Minggu, 11 Desember 2011

Tangga Cinta


O,kawan!
Sungguh engkau harus menapaki tangga-tangga
yang disediakan Tuhan

setahap demi setahap!

O,kawan!
Jangan biarkan

kakimu lumpuh
tanganmu tak menggenggam
telingamu tersumbat
matamu tak melihat
akalmu tak merenung
hatimu tak mengenang!

O,kawan!
Kebebasan kehendak atas kesyukuran

adalah penggapaian Keindahan Tuhan!
Kepasrahan tanpa tindakan amal perbuatan

adalah mencampakkan karunia ciptaan!

O,kawan!
Perampok saja sabar melampaui rintangan
sampai dia menjebol

singgasana harta!
Apalagi kau adalah orang yang beriman

lampaui perampok itu dalam perjalanan
sampai kau melihat gapura
dan pintu gerbang singgasana Tuhan!

Rumah Cinta,
10.15 wib.

AMALAN SHOLAT TAHAJUD, SALAT NAJAT, SOLAT TASBIH, SALAT SYUKUR DAN DZIKIR MALAM

note from fb Arief Hamdani

WASIFATUL QUBRA

Shalat Malam (dilakukan sebelum Subuh)- Bangun 2 jam sebelum Subuh





Shalat Wudhu (2 raka’at setelah melakukan wudhu)

Shalat Najat (2 raka’at)



Berikut ini dibaca pada posisi berdiri menghadap qiblat dilakukan sebelum shalat Najat.



Do’a : Allaahuma thahhirnii min ghadhabin nafs (Ya Allah sucikan diriku dari segala keangkara murkaan).

100 kali “Ya Halim” (Yang Maha Penyantun)



Do’a : Allaahuma a’uudzu bika min syarri nafsii, wa min syarrin naas, wa a’uudzu bika min fitnatid dunya wa adzaabil aakhirah.

100 kali “Ya Hafidz” (Yang Maha Pemelihara)



Salat Najat (Keselamatan)



Raka’at 1:

◦ Surat al-Faatihah

◦ A’udzu billaahi minasy syaithaanir rajiim. Bismillaahi rahmaanir rahiim .Wa ilaahukum ilaahun waahid, laa ilaaha illaa Hu war Rahmaanur Rahiim (2:163)

◦ Ayatul Kursi: Allaahu laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qayyuum, la ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum, lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardh, man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi-idznih, ya’lamu maa baina aydiihim wa maa khalfahum wa laa yuhiithuna bi syai-im min ‘ilmihii illaa bi maa syaa, wasi’a Kursiyyuhus samaawaati wal ardh, wa laa ya uuduhuu hifzhuhumaa, wa Huwal ‘Aliyyul ‘Azhiim (2:255)



Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluknya); tidak mengantuk dan tidak tidur, Bagi-Nya segala yang ada dilangit dan segalayang ada di bumi. Siapakah yang dapat memberi pertolongan disisi-Nya tanpa seizin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan apa-apa yang dibelakang mereka, dan mereka tidak akan menjangkau ilmu-Nya sedikitpun, kecuali pengetahuan yang dikehendaki oleh-Nya. Singgasana-nya sangat luas, meliputi seluruh langit dan bumi. Dan tidak sulit bagi-Nya mengatur keduanya. Allah Maha Luhur lagi Maha Agung.



◦ Syahidallaahu annahuu laa ilaaha illaa Huwa wal malaa’ikatu wa ulul-’ilmi qaa-imam bil-qisth, Laa ilaaha illaa Huwal ’Aziizul Hakiim. Innad diina ‘indallaahil Islaam (3:18,19)

Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, para malaikat dan orang2 berilmu (menyaksikan), berdiri dengan keadilan. Tidak ada Tuhan melainkan DIA yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam.



◦ Qulillaahumma Maalikal-Mulki, tu’til-mulka man tasyaa –u, wa tanzi’ul mulka mimman tasyaa-u, wa tuu’izzu man tasyaa-u, wa tudzillu man tasyaa, bi yadikal khaiir, innaka ‘alaa kulli syai-in qadiir. Tuulijul-layla fin-nahaari, wa tuulijun-nahaara fil-layli wa tukhrijul hayya minal-mayyiti, wa tukhrijul-mayyita minal hayyi, wa tarzuqu man tasyaa-u bi ghayri hisaab.(3:26,27)



◦ Katakanlah, “Ya Allah, Pemilik kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, Engkau tanggalkan kerajaan itu dari siapa yang Engkau kehendaki, Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. DitanganMU segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam kepada siang, Engkau masukkan siang kepada malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, engkau keluarkan yang mati dari yang hidup dan Engkau memberi rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki dengan tiada terhitung.



Raka’at 2:

◦ Surat al-Faatihah – Surat al-Ikhlas (11 kali)



Setelah salam, lakukan sujud sambil berdo’a:

◦ Ya Rabbi kamaa ta’kulun naarul hathaba hakadzaal hasadul mutaashilu fiyya ya’kulu jami’i’a a’malii khallishni ya Rabbi minhuu wa khallishni aydhan minal ghadhabin nafsaani wa min nafsil madzmumah wa minal akhlaqidz dzamimah, ya rabbi baddil kullu akhlaaqi ilaa akhlaaqin hamidatin wa af’aalin hasan.



Ya Tuhanku, setiap upayaku untuk menjadi baik tidak mustahil akan hancur oleh kelalaianku sendiri yang selalu ‘larut’ oleh panasnya hati terhadap sesama, bagaikan api yang memusnahkan kayu kering. Tolong bersihkan diriku ini ya Allah dari kekejian hati atau perbuatan buruk, gantikanlah ya Allah dengan ahlaq serta perbuatan yang baik dimasa mendatang.



Shalat Syukur (2 raka’at)



Sebelum mulai ucapkan : Rabbanaa maa syakarnaaka haqqa syukrika, yaa Masykuur.

Ya Allah, kami kerap lalai mensyukuri nikmatMU, hanya Engkaulah tempat kami bersyukur.



Raka’at 1:

◦ Surat al-Faatihah – Surat al-Ikhlas (2 kali)

Raka’at 2:

◦ Surat al-Faatihah – Surat al-Ikhlas (1 kali)



Setelah salam,

◦ 500 kali “Ya Shamad” (Yang Maha dibutuhkan)



Shalat Tasbih (4 raka’at, 2-2)



Sebelum shalat :

◦ Subhaanallaahi ‘adada khalqihii wa zinata ‘arsyihi wa ridha nafsihi wa midaada Kalimaatih (3 kali).

