesir, Yaman dan dibelahan bumi manapun siapa yang tidak kenal kebesaran Sayid Bakri siapa. Wali Agung, Mursyid Thoriqoh Kholwatiyyah. Dan siapa yang tidak tahu akan kehebatan Syaikh Muhyidin Ibnu ‘Arobi. Kitab-kitabnya sangat banyak, seperti Futuhat Al Makiyyah yang berjilid-jilid, al Washoya dan lain-lain. Selain banyak, karang beliau terkenal sulit, seperti Futuhat Al Makiyyah. Karena itu tidak sedikit para ulama demi kehati-hatian melarang orang yang belum mumpuni ilmunya membaca kitab itu. Karena untuk memhami kitab itu perlu menguasai perangkat ilmu-ilmu alat dan syari’at yang cukup.

Sayidina Umar juga demikian, wafatnya dibunuh, seperti sebab wafatnya Sayidina Abu Bakar adalah terkena racun waktu di gua Hiro itu. Kenapa ulama, aulia yang pangkatnya sedemikian besar seperti beliau wafatnya mengenaskan seperti itu. Itu bukti pengabdian beliau-beliau untuk umat ini, untuk Rasulullah Saw. demikian juga dengan wafatnya Sayidina Utsman, Sayidina Ali, Sayidina Hasan, dan Sayidina Husain serta ulama-ulama lainnya.

Oleh sebab itu kita jangan sekali-kali membenci salah satu dari para Sahabat. Banyak yang wajahnya bercahaya kemudian wajahnya menjadi butek, karena berkomentar tentang kejadian yang terjadi diantara para sahabat Nabi, yang kita sama sekali tidak tahu kejadian sebenarnya bagaimana. Wallah ‘A’lam.

Minggu, 07 November 2010

Kedatangan Kembali Nabi Isa as ibn Maryam

Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar-Rabbani qs

Dari Buku Kiamat Mendekat

(The Approach of Armageddon, by Shaykh Muhammad Hisham Kabbani)





Bismillah hirRohmanniRohim



Kembalinya Nabi Isa ibn Maryam as dan Tanda Kiamat



Turunnya Nabi Isa ibn Maryam as ke bumi dari langit dijelaskan dalam berbagai hadis Nabi. Nawâs ibn Sama‘ân meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: ‘Îsâ ibn Maryam akan turun di menara putih di sebelah selatan Damaskus … sambil meletakkan kedua tangannya di sayap dua malaikat. Ketika ia menundukkan lehernya, butiran keringatnya akan jatuh menetes dari kepalanya, dan ketika ia mengangkatnya kembali, butiran laksana mutiara akan bertebaran keluar dari kepalanya. Setiap orang kafir yang mencium wangi tubuhnya akan mati dan tarikan napasnya akan mencapai jarak sejauh mata memandang.”



Nabi saw. menggambarkan turunnya Nabi Isa as di menara putih di sebelah selatan Damaskus. Menara tersebut merupakan bagian dari apa yang kita kenal dengan Masjid al-Umawi. Dari sana, ‘Îsâ, bersama-sama dengan al-Mahdî, akan memimpin orang-orang beriman untuk menghadapi Dajal, Sang Anti-Kristus. Dalam hadis lain, Nabi saw. bersabda: Orang-orang Islam akan berbaris lurus untuk melaksanakan salat.



‘Îsâ ibn Maryam akan turun dan memimpin salat. Ketika musuh terkutuk, Dajal, melihatnya, ia akan larut seperti garam dalam air. Jika ‘Îsâ membiarkannya, ia akan sepenuhnya larut (dan tewas), tetapi Allah akan membunuhnya melalui tangan ‘Îsâ. Lalu orang-orang akan melihat darah Dajal di ujung tombaknya. Jâbir ibn ‘Abd Allâh meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: ‘Îsâ akan turun kepada mereka dan pemimpin mereka (al-Mahdî) akan berkata kepadanya, “Pimpinlah salat kami!” Dan dia akan menjawab, “Tidak. Beberapa orang di antara kalian adalah pemimpin bagi yang lainnya. Dengan cara itu Allah telah memuliakan umat ini.”



Ibn Qayyim menjelaskan dalam Manâr al-Munîf bahwa pemimpin dalam hadis ini adalah al-Mahdî, yang akan meminta ‘Îsâ untuk mengimami salat kaum muslim. ‘Îsâ akan hidup di dunia bukan sebagai nabi, melainkan sebagai pengikut Muhammad. Orang-orang Islam akan memandangnya sebagai pemimpin mereka. Menurut al-Syalabî, al-Mahdî akan memimpin umat Islam dalam salat, dan ‘Îsâ akan memimpin umat Islam berdasarkan syariat.



Dalam kitab hadisnya, bab “Turunnya ‘Îsâ ibn Maryam untuk Memerintah berdasarkan Syariat Nabi Muhammad”, Muslim menekankan bahwa ‘Îsâ akan memerintah berdasarkan hukum Islam. Pada kenyataannya, Nabi saw. menjelaskan bahwa ‘Îsâ akan melaksanakan haji, dan dalam perjalanannya ia akan berhenti untuk mengunjungi makam Nabi di Madinah. Abû Hurayrah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya ‘Îsâ ibn Maryam akan diutus sebagai hakim yang bijak dan penguasa yang adil. Dia akan melakukan perjalanan ibadah haji dan datang ke makamku untuk memberi salam, dan aku akan menjawab salamnya.



Allah berfirman: Tidak ada seorangpun dari ahli kitab, kecuali akan beriman kepada ‘Îsâ sebelum kematiannya. Dan di Hari Kiamat nanti, ‘Îsâ akan menjadi saksi terhadap mereka. (Q 4:159). Seperti halnya semua nabi, ‘Îsâ akan turun dengan membawa pesan berupa keharusan tunduk kepada Allah, dan itulah Islam. Ayat tadi menunjukkan bahwa ketika ‘Îsâ kembali ke dunia, ia secara pribadi akan memperbaiki kekeliruan penggambaran dan kesalahan penafsiran tentang dirinya. Ia akan menegaskan pesan sebenarnya yang ia bawa ketika ia menjadi nabi, dan bahwa ia tidak tidak pernah mengklaim sebagai anak Tuhan.



Lebih jauh lagi, pada kedatangannya yang kedua, ia akan kembali menegaskan prediksinya pada kedatangannya yang pertama tentang kesaksiannya terhadap nabi akhir zaman, Muhammad saw. Pada kedatangannya yang kedua, banyak orang nonmuslim yang akan menerima ‘Îsa sebagai hamba Tuhan, seperti yang diyakini oleh seluruh umat Islam.

Ibn ‘Abbâs berkata, “Ketika ‘Îsâ turun ke dunia tidak akan tersisa lagi di muka bumi ini orang yang menyembah tuhan selain Allah, dan semuanya akan percaya kepada Nabi ‘Îsâ as dan meyakininya sebagai ruh Allah dan firman-Nya, hamba dan utusan-Nya.” Pada hari berbangkit, ‘Îsâ akan memberikan kesaksian bahwa pada kedatangannya yang kedua, para ahlulkitab itu benar-benar beriman kepadanya dan kepada Nabi Muhammad saw. Sebaliknya, ‘Îsâ juga akan bersaksi memberatkan orang-orang yang menolak ajarannya, yang mengubah ajarannya dengan mengatakan bahwa dirinya adalah anak Tuhan, dan yang tidak mengakui Nabi Muhammad saw. sebagai nabi terakhir.



‘Îsâ akan memerintah selama 40 tahun, dan bumi akan dipenuhi dengan keadilan dan kebahagiaan. Dalam kitab tafsirnya, Abû Su‘ûd mengatakan, “… pada suatu masa ketika tidak akan ada di bumi kecuali umat yang satu; singa, macan, dan serigala akan hidup berdampingan dengan unta, sapi, dan domba, selama empat puluh tahun. Dan setelah itu ‘Îsâ akan meninggal dunia dan dimakamkan.