◦ Subbuuhun Quddus, Rabbunaa wa Rabbul Malaaa’ikati war Ruuh (3 kali).

◦ Subhaanallahi wal hamdulillahi wa laa ilaaha illallaahu waLlahu Akbar

Sebelum takbir :

◦ Allaahumma maa dzakarnaaka haqq dzikrika yaa Madzkuur.

Ya Allah, betapa kami lalai mengingatmu, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengingat.



Setiap raka’at :



◦ Surat al-Faatihah - Surat al-Ikhlas

◦ Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha ilaallahu wal Allaahu Akbar (dibaca 15 kali setelah takbir pertama di setiap raka’at dan 10 kali pada tiap perubahan posisi. Jumlah keseluruhan tasbih menjadi 75x4 = 300 kali). Pada akhir Tasbih dilengkapi dengan ; wa laa hawla wa laa quwata ilaa billaahil ‘Aliyil ‘azhiim.

Setelah salam :

◦ Subhaana man ta’ azzaza bil qudrati wal baqaai wa qahharal ‘ibadi bil mawti wal fanaa’

◦ Subhaana Rabbika Rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuuna wa salaamun ‘alal Mursaliin, wal hamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

◦ Allaahumma, innii a’uudzu bi ridaaka min sakhatika wa bi mu’aafaatika min ‘uquubatika wa bika minka.

◦ Allaahumma, laa nuhii tsanaa-an ‘alaika, anta kamaa atsnayta ‘alaa Nafsik.

◦ Laa ilaaha illallaah (10x) Muhammadur Rasuulullaah

◦ Alaahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim (10x).

Ihda :

Ilaa syarafin Nabiiyi …………Al Faatihah





Shalat Tahajjud (8 raka’at, 2-2-2-2)



Setelah salam,

◦ Do’a : Allahumma lakal hamdu anta qayyumus samaawaati wal ardhi waman fihin, wa lakal hamdu anta malikus samaawaati wal ardhi waman fihin, wa lakal hamdu anta nuurus samaawaati wal ardhi waman fihin, wa lakal hamdu antal haqq, wawa’dukal haqq, waliqa-ukal haqq, waqaulukal haqq, waljan- natu haqq, wannaaru haqq, wassaa’atu haqq, Wannabi Muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallama haqq, Allahumma laka aslamtu, wabika aamantu, wa ‘alaika tawakkaltu, wabika khasamtu, wa ilaika haakamtu, faghfir lii maa qaddamtu, wamaa akhkhartu, wamaa asrartu, wamaa a’lamtu, wamaa akhfaitu, wamaa anta a’lamu bihi minni innaka antal muqaddimu wa antal muakhkhiru, laa ilaaha illa anta, wala haula wala quwwata illa billah, Subhanaka inni kuntu minazh zhalimin.



Allahumma Ya Allah, Engkaulah Penyangga segala yang ada, Engkaulah Penguasa kehidupan ini dan Engkaulah yang memberi kecerahan dengan cahaya Cinta dan Kemurahanmu. Engkau adalah kebenaran yang sesungguhnya. Bahwa janji dan ancamanMu benar2 akan ada bersama dengan perjumpaan denganMu kelak dihari Qiamat, niscaya kebenaran juga yang ku yakini. Sorga adalah kebenaran dan pengharapanku. Neraka pun benar adanya, namun jauhkan dariku Ya Allah. Bahwa sesungguhnya kebenaran Nabi Muhammad adalah keikut sertaanku, dan beliau merupakan penghubung diriku kearah semua kebenaran serta kebaikanMu yang ada. Allahumma Ya Allah, hanya padamu aku berserah diri; kepadaMu aku bertaut memulangkan dan menyandarkan kembali semua perihal diriku agar tetap terjalin sempurna segalanya denganMu ya Allah. Ampunilah diriku ini ya Allah, dengan masa laluku maupun dengan masa2 yang belum kulalui; yang tampak maupun yang kurahasia-kan; dan sesungguhnya hanya Engkau yang mengetahui segala kekurangan dan keluputan diriku ini; hanya Engkaulah Yang Terdahulu dan Yang Paling Kemudian. Tak ada yang layak diper-tuan selain Engkau Ya Allah. Aku ini Ya Allah begitu aniaya dengan diriku sendiri, Ampunilah.



◦ Subhanal Malikil Quddus (3 kali)

◦ Subbuhun Quddusun rabbunaa wa rabbul malaa-ikati warruhi (3 kali)

◦ Khalaqas samaawaati wal ‘ardha bil izzati wal jabarut

◦ Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa wa ‘fu anna, yaa Kariim

Jumat, 02 Desember 2011

Ketahuilah Siapa yang Tertulis sebagai Syekhmu

Ketahuilah Siapa yang Tertulis sebagai Syekhmu

Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani qs

1 Agustus 2011 Zawiya Fenton, Michigan

http://media.islamicsupremecouncil.org/Know_Who_is_Written_as_Your_Shaykh_-3677.html

Seri Ramadan 2011, Volume 3

A`uudzu billahi min asy-Syaythani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim. Nawaytu 'l-arba`iin, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-`uzlah, nawaytu 'r-riyaadhah, nawaytu 's-suluuk, lillahi ta`ala fii haadza 'l-masjid.

Kita memohon dukungan dari syuyukh kita, dari Grandsyekh hingga Nabi (saw). Setiap amal yang ingin kalian lakukan, salat, bekerja, makan, atau minum, yang tidak dimulai dengan “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim” menjadi tidak tersambung; ia tidak mempunyai nilai, sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam kitab suci Al-Qur’an:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْإِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim. inna a`taynaaka al-kawtsar. fa shalli li rabbika wanhar inna syaaniaka huwal-abtar.

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu nikmat yang banyak; maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah, sesungguhnya orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari harapan). ( Surat al-Kawthar, 108: 1-3)

Sebagian dari orang-orang di lingkungan Nabi (saw) berkata, “Wahai kau, Muhammad! Tidak ada yang akan menjadi penerusmu!” Itu artinya, “Engkau tidak mempunyai anak laki-laki (sebagai pewaris), sehingga engkau menjadi tidak tersambung, abtar, namamu tidak akan ada yang membawa, itu sudah tamat, karena siapa yang akan membawa namamu darimu kepada putramu hingga cucumu?” Seorang raja mempunyai keturunan yang mewarisi takhtanya, jadi mereka ingin mempermalukan Nabi (saw), yu`ayyibuun an-nabi.

Kemudian Allah menurunkan Surat al-Kawtsar: “Kami telah memberikanmu sungai Kawtsar; oleh sebab itu salatlah kepada Tuhanmu, karena orang-orang yang menentangmu, dialah orang yang terputus! Engkau tidak terputus karena Aku angkat namamu dengan Nama-Ku, dan engkau membawa rahasia itu, yaa Muhammad! Engkaulah orang yang Aku sandangkan dengan tanggung jawab terhadap seluruh alam semesta di Hadirat-Ku.”

كل عمل لم يبدأ باسم الله فهو أبتر

Jadi Nabi (saw) bersabda, “Setiap amal yang kalian lakukan, jika tidak dimulai dengan “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim” maka ia menjadi terputus.” Oleh sebab itu, orang-orang mempunyai masalah karena kita adalah manusia yang pelupa; Setan membuat kita lupa melakukan apa yang Allah ridai.

Itulah sebabnya di dalam beberapa mazhab mereka mengatakan bahwa mengucapkan “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim” adalah bagian dari Surat al-Fatihah, sementara mazhab lainnya mengatakan bahwa Fatihah berdiri sendiri, tetapi itu tidak berarti bahwa kalian tidak membaca “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim” sebelum Fatihah. Kita melakukan banyak amal di dalam kehidupan sehari-hari yang tidak dimulai dengan “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim,” dan begitu banyak amal di mana kita berbagi dengan Setan dan ini membuat kita berada di dalam berbagai kesulitan.

Tidak ada rasa malu di dalam Islam, la hayya fiid-diin. Banyak orang di Barat yang mandi sebelum mereka tidur bersama. Jika kalian mandi sebelumnya, itu tidak masalah, tetapi kalian harus mandi setelahnya. Kalian tidak suci ketika tenggelam di dalam kenikmatan duniawi dan kalian harus keluar dari sana , jadi kalian harus mandi. Sangat penting ketika kalian tidur bersama istri kalian, untuk memulainya dengan, “A`uudzu billahi min asy-Syaythaani 'r-rajiim.

Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim,” setelah itu anak yang baik akan datang. Jika kalian tidak mengucapkan, “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim,” anak itu akan menjadi abtar. Itu artinya ia akan menemui banyak masalah di dalam hidupnya, karena berkah dari Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim tidak disandangkan padanya. Itulah sebabnya ketika kalian melihat seorang anak melakukan hal-hal yang buruk dan orang tuanya mengeluh, “Anakku membuat masalah.”

Jadi kalian harus tahu bahwa ketika kalian berhubungan intim dengan pasangan kalian, kalian harus mengucapkan, “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim.” Ketika kalian menyusui anak kalian, kalian haru mengucapkan, “Bismillahi 'r- Rahmani 'r-Rahiim,” dan ketika kalian membesarkan anak kalian, kalian harus mengucapkan, “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim,” kalau tidak ia akan dibesarkan dengan refleksi energi yang buruk yang berada di sekeliling kalian.

Grandsyekh `Abdullah al-Fa'iz ad-Daghestani (qs) mengatakannya berulang kali, dan itu ada di dalam ajaran Sayyid Muhammad al-Busayri mengenai “Perilaku kekanak-kanakan yang tercela:”at-tifl an-nafs al-mazhmumah, man syabba `ala syay syaaba `alay, “Siapa yang dibesarkan pada sesuatu, bahkan ketika ia sudah tua dan rambutnya sudah memutih, ia akan tetap seperti ketika ia dibesarkan.”

Jadi itu akan sangat sulit ketika kalian akan memperbaiki diri kalian di dalam tasawwuf, atau marilah kita tinggalkan kata itu dan katakanlah seperti yang Mawlana katakana, di dalam “Rabbaaniyuun,” ketika kalian mengambil langkah pertama di dalam istikamah pada level Rabbaniyuun, kalian tidak akan menghilangkan karakter kekanak-kanakan yang tercela ini dengan cepat. Kalian harus melakukannya secara perlahan dan kalian tidak akan disandangkan dengan wilayah, kewalian.

Saya mendengar hal ini berulang kali dari Grandsyekh `AbdAllah al-Fa'iz ad-Daghestani (q) dan juga dari Mawlana Syekh (q), tetapi beliau mengatakan sekarang bahwa tidak berguna untuk memberikan ilmu-ilmu level tinggi atau pelajaran-pelajaran berat ini. Ketika beliau masih berusia lebih muda, beliau sangat antusias untuk memberikan ilmu macam ini;

beliau mengisi kami, tetapi pada tiga puluh tahun atau empat puluh tahun terakhir, beliau tidak berbicara mengenai sesuatu kecuali tentang ego dan demokrasi; dan itulah yang menjadi subjek zaman ini, Hubb ar-Riyasah, kecintaan untuk menjadi boss. Di dalam demokrasi, kalian membawa orang-orang terburuk ke dalam parlemen, dan mereka mendapatkan uang dan mulai memerintah kalian, meskipun jutaan orang lebih baik daripada mereka.

Itulah yang dianggap korupsi oleh Mawlana, bukan di dalam konsep demokrasi farabi, sebagaimana yang disebutkan oleh salah seorang sejarawan terdahulu dan seorang pemimpin spiritual di dalam tasawwuf yang ingin menciptakan al-Madinat al-Faadilah, “ kota yang paling mulia.” Mereka mengajarkan hal itu di dalam masing-masing mazhab. Kita tidak tinggal di dalam madinat al-fadilah, mengambil orang terbaik; kini kita tinggal di peradaban yang penuh ketidakpedulian, bukannya di “dunia yang modern,” karena tidak ada hal-hal semacam itu. Ini adalah peradaban terburuk yang dapat kalian bayangkan, di mana kita tinggal, dan itu akan semakin parah dan semakin parah sampai Allah mengirimkan, sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi (saw) di dalam banyak hadis:
قال النبي صلى الله عليه وسلم لا تنقضي الدنيا حتى يملك الأرض رجل من أهل بيتي يملأ الأرض عدلا كما ملئت قبله جورا يملك سبع سنين

laa tanqadii 'd-dunya hatta yamliku 'l-ardha rajulun min ahli baytii yamlaa al-ardha `adlan kama muli'at juura yamliku saba` siniin.

“Dunia ini tidak akan berakhir hingga ia dipimpin oleh seorang laki-laki yang berasal dari Ahlulbaitku yang akan mengisi dunia dengan keadilan dan kebahagiaan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kerusakan. Ia akan memerintah selama tujuh tahun.”