Abû Hurayrah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: ‘Îsâ akan tinggal di bumi selama 40 tahun dan kemudian meninggal dunia, dan orang-orang Islam akan menyalati jenazahnya. Sepuluh tahun setelah ‘Îsâ wafat, dunia akan kembali dipenuhi dengan kerusakan sehingga tidak ada lagi orang yang mengucapkan Lâ ilâha illâ Allâh, artinya tidak ada lagi penganut tauhid. Ketika ketidakadilan kembali melanda dunia, itulah saat sangat dekatnya Kiamat. Allah akan mengirimkan hembusan angin sepoi-sepoi yang segar lagi semerbak dari surga untuk mengambil jiwa orang-orang beriman.

Jumat, 05 November 2010

"RabbunAllah, HasbunAllah"

Sultan al-Awliya
Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani
29 October 2010 Lefke, Cyprus


As-salaamu `alaykum `ibaadAllah. (Mawlana Syekh berdiri) Ash-shalaat wa 's-salaaam `alaa Sayyidina Muhammad wa `alaa aalihi wa shahbihi wa sallam wa `ala jamii`i 'l-anbiya wa 'l-mursaliin wa man tabi`ahum bi-ihsaanin ila yawmi 'd-diin. (Mawlana Syekh duduk).

Wahai manusia! Hamdanlillah. Wahai para hadirin! Kita berikan takzim tertinggi kita kepada Tuhan kita, Allah (swt), dan salam dan takzim kepada deputi-Nya yang tercinta, Sayyidi 'l-Awwaliin wa ’l-Akhiriin, Sayyidina Muhammad (s)! (Mawlana Syekh berdiri dan duduk) Segala sesuatu harus berada di bawah judul Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim. Kita ucapkan, Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim, dan a`uudzu billahi min asy-Syaythaani 'r-rajiim.

Wahai manusia! Berlarilah dari Setan! Ini adalah hari terbaik, Jumat, di dunia dan akhirat. Jika kalian ingin memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat, hormatilah hari Jumat.

Wahai manusia! Saya adalah orang yang lemah. Sekarang saya datang ke sini untuk Salat Jumat, alhamdulillah. Saya melihat bahwa orang-orang menghadiri Jumat dan kemudian berzikir. Saya hanya akan memberikan nasihat yang pendek hari ini sebagaimana yang mereka kirimkan kepada saya. Pertama-tama, saya duduk di sini dan dua kata telah diberikan kepada saya. SubhaanAllah, seluruh dunia kini berada di bawah tekanan, di antara orang-orang dan di antara satu-sama lainnya. Dan dari langit, ada atharu ghadab, tanda-tanda kemurkaan dari Tuhan Surgawi.

Wahai manusia! Bagaimana kita bisa selamat? Saya hanya duduk di sini dan ada (inspirasi Ilahi) yang masuk ke dalam kalbu saya untuk mengatakan hal ini dengan sangat mudah. Itu adalah sebuah hadiits an-nabawiyyatu 'sy-syariifa, dan semua Anak Adam harus mendengar karena setiap orang berada di bahwa kondisi yang sangat berat dan berada dalam tekanan yang berat! Gunung berapi dan angin topan menimpa mereka, dan jangan pikir bahwa angin topan itu hanya melanda Amerika. Segala sesuatu akan terjadi berdasarkan perintah surgawi, "Pergi ke sana dan singkirkan mereka!" Sekarang orang-orang sedang gemetar, mengapa? Mungkin akan terjadi gempa bumi, tak ada yang tahu apakah akan terjadi banjir yang akan menghanyutkan segalanya. Mungkin akan ada badai yang lebih besar dan lebih dahsyat, datang dan memusnahkan segala sesuatu. Kini orang juga takut di mana-mana ada gunung berapi. Jika orang berada dalam ketakutan mendalam terhadap bom nuklir, apa itu? Itu adalah mainan untuk anak-anak (dibandingkan dengan apa yang Allah (swt) dapat kirimkan kepada mereka)! (Mawlana Syekh tertawa) Badai dapat mendatangi reaktor nuklir dan memusnahkan mereka. SubhaanAllah. Allah! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Hasbun Allah, RabbunAllah. HasbunAllah, RabbunAllah. HasbunAllah, RabbunAllah. (Mawlana Syekh berdiri dan duduk) Laa ilaaha illa-Llah. Subhaan Sen. Sultaan Sen.

Ayyuhal `ulama! ulama-ulama Arab, ulama-ulama Hind (India?), ulama-ulama Yaman, ulama-ulama Syam, ulama-ulama Baghdad, ulama-ulama Mesir, ulama-ulama Libya! Dengarlah, wahai ulama! Saya tidak mengatakan "ulama-ulama Salafi" sekarang, selesai! Ulama-ulama! Saya berusaha untuk menjadi rabbani, tetapi saya lemah. Saya berusaha untuk mengikuti mereka.

Wahai manusia! Berusahalah untuk mengikuti rabbaaniyiin, orang-orang yang berada di jalan Tuhan Surgawi! Masyaa-Allah, masyaa-Allah. Karuniakanlah kepada kami, yaa rijaalAllah! Dan saya bicara dua kata kepada seluruh manusia di dunia. Itu adalah wasiat, nasihat dari Nabi Penutup (s)!

SubhaanAllah! Bagaimana ini datang kepada saya? Saya tidak memikirkannya, karena setiap orang meminta perlindungan dan Nabi Penutup (s) memberikannya kepada manusia. Bagaimana itu bisa terjadi? Kaana Rasuul shalaat was salaam `alay, kaana ar-rasuul shalawaatullah wa salaamahu `alayh, maa naqatu wa raghu ibn `amuhu Sayyidina `Abbas. Hadiits syariif, itu melalui ulama-ulama kita, bahwa Rasulullah (s), (Mawlana Syekh berdiri dan duduk) telah siap dan berkata, "Wahai sepupuku! Kau meminta untuk berada di bawah lindungan Ilahi di dunia dan akhirat. Ahfizhillah yahfazhak, ‘Jagalah Allah, Allah akan menjagamu.' Kullu 'l-`uluum hunaak, ‘Setiap ilmu ada di sini.’ Jagalah kehormatan tertinggi kepada Allah (swt)! Hormatilah Allah (swt) dan Allah (swt) akan melindungi kalian di dunia dan akhirat. Jangan khawatir! Selesai!"

Wahai ulama-ulama! Katakan ini kepada para pengikut kalian di seluruh timur dan barat. Wahai Umat Kristen! Katakan hal ini kepada para pemimpin, Paus yang suci! Saya memintanya untuk menerjemahkan apa yang saya katakan, apakah itu benar atau tidak. Jika itu benar, mereka harus berkata kepada umat mereka, "Wahai manusia! Tetaplah berada di jalan yang benar, jalan yang aman, jalan yang bersih. Kalian harus meninggalkan gaya hidup yang sekarang kalian jalani, karena itu adalah gaya hidup terburuk. Jika kalian ingin selamat di dunia dan akhirat, hormatilah Tuhan kalian, Allah (swt)." Allahu Akbar. (Mawlana Syekh berdiri dan duduk).

Ayyuhal patriarkat (merujuk pada tokoh atau uskup agung--penerj.) dan juga orang-orang suci, rabbi kepala! Jika saya mengatakan sesuatu yang salah, katakan, "Syekh berbicara hal yang salah." Apa yang tertulis di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru? Apakah mereka mengajarkan manusia? Seluruh kitab suci mengajarkan, "Wahai manusia! Jagalah kehormatan dan kepatuhan dalam Hadirat Ilahi. Orang-orang yang patuh akan selamat, dan bagi orang-orang yang tidak patuh, hanya akan mendapat ketakutan di dunia dan akhirat."

Ini, saya pikir, waaridun min as-samaa, inspirasi Ilahiah ini baru saja masuk ke dalam kalbu saya. Dapatkah seseorang mengatakan tentang hal ini? Tidak bisa! Tidak bisa! Seluruh agama memanggil manusia dan seluruh nabi berseru kepada manusia, "Wahai manusia! Jadilah hamba yang patuh terhadap Tuhan Surgawi dan kalian akan memperoleh hidup yang manis di dunia dan Kehidupan yang abadi di akhirat. Jagalah kehormatan terhadap Tuhan kalian dan berusahalah untuk menjadi hamba-hamba yang patuh, dan waspadalah jangan sampai menjadi tidak patuh. Setiap masalah, azaab, segala macam hukuman akan menimpa mereka yang tidak patuh!"

Wahai orang-orang terpelajar! Kalian harus mendengarkan hal ini dan kalian harus berusaha untuk membuat para pengikut kalian menjadi hamba yang patuh! Jika kalian bersikeras ingin menjadi oang yang tidak patuh, kalian akan selalu berada dalam hidup yang penuh ketakutan. Ketika hukuman datang kepada kalian, kalian akan ketakutan, dan tidak ada lagi hidup yang manis bagi mereka. Tetapi bagi orang-orang yang patuh, mereka dapat tidur, dan tidak pernah berpikir bahwa gempa bumi akan menimpa mereka, atau banjir, atau kebakaran atau angin topan, karena itu tidak akan menyentuh mereka.

Wahai manusia! Peganglah nasihat ini. Kalian tahu, saya berusaha untuk menjadi orang yang patuh. Jangan biarkan orang-orang yang tidak patuh menjadi pemimpin kalian; ini juga sangat penting. Wahai manusia! Jangan biarkan orang-orang yang tidak patuh, dan orang-orang kafir menjadi penguasa kalian. Jika kalian merasa takut terhadap mereka, kalian harus mengucapkan,

RabbunAllah HasbunAllah. RabbunAllah HasbunAllah.
RabbunAllah HasbunAllah. RabbunAllah HasbunAllah.
RabbunAllah HasbunAllah. RabbunAllah HasbunAllah.
RabbunAllah HasbunAllah. RabbunAllah HasbunAllah.

Jika semua orang yang hidup, misalnya di suatu negeri mengucapkan, RabbunAllah HasbunAllah, para tiran, penindas di sana pasti akan jatuh! Jika ahl 'usy-syaam (orang-orang Damaskus) mengucapkan, RabbunAllah HasbunAllah, RabbunAllah HasbunAllah, RabbunAllah HasbunAllah, RabbunAllah HasbunAllah, RabbunAllah HasbunAllah, RabbunAllah HasbunAllah selama empat puluh hari, jabaabira itu, tiran itu akan jatuh! Jika ahlu 'l-Iraq (orang-orang Irak) mengucapkan, RabbunAllah HasbunAllah, RabbunAllah HasbunAllah, RabbunAllah HasbunAllah; selama empat puluh hari, pasti akan terjadi perubahan. Jika ahlu 'fars (orang-orang Persia) mengucapkan RabbunAllah HasbunAllah, RabbunAllah HasbunAllah, RabbunAllah HasbunAllah, Allah akan mengubahkan dalam empat puluh hari, di mana-mana!

Wahai manusia! Kami memberi kalian suatu kekuatan yang tidak disangka-sangka! Kekuatan ini melebihi kekuatan nuklir mereka! Yaa Rabbii, syukr. Jika orang-orang Turki ingin selamat dan menghilangkan jabaabira, tiran, seluruh bangsa harus mengucapkan:

RabbunAllah HasbunAllah. RabbunAllah HasbunAllah.
RabbunAllah HasbunAllah. RabbunAllah HasbunAllah.
RabbunAllah HasbunAllah. RabbunAllah HasbunAllah.
RabbunAllah HasbunAllah. RabbunAllah HasbunAllah.

Ay Rabbimiz! Anta `alam bi haalana, “Wahai Tuhan kami! Engkau Mahamengetahui keadaan kami.”
Yaa musabbib al-haal wa 'l-ahwaal qawwiyy da`fana hatta nakuun mujtahidiin fii tha`atika wa `ibadatik, “Wahai Pengirim Sebab! Kuatkanlah kelemahan kami hingga kami menjadi pekerja keras dalam kepatuhan dan peribadatan kepada-Mu."

Yaa Rabbi 'l-`izzat wa 'l-`azhamat bi jaahi nabbiyina, nabi ar-rahmah, Sayyidi 'l-Awwaliin wa ’l-Akhiriin, bi hurmati 'l-Fatihah.

Selasa, 26 Oktober 2010

Pesan Penting dari Sultan al-Awliya

Sultan al-Awliya
Mawlana syekh Nazim al-Haqqani
23 October 2010 Lefke, Cyprus

Yaa RijaalAllah! Madad, madad ila syarifiin 'nabiyuna wa `ali wa shaahbihi, wa masyaykhina. Madad yaa Shaahibu 'z-Zamaan Muhammad Mahdi (a), wa shalaat wa salaam juga, wa imdaad juga. Alfu shalaat, alfu salaam `ala habiibillah Sayyidi 'l-awwaliin wa' l-akhiriin! Allahu Akbar wa ajal wa a`azham wa aqwaa. Subhaanuh Sulthaanuhu wa Mulkuhu, laa yantahi. A`uudzu billahi min asy-Syaythani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim. (Mawlana Syekh duduk)

As salaamu `alaykum, ayyuha 'n-naas! Itu adalah kehormatan sejati kita, bahwa Tuhan Surgawi melalui hamba-Nya yang mulia menyerukan hamba-hamba-Nya melalui protokol Ilahiah. SubhaanAllah, Dia memanggil manusia melalui hamba-Nya yang paling tercinta, Sayyidina Muhammad (s), (Mawlana Syekh berdiri dan duduk) untuk berkata dan berseru kepada manusia, Ayyuha 'n-naas, "Wahai manusia." Setiap orang berada di Hadirat Ilahi, Dia memanggil dengan Rahmat-Nya yang tak pernah berakhir dan pemberian-Nya, ikraam yang tak pernah berakhir. Dia, Allah (swt) (Mawlana Syekh berdiri dan duduk) menciptakan dan menghormati serta berseru kepada ciptaan-Nya!

Wahai manusia! Lihat dan pahamilah. Jika kalian mempunyai pemahaman sedikit saja, kalian pasti bersimpuh, bersujud dan tidak lagi mengangkat kepala kalian, karena Tuhan Surgawi, Sultan ash-Shalaatiin, Maalik al-Muluuk, Jalla Jalaaluh (Mawlana Syekh berdiri dan duduk) berseru kepada kalian, tetapi kalian malah pergi!

Wahai manusia! Ptuuh (meludah) pada orang-orang yang tidak datang untuk berkata, “Wahai Tuhanku!” dan kemudian bersujud! Ada jutaan manusia di mana Tuhan Surgawi mengirimkan Salaam-Nya dan memberikan kemuliaan, tetapi mereka malah pergi! Pikirkan itu, wahai manusia! Jangan berpikir bahwa mereka berkata, "Orang ini berbicara, mereka perlu banyak subjek." Itu bukan apa-apa, bukan apa-apa.

Wahai orang-orang yang mengerti! Itu bukan apa-apa. (Mawlana Syekh berdiri) Asta`iidzu billah.