Jadi sampai saat itu tidak ada yang dapat menyelamatkan dunia ini. Saya berbicara dengan Mawlana kemarin setelah ada berita bahwa Mufti Besar Mesir memberikan fatwa untuk merayakan kemunculan al-Mahdi (as). Itu adalah suatu perubahan besar, menyebutkan bahwa kalian dapat merayakan dan menunggu kedatangannya, yang artinya untuk mempersiapkan diri kalian, jangan melihat pada perbedaan, apakah Syi`ah atau Sunni. Jadi kedatangan Mahdi (as) adalah sebuah fakta, dan membuat itu penting adalah sesuatu yang hebat.

Para ulama mengetahui bahwa Sayyidina `Isa (as), Dajjal, dan Mahdi (as) akan datang. Jadi apa yang telah disampaikan oleh para awliyaullah sejak lama sekarang bertepatan dengan apa yang dikatakan oleh Mufti Besar. Saya terkejut. (Mawlana bertanya pada seorang murid.) Apakah engkau ingat ketika mereka menerbitkan sebuah buku di Berkeley , California di mana mereka merujuk Mawlana Syekh Nazim sebagai “al-Mahdawiyya”? Itu artinya bahwa kita adalah tarekat Sufi yang berhubungan dengan Mahdi (as), karena ceramah Grandsyekh dan Mawlana Syekh berfokus pada aspek itu. (Ya, saya ingat.)

Dua puluh tahun yang lalu mereka terkejut mengenai hal itu dan bertanya, “Apa yang kalian bicarakan mengenai Mahdi?” Banyak Koran Islami yang menulis bahwa Naqsybandi menantikan Mahdi, tetapi sekarang Mufti Besar Mesir, yang artinya Mufti Besar bagi dunia Muslim karena Mesir mewakili dunia Muslim, yaitu Azhar asy-Syariif, kepalanya berkata, “Ya, hal itu diperbolehkan.” Itu artinya beliau mengakui bahwa al-Mahdi akan datang. Apa yang telah disebutkan oleh para syuyukh Naqsybandi dan saya belum pernah melihat tarekat lain menyebutkan al-Mahdi hingga 200 tahun yang lalu di masa Sayyidina Khalid al-Baghdadi (q), yang mengirimkan para pengikutnya ke Mekah untuk bertemu Mahdi (as). Itu artinya Mufti Besar itu menginginkan kemunculannya.

Sebelumnya Grandsyekh `Abdullah al-Fa'iz ad-Daghestani (q) berkata bahwa itu belum muncul di Loh Mahfuz, tetapi ketika Sayyidina Khalid muncul, itu muncul di Loh Mahfuz sehingga beliau mengirimkan murid-muridnya ke Mekah untuk bertemu dengan al-Mahdi dan memberikannya bay’at. Mereka dibusanai dengan realitas kemunculan Mahdi karena mereka mengikuti perintah syuyukh mereka; itulah faktanya yang membuat mereka dibusanai.

Jadi kalian tidak bisa menghilangkan nafs al-tifl al-mazhmoumah. Syekh berada di dalam hidup kalian untuk memoles kalian secara perlahan, dan jangan berpikir bahwa bila kalian sudah terpoles maka kalian akan menjadi seorang wali karena kalian masih di dalam tahap pelatihan. Seperti seseorang yang mempunyai kekurangan, kalian memerlukan banyak operasi untuk bisa berdiri. Itulah yang membuat saya sampai pada: Grandsyekh mengatakan bahwa seorang wali tidak akan menjadi wali jika ia tidak membersihkan semua garis keturunannya hingga ke Sayyidina Adam (as), semua kakek moyang atau leluhurnya.

Jika ia mampu membersihkan mereka semua satu per satu, seluruh garis leluruhnya hingga mencapai Sayyidina Adam (a), maka melalui proses itu ia akan dibusanai dengan level pertama dari kewalian. Hal itu bukan semata kalian mengenakan turban dan memelihara janggut lalu menjadi seorang syekh. Tidak, kalian adalah seorang aktor, bahkan bukan aktor, melainkan aktris! Itu bukan untuk merendahkan gender lain karena kita semua, di dalam termin spiritual, di sana ada “level kedewasaan (manhood)”, di mana bahkan kaum wanita juga bisa mencapainya karena di dalam tarekat berlaku kesetaraan, tetapi jika kalian tidak mencapainya, maka kalian masih dianggap berada di “level belum dewasa (womanhood).” Kedewasaan sejati adalah level di mana seseorang mampu menghilangkan semua busana untuk mencapai level Makrifatullah dan mencapai masa untuk mencapai level kedewasaan.???

Misalnya, di sebuah paspor seorang wanita membawa nama belakang suaminya. Bahkan di Amerika dan Eropa, meskipun mereka mempunyai pilihan untuk tidak melakukannya, sebagian besar menggunakan nama suaminya sampai sekarang, dan anak-anak membawa nama ayahnya. Itulah identitas paspor kalian. Mereka mengikuti apa yang tertulis di dalam kitab suci al-Qur’an:

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ

id`uuhum li-aabaahim.

Panggilah mereka (dengan memakai) nama ayah-ayah mereka. (al-Ahzaab, 33:5)

Karena prialah yang menanamkan benihnya ke dalam tanah yang subur yang Allah ciptakan. Kehormatan seorang ibu adalah memberikan kalian buah yang matang, tetapi benihnya berasal dari ayah. Itulah sebabnya kalian dipanggil menurut ayah mereka, karena mereka membawa nama kalian. Oleh sebab itu, bagaimana seorang wali membawa nama orang tuanya jika ayahnya tidak bersih? Jadi untuk menjadi seorang syekh di dalam tasawwuf tidaklah mudah. Wali itu harus pergi satu per satu dan membersihkan mereka, dan jika ia tidak mengeahui sumbernya, maka ia menjadi terputus. Ada dua garis keturunan: satu adalah fisik dan yang kedua spiritual, dan keduanya adalah penting. Jadi, bila kalian tidak mengetahui garis keturunan kalian, di mana syekh kalian, maka kalian adalah abtar. Itu seperti menunggu air dari pipa yang patah, jika kalian tidak tersambung dengan syekh yang benar yang tertulis bagi kalian di Loh Mahfuz.

Misalnya, bila kalian adalah seorang yang jujur dan teguh pada iman kalian, kalian tidak membuat diri kalian seperti Firaun yang mengatakan, “Aku adalah Tuhanmu, Yang Maha Tinggi!” Kalian cukup rendah hati untuk mengatakan, “Aku bukan apa-apa,” dan tidak memanggil orang untuk diri kalian sendiri dan membuat mereka menyembah kalian, dan tidak membiarkan mereka mengunjungi syekh tanpa izin kalian. Tidak perlu bagi mereka untuk meminta izin dari kalian atau tidak! Saya tahu syekh di sini di Amerika dan negara-negara lain, para perwakilan, yang memberi “izin” kepada para pengikutnya untuk mengunjungi Mawlana Syekh Nazim, dan itu tidak benar, karena setiap orang bisa pergi mengunjungi Mawlana Syekh.

Ketika Mawlana masih muda, beliau pergi ke Istanbul untuk mempelajari Kimia Teknik dan kemudian beliau meninggalkannya karena beliau tidak mempedulikannya. Itu adalah tujuh puluh tahun yang lalu. Beliau mempunyai dua orang syekh yang mengajarinya Bahasa Arab dan tasawwuf di Masjid Sultan Ahmed. Setelah beberapa lama, beliau berkata kepada Syekh al-Lasuuni, yang mengajar banyak murid, “Aku ingin berbay’at denganmu.” Beliau adalah seorang syekh sejati, bukannya pura-pura, syekh plastik, beliau adalah buah sejati. Syekh plastik terlalu banyak untuk dihitung. Kita semua adalah syekh plastik. Semoga Allah mengambil kita dari plasticisme dan kedunguan seperti keledai, dan mengembalikan kita kembali pada buah-buahan yang banyak buahnya.

Mawlana mengatakannya di depan orang-orang, “Yaa Sayyidii, aku ingin mengambil bay’at.” Syekh Nazim sangat terpelajar dan orang tuanya sangat terkenal di Turki dan Siprus. Syekh itu melihatnya di depan ratusan dan ribuan murid, dan beliau berkata, “Yaa waladii, aku tidak bisa memberimu bay’at.” Sementara di sini kalian datang dan berkata, “Berikan kami bay’at,” itu sangat murah. Membawa orang sebanyak-banyaknya untuk mengambil bay’at (demi kecintaan menjadi boss). Bahkan jika kalian mempunyai izin untuk memberikan bay’at, jangan diberikan, karena syekh melihat pada kalbu kalian dan ia tahu aspek tersembunyinya. Apakah kalian memberi bay’at karena kalian sombong, arogan, gembira, atau sakit—syekh akan mengetahuinya. “Apakah kalian memanggil mereka untuk dirimu sendiri atau untukku?” Oleh sebab itu, lebih baik tidak memberikannya karena itu berasal dari karakter buruk dari ego, yang memerlukan pelatihan untuk mengatasinya.

Siapakah yang memberikan bay’at? Segera setelah kalian melakukan dosa, bay’at kalian hilang, jangan pikir ia masih ada. Sampai kalian meminta maaf dari orang yang kalian sakiti. Itulah sebabnya kalian tidak boleh bergunjing atau menyebarkan rumor yang tidak benar. Jika itu haqq dan orang itu menyakiti kalian, kalian boleh mengekspos orang itu.

Syekh itu berkata, “Aku tidak akan memberimu bay’at,” Mawlana Syekh berkata, “Mohon, Sayyidii.”

Beliau menolak untuk memberinya di depan ratusan orang, dan karena setiap orang bukan wali, mereka muali berpikiran buruk. Kemudian Syekh mengizinkan Mawlana untuk pergi dan beliau patah hati. Itu adalah ujian dari wali. Itu bukan seperti sekarang ketika mereka datang dan berkata, “Beri aku bay’at,” bahkan tanpa wudu! Kita berharap bay’at kita dijaga bersama Mawlana Syekh. Mereka menjaganya, tetapi kita tidak menjaganya. Ketika kita berdosa, berarti kita melanggarnya, dan Allah memberi mereka kekuatan untuk memperbaiki apa yang telah dilanggar.

Beberapa rumor tersebar menyerang saya oleh beberapa kelompok. Saya berada di Siprus dan beberapa wanita dan pria dari Jerman sangat menyukai saya, dan mereka adalah orang-orang yang tulus, tetapi ada dua atau tiga wanita di antara yang lain di dergah wanita, dan satu Jumat mereka membaca Surat al-Mulk, at-Tabaraka, menunggu Mawlana memberikan pelajarannya. Saya duduk di mihrab menunggu selesainya salat karena Mawlana telah menempatkan saya sebagai imam. Kami menyelesaikan salat dan kemudian keluar. Kemudian seorang wanita datang dan berkata, “Aku ingin berbicara denganmu.” Dia adalah seorang Arab tetapi tinggal di Jerman dan dia mengerti Bahasa Jerman. Dia berkata kepada saya bahwa ada dua wanita di sana , dan Mawlana duduk dan mereka berkata, “Syekh Hisyam tidak memberikan bay’at kecuali dengan membayar $100.” Rumor dan ghibah dilarang oleh Nabi (saw). Wanita itu menjawab mereka dengan kasar.

Orang-orang mendengar bahwa syekh tidak memberi bay’at kepada Mawlana, dan itu adalah sebuah ujian. Beberapa orang mengatakan, “Syekh mempermalukan aku,” tetapi itu adalah tarfi` ad-darajaat, bagaimana mereka meningkatkan level kalian. Jika syekh plastik mempermalukan kalian, ia melakukan dosa dengan menyakiti hati kalian. Jika seorang syekh sejati melakukan hal itu, ia mengangkat kalian, jadi jangan mempunyai keraguan terhadap syekh kalian. Mawlana kembali keesokan harinya, karena beliau tidak mempunyai keraguan, dan kemudian syekh berkata kepadanya, “Nazim Effendi, namamu tidak tertulis sebagai salah satu muridku. Namamu adalah bersama Syekh `AbdAllah ad-Daghestani di Damaskus, Sultan al-Awliya. Pergilah dan ambil bay’at dengannya.”

Ini adalah sebuah contoh bagaimana para awliyaullah mengetahui hierarki mereka. Mereka tidak semua berada dalam syekh yang sama karena ada banyak level syekh, tetapi apapun levelnya, tetap saja kalian harus rendah hati dan penuh hormat. “Pergilah ke Damaskus, kepada Syekh `Abdullah ad-Daghestani. Beliau adalah syekhmu. Aku tidak bisa melewati batas.”