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادا ً لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي
Qul law kaana al-bahru midaadan li-kalimaati rabbii la-nafida 'l-bahru qabla an tanfada kalimaatu rabbii.
Katakan (Wahai Muhammad), "Dan jika samudra menjadi tinta dan pohon-pohon menjadi pena, mereka akan habis sebelum selesai menuliskan kalimat-kalimat Tuhanku." (Surat al-Kahf, 18:109)

(Mawlana Syekh duduk) Sesuatu yang lain kini dikaruniai sesuai dengan kapasitasnya; Allah (swt) mengaruniai segala sesuatu dengan yang sesuai dengannya. Seekor semut tidak bisa memahami gajah. Oleh sebab itu jangan berpikir ketika Allah berkata mengenai kebesaran-Nya, tentang bahr, Samudra-Samudra itu, jika kita gunakan untuk kalimaatullah, firman Allah, Samudra Pasifik, Samudra Atlantik, Samudra Hindia, Samudra Kutub Utara, Samudra Kutub Selatan, jika kita menggunakannya sebagai tinta untuk menulis, (jangan berpikir) bahwa samudra-samudra itu akan bisa menyelesaikannya. Firman Allah tidak akan pernah berakhir! Bawa tujuh puluh samudra atau tujuh puluh juta samudra, atau tujuh puluh milyar samudra! Bawa tujuh puluh trilyun samudra!

Wahai manusia! Jangan sombong, karena kesombongan hanya untuk Sifat Ilahiah-Nya Yang Mahaagung. Itu adalah Sifat Allah, bukan untuk kalian. Subhaan Sen, Subhaan Sen. SubhaanAllah, SubhaanAllah, SulthaanAllah. (Mawlana Syekh berdiri) SulthaanAllah, SulthaanAllah, SulthaanAllah. Sulthaan ul-Mutlaq. (Mawlana Syekh duduk)

Wahai manusia! Apa yang kita katakan? Yang kita katakan bukan apa-apa! Dia Yang Mahakuasa hanya meminta bahwa kita menjaga posisi sejati kita bagaimana kita menempatkan diri kita di sini.

Wahai manusia! Pikirkanlah (bertafakur) dan tuliskan padanya, “Kita adalah hamba Tuhan yang lemah.” Lakukanlah hal itu dan tuliskan pada dada kalian. Jika kalian dapat melakukannya, baik sekali untuk kalian! Semoga Allah memaafkan saya. Cukup. As-salaamu `alaykum.

(Syekh Hisyam Effendi: Mawlana, mereka sangat berterima kasih kepadamu, bahwa setiap hari engkau memberi mereka nasihat.)

Terima kasih kepada Allah.

(Syekh Hisyam Effendi: Apakah ada suatu pembukaan, insyaa-Allah, untuk nasihat-nasihat berikutnya?)

Nasihat apa?

(Syekh Hisyam Effendi: untuk besok dan besoknya lagi?)

Terserah kepada-Nya; terserah pada Kekasih-Nya yang memberikan izin.

(Syekh Hisyam Effendi: Yaa Mawlaana, Hadhrat … menyebutkan hadis, yaa `abdii athi`anii. Aja`luka rabbaaniyyan. Sayyidii, rahmatan l 'il-muridiin, Sayyidii, kepada siapa mereka meminta.)

Mereka yang meminta hanya sejumlah kecil. Ketika inspirasi baru datang, kita bisa bicara.

(Syekh Hisyam Effendi: Insyaa-Allah)

Insyaa-Allah, insyaa-Allah. As-salaamu `alaykum. Ketika perintah baru datang, mereka bisa membuat begitu banyak (tak terhingga) hamba Allah untuk bicara. Tidak perlu hanya saya yang bicara, memberikan nasihat. Dia dapat mengirimkan dan Dia dapat memberikan perintah-Nya dan memberikan salam dan kemuliaan kepada manusia. Semoga Allah mengampuni saya. Ini adalah waktu yang pendek untuk hari ini hingga akhir zaman. Mereka dapat membawa seseorang untuk bicara. Itu bukan suatu kondisi bahwa orang ini bisa bicara atau orang itu bisa bicara, tidak. Dia bisa menutup yang ini dan membuka yang lain. Kita hanyalah hamba-Nya yang kecil dan lemah, tetapi saya gembira bahwa ada suatu kebangkitan karena kata-kata surgawi dapat menyentuh kesadaran mereka. Dan saya pikir berita sesungguhnya adalah bahwa Hari Kiamat sedang mendekat dengan sangat jelas dan kekekalan adalah untuk Allah dan segala sesuatu pasti akan berakhir.

Kehidupan di dunia ini yang telah ditunjuk tengah mendekati dan Hari Akhir akan datang. Ada banyak tanda yang diketahui oleh para ulama. Allah (swt) berfirman, (Mawlana Syekh berdiri)

فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلاَّ السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَة ً فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا فَأَنَّى لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ
fahal yanzhuruuna illa as-saa`ata an taatiyahum baghtatan faqad jaa asyraaţuhaa fa annaa lahum idzaa jaathum dzikraahum.
Tidakkah mereka tunggu-tunggu melainkan Hari Kiamat, ia akan datang dengan tiba-tiba. Sesungguhnya telah datang tanda-tandanya dan ketika ia telah datang kepada mereka, apakah manfaat dari kesadaran mereka tentang hal itu? (Muhammad 47:18)

(Mawlana Syekh duduk) Lima belas abad yang lalu, Allah (swt) telah mengatakan bahwa tanda-tanda kiamat sudah ada. Lima belas abad yang lalu! Oleh sebab itu, sedikitnya, orang harus memberi waktu untuk Kehidupan Abadinya. Semoga Allah mengampuni kita. Bila diperlukan, Tuhan Surgawi akan mengirim hamba-hamba-Nya untuk menyampaikan (nasihat) kepada kalian dan membuat kalian bangkit!

Wahai manusia! Mereka meminta kalian hanya untuk sedikit memperhatikan penghambaan kalian. Dunia ini bisa saja menjadi surga jika orang-orang mengikuti perintah suci Tuhan mereka; jika tidak, masalah dan berbagai persoalan, bala bencana akan terus menimpa mereka. Bisa saja pada suatu waktu sesuatu akan dikirim agar orang-orang memikirkannya.

Dan kalian, doakan juga untuk saya. Saya lemah dan Dia tahu; Tuhan Surgawi Maha mengetahui segalanya. Saya memohon ampunan dari Tuhan saya, Allah (swt) (Mawlana Syekh berdiri) dan memohon syafaat dari hamba-Nya yang paling suci, Sayyidina Muhammad (s)! (Mawlana Syekh duduk) Saya memohon dukungan dari para awliyaaullah, dari orang-orang suci. Saya lemah sekarang. Sebagaimana yang mereka katakan, Allah (swt) bisa mengirimkan ratusan atau ribuan pemberi peringatan kepada hamba-hamba-Nya. Syekh Hisyam Effendi berkata kepada saya bahwa ketika saya menyatakan berhenti, orang-orang syok. Tidak. "Siapa yang meminta, mereka akan menemukan/ mendapatkannya."

Wahai manusia! Jika kalian melihat dan mendengarkan, kalian akan menemukan lebih banyak lagi. Kumpulkanlah sendiri, kurangi waktu dunia kalian sedikit, dan berusahalah untuk memberikan waktu lebih banyak untuk Tuhan Sang Pencipta. Rahmat dari Tuhan Surgawi tak terhingga! As-salaamu `alaykum.

(Syekh Hisyam Effendi: wa salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh. Sayyidii. Ini adalah pesan yang sangat, sangat kuat, Sayyidii.)

Karena mereka hanya mengatakan bahwa saya hanyalah seorang naaqil, penyampai, tak lain dari itu dan saya sedikit lemah, jadi saya meminta sedikit dukungan dan kita dapat melanjutkannya, insyaa-Allah.

(Syekh Hisyam Effendi: Insyaa-Allah, Sayyidii.)