Saat itu adalah Perang Dunia II, ledakan dan bombardir ada di mana-mana karena Perancis dan Inggris berperang di Suriah. Mawlana Syekh pergi ke Homs dan tinggal di sana selama satu tahun, jadi beliau melakukan khalwat di sana . Beliau mempelajari buku-buku fiqh dan itu dilakukan di makam Sayyidina Khalid ibn al-Waliid (ra). Beliau tinggal di sebuah kamar di sebelah makam dan mendengarkan Syekh Ayyuun as-Suud. Kemudian perang berakhir dan beliau pergi menuju Grandsyekh, tetapi beliau tidak tahu ke mana harus pergi. Jadi mereka menurunkannya di Hayy al-Miidan, tetapi sangat mengejutkan bahwa mereka tidak menurunkannya di Marja, di tempat pemberhentian taksi utama, tetapi mereka menurunkannya dua jam dari sana ! Saat itu sedang perang dan tidak ada orang di jalan, tetapi seseorang melihatnya mengenakan jubah dan membawa tongkat seperti Sayyidina Musa (as).

Seseorang melihatnya dan berkata, “Apa yang kau lakukan di sini, syekh? Mari, mari, ke mari.” Orang itu memberi makan Mawlana dan berkata, “Bagaimana aku dapat membantumu?” Mawlana berkata, “Aku mencari Syekh `AbdAllah al-Fa'iz ad-Daghestani.” Ia berkata, “Beliau adalah tetanggaku! Aku akan membawamu ke sana .” Hari berikutnya Mawlana pergi ke pintu, tetapi sebelum beliau mengetuk, Grandsyekh membuka pintu dan berkata, “Kami telah menanti kedatanganmu.”

Kita akan melanjutkan kisahnya besok. Tarekat tidak mudah, banyak hal di jalan kalian yang mungkin merintangi kalian, tetapi kalian harus mengatasinya. Jika kalian mengatakan kepada beberapa orang, “Tidak ada bay’at,” mereka akan pergi menyimpang, berpikir, “Syekh itu berpikir bahwa ia lebih baik daripada aku, jadi aku akan mencari syekh lain.”

Wa min Allahi 't-tawfiiq, bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.
Orang-orang akan dikumpulkan
dengan siapa yang dicinta
bagai burung-burung terbang bersama
dengan sejenisnya

O,kawan!
Kala kau berdusta:
pendusta akan mengerumini dirimu!

Kala kau berkhianat:
pengkhianat akan datang menjemputmu!

Kala kau mencuri:
maling-maling akan hadir bersamamu!

Kala kau korupsi:
koruptor akan mengkerubuti dirimu!

Kala kau merampok:
perampok setia menguntitmu!

Kala kau mengkritik:
pengkritik akan merubung dirimu!

Kala kau memperkosa:
pemerkosa akan tiba di luar sepengetahuanmu!

Kala kau percaya:
orang-orang beriman akan menemanimu!

Rumah Cinta,

ujian


Masa-masa ujian adalah tungku perapian
untuk membersihkan perak dari kotoran

O,kawan!
Kau harus menanggung banyak ketidaksenangan:
selagi menepis kotoran!

Bagi gandum dirimu:
ditumbukNya biar kulitnya lepas
dilumatkanNya agar lebih lembut
diadoniNya agar lebih lezat
dipanaskanNya dalam tungku api Cinta
jadilah kau roti persembahanNya!

Bagai padi dirimu:
digilingNya biar jadi beras
dicuciNya agar menjadi bersih
dipanaskanNya dalam tungku api Cinta
jadilah kau nasi suguhanNya!

O,kawan!
Dari lempung kejadianmu
digosokNya dengan berbagai peristiwa:
kau pun menjadi intan permata!

Minggu, 27 November 2011

Menunggu Kejadian yang akan datang di bulan Muharom


Sulthan Awliya Mawlana Sheikh Nazim Adil Haqqani qs

Lefke Cyprus 12 November 2011





We Await Muharram



Kegelapan… kegelapan. Semua negara seakarang ini diliputi kegelapan, kegelapan. Semoga Allah (SWT) melindungimu dan melindungi anak-anakmu. Semoga Dia (SWT) melindungi umat Nabi Muhammad (saw) dari segala kejahatan dan segala penyakit di dunia ini dan di akhirat. Rahmat bagii Nabi Penghabisan, Muhammad (SAW). Aku ingin bertanya apakah para Ibu kita dahulu mereka pergi ke dokter untuk melahirkan?



Syaikh Nabil: Tidak, tidak pernah.



Mawlana Syaikh Nazim qs: Cukup Bidan saja yang datang ke rumah. Ketika ibu saya, semoga Allah (SWT) merahmati beliau, mulai merasakan kontraksi untuk melahirkan mereka bergegas pergi memanggil bidan, dan bidan itu bergegas pergi ke rumah kami, bukan kerumah sakit! Tetapi ketika dia datang, saya sudah lahir. Tidak ada yang menyentuh saya, tidak juga bidan. “Di mana, di mana dia?” kata bidan. “Dia di dalam sana”. Bidan itu masuk ke kamar dan melihat saya sudah lahir. SubhanAllah Al'Aliyil Al 'Azim.



Sekarang untuk setiap hal kecil saja mereka pergi ke dokter, untuk apa? Wahai Tuhanku, aku ingin berdoa, Yaa Rabbi, Yaa Allah, Wahai Tuhanku buatlah perkara-perkara kami menjadi mudah. Bukalah hati kami dan hilangkan kekhawatiran kami. Hancurkan musuh-musuh kami baik dari bangsa manusia dan jin. Wahai Tuhanku. Aman Ya Rabbi, tawbat Ya Rabbi, tawbat Ya Rabbi, tawbat astaghfirullah. Masalah tidak pernah ada akhirnya.



Syaikh Nabil: Benar.



Mawlana Syaiikh Nazim qs : Dunia adalah untuk dunia, dan karenanya saat ini saya menunggu datangnya bulan Muharram. Muharram, jika sesuatu terjadi (peperangan), maka dunia akan jadi seperti ini.



Murid: "Kun Fayakun" (36:82) (Jadilah, dan terjadilah!)



Mawlana Syaikh Nazim qs: Sayyidina Al Mahdi (as) akan datang. Dan tahun ini dia (Imam Mahdi, as) hadir di Arafah. Dia (Sayidina Mahdi as) ada di sana. Tapi dia berada disana satu hari sebelumnya, pada hari Jumat, ya, Jumat. Tahun ini adalah Hajj Al Akbar. Semua Awliya hadir di sana tapi mereka tidak mau orang-orang biasa tahu karena tajalinya sangat kuat tahun ini, dan orang biasa tidak akan mampu memikulnya.