Fatihah.

(Syekh Hisyam Effendi: Sayyidii, panjang umur, didukung oleh Nabi (s), oleh Mahdi (a), oleh Allah (swt), y`utiik, yaa Sayyidii. Allah ya`tiik quwwa wa yuqawwiy rijlayk.)

Allah, Allah. Dastuur, yaa Rijaalullah, madad. Madad, yaa Rijaalullah, madad. Ila syarafin nabiyyin …


Edit this page (if you have permission) | Google Docs -- Web word processing, presentations and spreadsheets.

Bangun dan Persiapkan untuk Apa yang akan Datang!

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
22 October 2010 Lefke, Cyprus
Jumu`ah Khutbah

Ayyuha 'l-muminuun al-haadiruun ittaqullah wa athii`uuh inna Allah ma` alladziina 'ttaqaw w 'alladziina hum muhsinuun. wa qaala Allahu ta`alaa yasiin wa 'l-qurani 'l-hakiim. wa qaala wa 'n-najm idzaa hawaa maa dalla saahibakum wa ghawaa in huwa illa wahyun yuuhaa `allamahu syadiidu'l-qiwwa. wa qaala an-nabiy (s) innamal-`amaalu bi 'n-niyyaat. wa inamaa li-kulli 'mrin maa nawaa.

Wahai para pengikut Nabi (s)! Wahai para Ahlu ’l-Bayt Nabi (s)! Wahai para Sahabat! Kita harus selalu mengingat kemuliaan Nabi (s)! Nabi (s) bersabda, "Aku tidak meminta apa pun dari kalian, kecuali agar kalian berbaik hati terhadap keluargaku." Baik hati kepada keluarga Nabi (s) merupakan suatu kewajiban bagi setiap Muslim dan Muslimah. Kepada Ahlu ’l-Bayt kita harus memberi kehormatan tertinggi jika kita mencintai Nabi (s). Dan begitu pula, mereka para pewaris Nabi (s), mereka adalah para awliya, mereka mempunyai hati yang terbuka, sebagaimana yang digambarkan dalam Kitab Suci al-Qur'an:

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
alaa inna awliyaaullahi laa khawfun `alayhim wa laa hum yahzanuun.
Ingatlah! Sesungguhnya para awliyaullah, tidak ada rasa takut pada diri mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (al-Anbiyaa, 10:62)

Awliyaaullah tidak takut terhadap apa pun dan mereka pun tidak bersedih hati. Nabi (s) bersama mereka, para Sahabat bersama mereka dan awliya bersama mereka. Para pewaris Nabi (s) itu akan bersama dengan Mahdi (a) dan menyampaikan apa yang ada di tangan mereka kepada Mahdi (a)!

Kita berada di masjid milik Sultan al-Awliya, Mawlana Syekh Nazim `Adil al-Haqqani (q). Sebagaimana yang beliau katakan (pada hari Rabu), babak pertama telah selesai dan babak kedua telah datang. Kita bersyukur kepada Allah (swt) bahwa Dia menganugerahi kita kehidupan, untuk berjumpa dengan babak kedua dalam kehidupan kita!

Wahai Mukmin di seluruh dunia! Ini adalah waktunya untuk bangkit, untuk bersiap-siap terhadap apa yang akan datang. Mungkin akan datang pesan-pesan baru, tafsir atau metode baru yang dapat dibukakan kapan saja oleh para awliya. Persiapkan hati kalian! Persiapkan koneksi kalian! Pastikan agar sambungan kalian juga siap! Berhati-hatilah dalam setiap saat kehidupan kalian; lakukan tafakur, sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyidina Muhammad (s):

تفكر ساعة أفضل من عبادة سبعين سنة
tafakkaru sa`atin khayrun min `ibaadati saba`een sannah.
Bertafakur (kontemplasi) selama satu jam lebih baik daripada 70 tahun beribadah.

Kehidupan manusia adalah 70 tahun, dan kalian melakukan salat, puasa, memberi zakat dan pergi haji dalam kurun waktu 70 tahun itu, tetapi Nabi (s) bersabda bahwa berpikir (bertafakur) dan kontemplasi lebih baik dari 70 tahun beribadah. Mari kita lihat hati kita, mari kita gunakan pikiran kita, mari kita pikirkan apa yang kita lakukan!

Ketika Sayyidina Ibrahim (a) dilemparkan ke dalam api Namrud, apa yang beliau katakan? Hasbii Allahu wa ni`mal-wakiil, hasbii Allahu wa ni`mal-wakiil, hasbii Allahu wa ni`mal-wakiil, kemudian pertolongan Allah (swt) datang padanya. Apakah kita mengucapkan, hasbii Allahu wa ni`mal-wakiil, pada setiap tiran, kullu man tajjabar wa takabar. Kita mempunyai tempat di dalam hati kita di mana Setan dapat masuk dan kita harus mengucapkan, hasbii Allahu wa ni`mal-wakiil, karena kita tidak tahu apa yang akan datang, atau apa yang tiba-tiba datang. Dan itulah yang datang ke dalam hati Mawlana Syekh dari hati Nabi (s)! Itulah sebabnya beliau berkata bahwa kita telah memasuki babak yang baru. Kita berdoa agar kita dimasukkan ke dalam babak yang baru itu dan kita memohon agar Allah (swt) memberikan kesehatan, rahmat dan dukungan kepada Syekh kita!

Dan marilah kita ingat apa yang dikatakan oleh Sayyidina `Ali (r):
رأيت ربي بعين قلبي
فقلت لا شك أنت أنت
Ra’āitu rabbī bi ‘aini qalbī
Fa-qultu la syakka anta anta
Aku melihat Tuhanku dengan mata hatiku
Aku berkata, tidak diragukan, itu adalah Engkau! Itu Engkau!
أنت الذي حزت كل أين
بحيث لا أين ثَمّ أنت
Anta-ladzī hizta kula aynin
Bi haytsu lā ayna tsamma anta
Engkaulah yang mencakup semua "di mana"
sehingga tidak ada "di mana", kecuali ada Engkau di sana
فليس للأين منك أين
فيعلم الأين أين أنت
Fa laysa li ’l-ayni minka aynun
Fa y‘alamu al-aynu ayna anta
“Di mana” tidak mempunyai "di mana" bila dihubungkan dengan-Mu
karena "di mana" adalah untuk mengetahui Engkau di mana
وليس للوهم فيك وهم
فيعلم الوهم أين أنت‎
Wa laysa li ‘l-wahmi fīka wahmun
Fa y‘alamul wahmu ayna anta
Dan tidak ada imajinasi, yang dapat membayangkan Engkau
karena imajinasi adalah untuk mengetahui Engkau di mana
أحطت علما بكل شيء
فكل شيء اراه أنت
Ahath-that ‘ilman bi kulli syayin
Fa kullu syayin arāhu anta
Ilmu Engkau mencakup segalanya
sehingga apa pun yang kulihat, aku melihat-Mu
وفي فنائي فنا فنائي
وفي فنائي وجدت أنت
Wa fī fanā’ī fanā fanā’ī
Wa fī fanā’ī wajadtu anta
dan dalam fanaku, yaitu fana dari fanaku
dan dalam fanaku, aku menemukan-Mu

Lihatlah pada balaagha, keelokan bicaranya. Itulah ketika Mawlana Syekh bicara, beliau memberi dari hatinya apa yang perlu kita pelajari! wa laysa lak al-ayn... "Kita tidak tahu di mana "di mana", karena Engkau berada di sana."

Awliya mewarisi dari Nabi (s) untuk melihat Tuhan mereka. Itulah sebabnya Sultan kita mengatakan kemarin, "Kita tanggalkan semuanya dan kita tidak ingin disebut apa-apa! Kita ingin disebut Rabbaniyuun, karena Allah ada di mana-mana dan Dia Maha mengetahui segalanya."

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
wa nahnu aqrabu ilayhi min habli 'l-wariid.
Kami lebih dekat kepadamu daripada urat nadimu. (Qaf, 50:16)

Semoga Allah memberi umur yang panjang dan dukungan kepada Sultan al-Awliya, istaghfirullah, shalluu `alayhi wa sallimuu tasliimah. Allahuma ayyid hadza ad-diin bi muayyad ad-diin. Ya Allah! Berikanlah dukungan kepada agama ini dengan 'Pendukung Agama' (Sultan al-Awliya, Mawlana Syekh) dan kepada keluarganya dan para pendukung serta pengikutnya!

Amiin.

Penjelasan dari Perintah Sultan al-Awliya (qs)

Mawlana Syekh Hisham Kabbani
21 October 2010 Lefke, Cyprus
Suhbah before Dhikr


A`uudzu billahi min asy-Syaythaani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim.
Nawaytu 'l-arba`iin, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-`uzlah,
nawaytu 'r-riyaadhah, nawaytu 's-suluuk, lillahi ta`ala fii haadza 'l-masjid.

As-salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh. Allah (swt) berfirman:

Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim,
كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
kulla yawmin huwa fii syaan.
Setiap hari dalam kecemerlangan (yang baru) sesungguhnya Dia (bersinar)! (ar-Rahman, 55:29)

Setiap hari ada pesan yang berbeda, ada perintah yang berbeda, isu-isu yang berbeda datang, dan Allah (swt) melihat mereka dari segala penjuru. Pertama kita ucapkan, Athi`uullaha wa athi`uu 'r-Rasuula wa uli 'l-amri minkum. Sebagaimana yang biasa dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim (q), semoga Allah memanjangkan umurnya dan memberinya kesehatan yang baik, dan sebagaimana yang biasa dikatakan oleh Grandsyekh `AbdAllah al-Fa'iz ad-Daghestani (q), “Patuhi Allah, patuhi Nabi (s) dan patuhi orang-orang yang mempunyai otoritas.” (an-Nisaa, 4:59)

Pertama-tama saya ingin mengatakan bahwa Mawlana Syekh Nazim (q) mengirimkan salaam untuk kalian semua, mereka yang berada di sini dan mereka yang mendengarkan siaran ini dari seluruh dunia. Seperti yang kalian ketahui kita semua adalah murid beliau, di matanya kita semua berada pada level yang sama. Beliau ingin agar kita semua bersatu, dan bekerja sama sebanyak-banyaknya, untuk mengangkat nama beliau sehingga beliau menjadi bahagia ketika mempersembahkan diri kita masing-masing setiap malam di hadirat Nabi (s). Awliyaullah mempunyai suatu waktu dengan Nabi (s) dalam dimensi spiritual. Mereka mempersembahkan murid-muridnya ke hadirat Nabi (s) dan mereka mempunyai hubungan. Kita dapat mengatakan bahwa beberapa di antara mereka mempunyai sambungan audio (suara), dan kita juga dapat mengatakan di antara mereka ada yang mempunyai sambungan video (suara dan gambar), dan beberapa di antara mereka selalu berada dalam hadiratnya. Dan malam ini, pesannya jelas dan membawa banyak makna yang beliau buat kemarin. Saya ucapkan terima kasih kepada setiap orang yang mendengarnya.

Beliau berkata, dan saya bukannya mau mengulanginya, ini adalah apa yang baru saja beliau katakan, "Ini adalah satu bab yang telah lewat dan kita bergerak menuju bab berikutnya. Untuk bab pertama yang telah lewat, orang-orang harus mempelajari apa yang telah saya katakan." Dan ini adalah apa yang saya kutip, "Selama satu setengah tahun di internet, dengan sekitar 500 suhbah, asosiasi di internet, orang harus mengerti tentang jalan kita dan mengatahui apa yang kita katakan. Dan mereka harus memikirkan setiap kata yang telah saya sebutkan. Dan setiap kata yang saya katakan, orang harus merenungkannya.”

Ini bukan berarti mendengarkan suhbah beliau, dengan kata-kata yang masuk lewat telinga yang satu lalu keluar dari telinga yang lainnya, itu bukanlah pendengaran yang sesungguhnya dan pendengaran yang sempurna. Mendengar harus dengan kedua telinga, simpan di dalam, lalu dicerna dan dipelajari apa yang telah beliau katakan.

Ada seorang `alim di Beirut, yang merupakan mufti (kepala) dari semua ulama di Lebanon dan beberapa negeri di Timur Tengah. Di negeri-negeri itu, setiap kali mereka memerlukan fatwa untuk masalah-masalah yang berat tetapi tidak bisa diputuskan, mereka pergi kepada `alim itu sehingga ia dapat memberikan fatwa kepada mereka. Kami saat itu masih muda dan kami memohon kepada `alim itu untuk datang mengunjungi Grandsyekh `AbdAllah al-Faiz ad-Daghestani (q) dan Mawlana Syekh Nazim (q). Tetapi ia adalah seorang `alim, meskipun bukan `alim biasa; ilmunya melebihi setiap orang.

Allah (swt) berfirman:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
wa fawqa kull dzi `ilmin `aliim.
Di atas semua alim ada alim (yang lebih tinggi). (12:76)

Di atas semua `alim ada seorang`alim (yang lebih tinggi). Di dalam pikirannya, ia mengetahui segalanya. Akhirnya ia datang bersama kami ke hadirat Grandsyekh (q) dan Mawlana Syekh Nazim (q). Ia masuk dan bersalaman dengan keduanya, tetapi itu saja, karena ia adalah seorang `alim. Dan Grandsyekh (q) membuka suhbah di hadapan Mawlana Syekh Nazim (q), `alim itu, saya dan Syekh Adnan selama tiga jam, non-stop. Ketika waktu berlalu, `alim itu mulai berkeringat. Ia menyadari adanya perbedaan besar antara ilmunya denga ilmu yang diberikan oleh Grandsyekh (q) dan yang diterjemahkan oleh Mawlana Syekh Nazim (q). Jadi, saya tidak akan masuk pada apa yang mereka diskusikan, tetapi pada akhirnya, dan kalian tahu bahwa di dalam Islam menurut Syariah tidak dibenarkan untuk mencium kaki seseorang, tetapi orang-orang melakukannya karena kecintaan mereka, dan yang demikian itu dimaafkan. Itu dilakukan bukan dengan niat bersujud (menyembah) karena sujud hanya ekslusif untuk Allah (swt), tetapi niatnya adalah mengekspresikan cinta dan kerendahan hati terhadap Syekh kalian. Itu saja dan itu dapat diterima.

Jadi `alim tersebut, dengan pelajaran dan hafalan Qur'annya, ketika ia berusia tujuh tahun, ia sudah menjadi ensiklopedia berjalan! Ketika suhbah selesai, ia mencium kaki Grandsyekh (q). Ia berkata kepada kami di dalam mobil ketika kami kembali ke Beirut, "Jika aku akan membukukan setiap kata yang disebutkan oleh Grandsyekh (q), setiap kata akan memberikan satu buku, bukannya seratus halaman, tetapi seribu halaman, aku dapat memberikan penjelasan dari apa yang beliau katakan! Dan mengenai topik-topik ini, aku mempunyai tujuh topik yang kusimpan di dalam hatiku sebelum aku berjumpa dengan beliau. Dan beliau menjawab ketujuh pertanyaanku sebelum aku menanyakannya!" Salah satu di antaranya saya akan sebutkan, tentang`ismAllahi 'l-`Azham, salah satu Nama Allah yang terbesar, yang pernah ditanyakan oleh Sayyidina Musa (a), “Yaa Rabbii! Tunjukkan padaku Nama itu!" Jadi, bagaimanapun, apa yang ingin saya katakan adalah bahwa ketika awliyaullah mengatakan sesuatu, mereka tahu bahwa fisik kita tidak dapat menerimanya, tetapi kalbu kita bisa. Oleh sebab itu mereka mengisi rohani kita dan spiritualitas kita dengan berbagai macam ilmu yang mereka curahkan.