Awalnya diputuskan (fatwa) bahwa hari Arafah untuk umum jatuh pada hari Jumat, tapi pada saat terakhir hal itu diubah jadi sehari sesudahnya, yakni hari Sabtu. Mereka menundanya jadi hari Sabtu agar mereka dapat berkumpul di sana (di Arafah). Ini pengetahuan yang kami miliki. Di luar ini kami tidak tahu. Ini yang kami tahu. Subhana Allah Al 'Aliyil Al Azim,

Nabi (saw) memberitahu kami bahwa akan ada banyak kesulitan dan perselisihan di antara orang-orang Arab.



Syaikh Nabil : Ya.



Mawlana Syaikh Nazim qs : Sekarang orang-orang Arab terpecah-belah dan turun kepada mereka kemarahan dan hukuman dari Surga. Semoga Allah (SWT) memaafkan kita dan melindungi kita dari Murka-Nya. Tapi masalah-masalah (di antara orang-orang Arab) akan berakhir pada bulan Muharram, karena Allah Azza wa Jalla akan memperkuat Islam selalu di bulan ini, di bulan Muharram Al Haram, BUlan MUharam yang suci. Kita akan lihat, kita akan lihat jika ada pergerakan (tentara perang) maka setiap orang harus tetap berada di tempatnya.



Tamu : Di rumah mereka?



Mawlana Syaikh Nazim qs: Mereka tidak boleh bepergian ke sana kemari, tidak! Tanggal 10 Muharram, jika ada sesuatu yang seharusnya terjadi, maka akan terjadi pada bulan Muharram dan Safar (Safar Al Khayyer) jutaan orang akan musnah.. akan binasa...

.

Tamu : Allahu Akbar!

Mawlana Syaikh Nazim qs : Zaman sekarang Orang-orang menjadi begitu dzalim, menjadi tiran.



S.N: Benar



Mawlana Syaikh Nazim qs : Para Tiran, mereka tidak mendengarkan kata-kata Allah (SWT) dam mereka tidak mengikuti kata-kata Nabi (SAW). Mereka hanya mau mengikuti orang-orang yang tidak beriman (kufur). Apa yang telah Allah (SWT) ungkapkan kepada Kekasih-Nya. Dia (SWT) memberikan Kitab Suci, Hukum Ilahiah (Syari'at Islam) ."Dan barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang telah diturunkan Allah swt, mereka adalah orang –orang yang kafir" (5:44).



Siapa yang berlari menjadi orang-orang yang tidak beriman dan mengikuti mereka, maka mereka akan tertimpa hukuman Allah (SWT) yang berat. Apa yang terjadi di Mesir adalah berasal dari hukuman Allah (SWT), hukuman yang berat.Hal yang sama terjadi di Lybia, di Yaman,di Tunisia, Aljazair dan di Syria dan disemua terjadi di negara-negara Muslim. Hal ini terjadi agar mereka selamat dengan peringatan Allah dan berpegang teguh pada Hukum Ilahiah. Siapa yang berpegang teguh pada Hukum Ilahiah (Syariat Islam), maka mereka akan selamat. Jika mereka tidak berpegang teguh pada Hukum Ilahiah, maka mereka akan dimusnahkan. Allah Allah... Allahumma La Hawla wa La quwwata... Allahumma La Hawla wa La quwwata...Fatiha





ampuni kami yg masih bermain2 dlm kubangan lumpur kelalaian ini ya Rabb,mhn angkatlah kami,dustuuur..madad ya sayyidi..Ya Sulthonil Awliya.. madad ya Rabb

Tawasalna binnabi muhammadin Rasulillahi wa bi Awliya wa masyayikhi fit thoriqotil Naqshbandi :

Jumat, 25 November 2011

Saat Tragedi Mendatangi Hidup Kita



Maulana Syaikh Nazhim Adil Al-Haqqani

(Saat Tragedi Mendatangi Hidup, Bagaimana Kita Menjaga Iman Kita akan Rahmah Allah SWT )



Pertanyaan: "Syaikh Nazim Effendi, saat kita menyaksikan keindahan terbitnya matahari dan langit tanpa batas yangpenuh dengan bintang, kita merasa dan mengetahui dengannya akan keberadaan Sang Pencipta dan bahwa Ia adalah Maha Agung. Tapi, terkadang dalam hidup seseorang terjadi peristiwa yang menyedihkan dan mengerikan: ketika orang yang kita cintai wafat - orang tua, saudara, teman. Saat tragedi mendatangi kehidupan kita, bagaimanakah kita mampu menjaga iman kita akan rahmah Tuhan, bagaimanakah kita dapat merasakan bahwa Ia peduli akan apa yang terjadi pada setiap orang dari kita?"





Jawaban dari Mawlana Syaikh Nazhim Haqqani : Kini, tamu terhormat kita telah menanyakan suatu pertanyaan yang amat penting yang pasti ditanyakan oleh setiap orang di dunia ini dalam hatinya masing-masing. Kedua matanya telah terbuka akan Keagungan Tanpa Batas dari Sang Pencipta melalui keajaiban dan keindahan yang telah Ia Yang Maha Kuasa ciptakan untuk hal itu.





Karena itulah, ia memuji sang Pencipta dan berkata bahwa tanda-tanda yang menakjubkan dalam alam semesta ini dan kesempurnaan serta keharmonisan dari pergerakan rumit benda-benda langit, serta keseimbangan alam, akan menyebabkan seseorang tersadar akan Kebesaran Sang Pencipta, Sang Pemelihara dan Sang Pemandu dari Semua Ciptaan. Tamu kita tersebut telah menyadari, sebagaimana semua orang yang beriman, bahwa Rahmat tanpa akhir dari Tuhan meliputi seluruh alam semesta, karena tanpanya baik diri kita maupun makhluk lain tak akan mampu wujud dan mendapatkan bagian rezekinya.





Ia telah melihat bahwa diri kita tengah berenang dalam Samudera-samudera Rahmat Allah. Tapi, ia bertanya, sebagaimana juga dilakukan begitu banyak orang, bagaimanakah kita bisa mendamaikan keimanan kita akan Rahmah Allah ini dengan kepahitan dan kengerian yang kita rasakan saat kematian orang-orang tercinta atau saat terjadinya peristiwa-peristiwa yang tampak kejam dan mengerikan di dunia ini. Ia tengah bertanya bagaimanakah kita mampu menangani keraguan yang merasuki pikiran kita berkaitan dengan rahmat tadi, bagaimanakah kita menangani suara yang berkata pada diri kita: "Jika Allah begitu penyayang, bagaimana mungkin Ia mengizinkan peristiwa-peristiwa seperti itu terjadi?" Kemarin kita telah berbicara tentang penciptaan Adam, dan kita berkata bahwa, menurut tradisi, Keturunan Adam telah dikaruniai kedudukan paling terhormat di antara seluruh makhluk di dunia ini, suatu kedudukan sebagai wakil-wakil (khalifah) dari Pencipta mereka.