Baru-baru ini Mawlana Syekh Nazim (q) berkata, merujuk pada 500 suhbah yang beliau berikan (di Sufilive) selama satu setengah tahun, “Aku ingin mereka memahami apa yang aku katakan, mereka harus mempelajarinya sendiri.” Lihat dan cek kembali suhbah beliau. Tulis catatan, pertanyaan dan jawab sendiri, dan pelajari apa yang beliau berikan atau kalau tidak, maka kita bisa dianggap malas! Jika kita hanya ingin duduk dan mendengar apa yang beliau katakan, tanpa memikirkan dan mempelajari apa yang beliau katakan, bagaimana kita dapat menyampaikan pesan beliau, apa yang akan kalian katakan kepada orang-orang? Kita harus mempelajarinya!

Allah (swt) berfirman kepada Nabi (s):

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim. Iqra bismi rabbik alladzii khalaq.
Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang menciptakan. (Surat al-`Alaq, 96:1)

Jika Mawlana Syekh Nazim bertanya kepada kita, apa yang akan kita jawab? "Kami tidak tahu." Beliau akan berkata, "Murid macam apa yang aku miliki?" Tetapi bagaimanapun juga, kita tidak akan terlalu panjang. Bagi saya, saya dapat memahami dua makna di sini dari suhbah beliau kemarin, karena sekarang beliau berkata, "Katakan kepada mereka bahwa bab pertama telah selesai, sekarang ada bab kedua." Allahu Akbar. Apakah bab berikutnya itu? Kemudian beliau berkata, "Akan ada bab ketiga." Allah Mahatahu. Itu artinya akan ada, menurut apa yang dapat saya pahami, setelah bab pertama ini, akan ada dua bab lainnya dan kedua bab ini akan penuh dengan ketegangan, dengan kata lain, penuh aksi.

“Waktu semakin mendekat," Mawlana berkata. Beliau berkata kemarin, "Tidak ada lagi Sufisme," ini artinya beliau ingin mengalamatkannya kepada orang-orang yang mengkritik tasawwuf. Itu adalah makna harfiahnya, makna yang dapat dipahami oleh setiap orang. Itu seperti berkata kepada musuh kalian, "Baiklah, hapuskan Sufisme, tetapi hapuskan juga Salafisme dan Wahhabisme." Karena Salafisme tidak ada, ia hanya ada pada masa Salaaf as-Saalih, tiga abad setelah Nabi (s), di mana semua Imam muncul pada masa itu. Jadi itu artinya, "Baiklah, kita tidak akan mengatakan tasawwuf ada, dan kalian tidak akan mengatakan Salafisme ada."

Meskipun ini bukanlah kata-kata Mawlana, melainkan sebuah penjelasan, jika kita masuk ke mazhab pemikiran Salafi yang tertinggi, pemimpin tertinggi dari mazhab tersebut adalah Ibn Taymiyyah, seorang cendikiawan yang muncul pada abad ke-8 Hijriah. Dan apa yang kita lihat dari ajarannya yang sampai hingga orang-orang Salaf sekarang, atau mereka yang menyebutkan diri mereka "Wahhabi" atau "Salafi" Bahkan Ibn Taymiyyah pun menerima tasawwuf di masanya. Ia mengikuti Abu Yazid al-Bistami (q), ia juga menjadi pengikut SirriSaqati (q), Sulayman ad-Dirani (q), Rabia al-Adawiyya (q), Junayd al-Baghdadi (q), dan menurut sejarah, ia mengambil bay'at dari Syekh `Abdul Qadir al-Jilani (q). Ia menerima Sufi sejati, tetapi bukannya Sufi "bisnis" atau "profesional". Ini adalah orang-orang yang menggunakan tasawwuf untuk keuntungan pribadi mereka saja. Tetapi Ibn Taymiyyah menghormati Sufi sejati yang mendedikasikan hidup mereka untuk Ummat an-Nabii (s), dan ajaran mereka tidak melanggar atau bertentangan dengan Syariah. Karena kalian lihat sekarang banyak Sufi yang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Syariah dan kita tidak menerimanya.

Kemarin Mawlana Syekh Nazim (q) berkata, “Meskipun Sufisme diterima, mari kita katakan bahwa kita tidak lagi mempunyai Sufisme atau Salafisme. Lalu apa yang kita miliki? Kita ingin menjadi Rabbaaniyuun, kita ingin menjadi hamba-hamba Allah (swt)!"

Allah (swt) berfirman:
يا عبدي اطعني اجعلك ربانيا تقول لشي كن فيكون
Yaa `abdii athi`anii aj`aluka rabbaaniyyan taquulu li syayyin kun fayakuun.
Wahai hamba, patuhilah Aku, Aku akan menjadikanmu Rabbaani, kau katakan kepada sesuatu, "Jadilah!" maka jadilah ia.

Jadi beliau berkata, "Kita ingin menjadi Rabbaaniyuun.” Itulah sebabnya beliau berkata bahwa bab baru telah tiba, menurut pemahaman saya. Beliau tidak menerangkan apa bab baru itu, tetapi beliau mengatakan, "Akan ada begitu banyak perubahan di dunia ini dan kita semakin dekat dengan akhirat sekarang." Menurut inspirasi beliau, bab pertama telah ditutup. Jika saya kembali ke 40 tahun yang lalu dalam kehidupan saya dan mengingat apa yang Grandsyekh (q) katakan setelah berdoa, "Yaa Rabbii! Bukalah tajali rahmat bagi Ummat an-Nabi (s)," doa itu telah dikabulkan dan Ummat an-Nabi (s) berada dalam rahmat tersebut. Dan beliau berkata, "Tarekat Naqsybandi akan tersebar ke mana-mana hingga masa Imam Mahdi (a)." Dan sebelum beliau meninggalkan dunia ini, beliau berkata, "Rahasia dan wewenang apa pun yang Allah (swt) berikan kepadaku, aku sandangkan mereka kepada Mawlana Syekh Nazim (q), aku berikan ia wewenang itu.”

Jadi menurut pemahaman saya, itu artinya waktunya begitu dekat sehingga beliau meminta kita untuk membuka mata kita. Ketika seorang pasien sedang sakit, kalian memberinya suntikan untuk membangkitkannya. Jadi mereka ingin mengguncangkan kita, untuk membangkitkan kita. Segala sesuatu tidak bergantung kepada Syekh dan tidak ada yang berasal dari murid, tidak. Mereka ingin sesuatu yang timbal-balik antara Syekh dan murid; sesuatu harus berasal dari murid dan kemudian Syekh dapat menolongnya lebih lanjut. Tetapi bila murid malas (tidur), Syekh menjadi frustasi karena beliau ingin mempersembahkan murid-muridnya ke hadirat Nabi (s) secara spiritual. Bagaimana beliau akan mempersembahkan kita jika kita malas? Beliau akan merasa malu terhadap Nabi (s). Jadi itu adalah suntikan agar kesadaran kita bangkit, khususnya bagi para pengikutnya, dan untuk seluruh umat pada umumnya. Bangunlah!

Dan beliau membangunkan kita untuk mencapai level ketiga dalam Islam. Apakah level ketiga dalam Islam itu? Itu adalah Maqaam al-Ihsaan, di mana Nabi (s) menjelaskan:

An ta`bud-Allah ka-annaka taraah fa in lam takun taraah fa-innahu yaraak.
Untuk menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya dan jika engkau tidak bisa melihat-Nya, ketahuilah bahwa Dia melihatmu.

Ketika Jibril (a) bertanya kepada Nabi (s), "Yaa Rasuulullah! Apakah status dari Maqam al-Ihsaan, level kesempurnaan moral?" Nabi (s) menjawab, "Menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya." Itu artinya Rabbaaniyuun, sekarang itu adalah era dari pembukaan maqaam pada setiap murid yang sebelumnya tertutup. Kalian harus mencapainya, kalian harus mengejarnya! Sekarang, ada tajali untuk mereka, mereka tahu apa yang mereka katakan, yang telah dibuka untuk petisi mereka dan doa mereka, di mana mereka datang kepada Nabi (s) setiap hari. Mereka meminta, mengemis, dan memohon agar Allah (swt) membuka sesuatu dari tajali itu! Agar ia datang pada setiap orang yang terhubung dengan Mawlana Syekh Nazim (q).

Mawlana Syekh Nazim (q) menanggung kesulitan para pengikutnya di pundaknya dan beliau tahu bahwa kita adalah lemah, beliau tahu bahwa kita malas. Jadi mereka berusaha untuk membangunkan kita, dan mereka berkata, "Lihat, jika kalian tidak melakukan (kewajiban kalian), kami masih melakukannya untuk kalian, tetapi jangan sampai membuat kami malu dalam hadirat Nabi (s)." Itulah sebabnya Nabi (s) bersabda,
تفكر ساعة خير من عبادة سبعين سنة
Tafakkaru sa`atin khayrum min `ibadati saba`iina sannah.
Berpikir atau bertafakur selama satu jam, akan diberi ganjaran seolah-olah engkau beribadah selama 70 tahun.

Itu artinya, "Wahai Muslim! Wahai murid-murid, para pengikut Mawlana Syekh Nazim (q)! Kita harus berpikir, mengaudit diri kita sendiri setiap hari pada apa yang telah kita lakukan, jika tidak sampai satu jam, paling tidak lakukan selama lima menit. Jangan katakan, "Aku melakukan ini baik, itu baik," jangan. Sayyidina Adam (a) berkata, "Apa yang baik adalah dari Allah (swt), dan apa yang buruk adalah dari kami." Cek, apa yang buruk dan katakan, “Yaa Rabbii! Ampuni kami untuk itu.” Allah (swt) akan senang karena kalian ingat akan kesalahan-kesalahan kalian.

Allah (swt) berfirman di dalam kitab suci Al-Qur'an:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Qul yaa `ibadiiya 'Lladziina asrafuu `alaa anfusihim laa taqnathuu min rahmatillahi innallaha yaghfiru 'dz-dzunuuba jamii`an, innahu huwa al-ghafuuru 'r-rahiim.
Katakan (wahai Muhammad), "Wahai hamba-hamba-Ku yang telah menganiaya diri sendiri! Jangan berputus asa terhadap rahmat Allah. Mintalah ampun, dan Allah akan mengampunimu. (39:53)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا
Wa law annahum idz dzalamu anfusahum jaa’uuka f 'astaghfarullaha w 'astaghfara lahumu 'r-rasuulu la-wajaduullaha tawwaaban rahiima.
Sesungguhnya, jika mereka ketika menganiaya diri mereka sendiri kemudian datang kepadamu (wahai Nabi), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Nabi pun memohon ampun untuk mereka, tentulah mereka akan mendapati bahwa Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (4:64)

Tak seorang pun dari Wahhabi atau Salafi yang dapat mengatakan bahwa kalian tidak bisa pergi kepada Nabi (s), karena Allah (swt) menyebutkan hal itu di dalam kitab suci Al-Qur'an! Kalian harus menghadap beliau! Dari tempat kalian, kalian berdoa, Wa law annahum idz dzalamu anfusahum jaa’uka yaa Muhammad, "Mereka datang kepadamu, yaa Muhammad (s), secara langsung dari sini." Fastaghfarullah, "Mereka meminta ampun bagi mereka dalam hadiratmu dan engkau memintakan ampunan bagi mereka. Allah (swt) akan mengampuni mereka."

Allah berfirman di dalam kitab suci Al-Qur'an:
قُلِ اللّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ
qul Allah wa dharhum fii khawdihim yal`abuun.
Katakan "Allah," lalu biarkan mereka bermain-main dalam kesia-siannya. (Surat al-An`am, 6:91)

“Katakan, ‘Allah!’"Ini bukan berzikir kepada Allah (swt); Allah berfirman di dalam kitab suci Al-Qur'an kepada Nabi (s), "Katakan ‘Allah!’ Lalu tinggalkan mereka untuk bermain apa pun yang mereka sukai atau menyangkal apa pun yang ingin mereka sangkal, tetapi katakan, ‘Allah!’” Jadi zikir "Allah" dapat diterima, tidak seperti yang mereka katakan, "Tidak diterima." Pintu dari bab kedua telah terbuka sekarang, untuk mengucapkan, Allah, Allah, Allah, lalu tinggalkan mereka, jangan ganggu mereka. Itulah yang dikatakan oleh Mawlana kemarin di dalam suhbah. “Jangan ganggu! Jangan katakan, 'Aku seorang Sufi,' tetapi katakan, 'Rabbaani.' Jangan katakan, 'Aku seorang Salafi,' katakan, 'Allah!'" Qul Allah! Dia tidak mengatakan, "Qul Sufi atau Salafi." Dia berfirman, Qul Allah, tsumma dzarhum fi khawdhihi yal`abuun. Katakan dulu kepada mereka, “Yaa Allah!” lalu, “Yaa Muhammad!” Biarkan mereka mengucapkannya.

Semoga Allah (swt) memanjangkan usia Syekh kita, memberinya kesehatan, dan memberi kita agar selalu bersamanya dan bersama dengan Mahdi (a).

Wa min Allahi tawfiiq wa salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh. bi hurmati 'l-barakaatuh, wa bi hurmati ‘l-habiib, bi hurmati ‘l-Fatihah.

(Mawlana Syekh Hisyam (q) membaca khatm.)

Setelah khatm:

Mawlana Syekh Nazim (q) berkata kemarin bahwa ini adalah suhbah terakhir yang beliau berikan dan mulai sekarang tidak akan ada suhbah lagi. Jadi kita memohon kepadanya kemarin, “Engkau penuh rahmat dan kami berharap agar engkau mengubah apa yang telah kau katakan.”
Beliau berkata, “Mereka menutupnya dari atas.”
Kami berkata, “Yaa Sayyidii! Engkaulah yang berada di atas dan engkau dapat membukanya kembali!”
Beliau berkata, “Katakan kepada mereka,” dan sekarang hari ini, baru saja, bagian terakhir, “Kita akan lihat nanti.”

Jadi kalian semua, adalah tugas kita di sini dan mereka yang mendengar dan menyaksikan kami (di Sufilive), untuk memohon kepada Allah (swt) agar beliau kembali memberikan apa yang biasa beliau berikan di dalam suhbah. Dan sungguh, tajali beliau sangat kuat kemarin! Awliyaullah telah menyegel sesuatu dan mereka tidak mengatakan apa itu. Itu artinya suatu izin yang berasal dari Nabi (s) kepada Sayyidina Mahdi (a), karena beliau menantikan satu izin untuk mengucapkan Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Sesuatu telah disampaikan melalui kalbu para awliyaullah, karena saya tahu bahwa Mawlana tidak pernah menghentikan suhbah beliau sepanjang hidupnya, beliau dapat berbicara sepanjang siang dan malam, tetapi terjadi beberapa perubahan. Jadi malam ini dalam sujud saat Salaat an-Najaat, mintalah agar Mawlana Syekh melanjutkan apa yang beliau katakan akan dihentikan, dan kita memintanya dari kita semua!

Bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.