Setiap makhluk boleh untuk meminta memiliki posisi yang demikian tinggi itu, tapi Allah Ta'ala mengingatkan mereka semua, dengan bertanya: "Siapa di antara kalian yang siap untuk membayar harganya dan memikul beban dari kedudukan yang paling terhormat itu? Siapa yang mampu memikul kedudukan terberat itu di atas bahunya?" Ya, kepada seluruh ciptaan dipertunjukkan pada mereka sifat dan karakteristik kedudukan terhormat itu, beserta tanggung jawab-tanggung jawab yang menyertainya. Sebagaimana Allah Ta'ala menyatakan dalam Quran Suci: "Sungguh, telah Kami tawarkan amanah itu pada Langit, Bumi, dan gunung-gunung; dan mereka semua menolak untuk menerimanya, dan mereka takut untuk mengkhianatinya. Tapi, manusia, ia mengambilnya untuk dirinya sendiri dan memikulnya. Sungguh ia amat zalim, dan amat bodoh." [QS. 33:72]





Dan Allah Ta'ala membukakan bagi seluruh ciptaan apa yang termaktub dalam amanat itu, sehingga tak ada satu ciptaan pun yang akan berkelit bahwa ia telah dibebani suatu beban di luar dari apa yang ia sendiri telah terima. Sebagai hasilnya, ketika mereka dihadapkan pada pilihan itu, seluruh ciptaan menolak untuk mengambilnya bagi diri mereka sendiri, dengan mengatakan bahwa mereka tak dapat mempercayai diri mereka sendiri dengan suatu tugas yang memiliki kondisi dan persyaratan seperti itu (amanat); mereka berkata bahwa mereka takut menghadapi tantangan yang demikian berat seperti itu. Tapi manusia berkata, Aku dapat memikulnya. Aku siap untuk melakukan pengorbanan yang diperlukan, aku siap untuk membayar harganya." Di sinilah, kemudian, terletak jawaban bagimu.





Jika kalian mengklaim kehormatan itu, jika kalian menghargai kemuliaan posisi kalian sebagai "Mahkota Ciptaan", jika kalian mempertimbangkan bahwa hal yang memisahkan diri kalian dari anjing dan monyet tersebut, patut untuk dijaga, patut untuk diberi pengorbanan, maka kalian pun mesti siap untuk menerima dan setuju dengan keputusan dan takdir Tuhan kalian; itulah harga yang kalian bayar untuk kedudukan paling terhormat itu. Kalian tak boleh menolak apa yang Ia kehendaki dalam mengarahkan jalan kehidupan ciptaan-Nya.





Ia SWT melakukan apa pun yang Ia Kehendaki, dan kewajiban diri kita adalah untuk bersabar dalam perkara-perkara yang berada di luar jangkauan pengaruh kita (seperti ketakterhindaran kematian), demi kecintaan dari Tuhan kita, karena Ia telah berikan cinta-Nya pada keturunan Adam di atas semua makhluk lainnya. Lihatlah, Tuhan kita meminta Nabi Ibrahim alaihis salam untuk menyembelih putranya Ismail alaihissalam demi cinta Tuhannya. Dalam cerita ini terdapat suatu pelajaran bagi diri kita semua. Ia Ta'ala memerintah kan Ibrahim: "Sembelihlah anakmu demi Diri-Ku. Harga dari Cinta-Ku jauh lebih tinggi daripada pengorbanan dari cinta yang kau labuhkan pada putra kesayanganmu itu.





Berikan cinta itu (yang kini kau berikan bagi anakmu) pada-Ku pula: dengan menyembelihnya, berikan (cinta itu) pada-Ku." Kemudian Ibrahim bersiap untuk menaati Tuhannya, sekalipun syetan mencoba berulang kali untuk membujuknya. Dus, (dengan membuktikan kesiapannya untuk melaksanakan perintah Tuhan) Ibrahim membuktikan keteguhannya (istiqomah) dalam menaati perintah Ilahi. Tapi, Tuhan, yang tidak membutuhkan darah pengorbanan, melainkan menerima ketulusan yang dipersembahkan melalui kurban itu, mencegah pisau (milik Ibrahim) dari melakukan pemotongan.





Ia SWT memerintah pada pisau: "Jangan memotong!" Hingga ketika Ibrahim berusaha menyembelih leher anaknya, pisau itu tak juga dapat memotong, bahkan tak mau untuk menyayat segores pun, sekalipun Ibrahim telah mengasahnya sendiri dengan kerajinan dan ketekunannya. Berulang kali ia menggoreskan pisau itu atas leher halus putranya, tapi tanpa ada hasil. Pada akhirnya Ibrahim melempar pisaunya. Dan untuk menunjukkan pada Ibrahim, akan Kekuatan dari Kehendak-Nya, Ia Ta'ala membuat pisau itu menebas menembus suatu batu besar bagaikan sebilah pisau menyayat sepotong keju.





Kemudian seorang Malaikat muncul di hadapan Ibrahim yang tengah terkejut, berkata: "Wahai Ibrahim, jangan kau berpikir bahwa pisaumu tumpul! Kau telah buktikan ketulusanmu, kini ambillah domba ini dan sembelihlah ia..." Allah Ta'ala telah mengaruniakan Cinta Ilahiah-Nya pada keturunan Adam, dan kita telah merespon pada Tuhan kita, dengan mengatakan: "Kami adalah benar bagi-Mu, wahai Tuhan Kami." Kemudian Ia Yang Maha Agung berkata, "Akan Kucoba dirimu, untuk menguji seluruh diri kalian untuk melihat siapa yang benar atas klaimnya mencintai-Ku." Siapakah yang mampu bertahan dengan cobaan seperti yang menimpa Ibrahim? Tapi, dalam keseluruhan hidup kita, banyak pula berbagai cobaan menimpa, dan dengan bersabar dalam menghadapi cobaan-cobaan itu, kita akan memperoleh cinta tanpa batas dari Tuhan kita.





Salah seorang wali terkenal dalam Islam adalah Raja dari negeri Balkh, yaitu Ibrahim bin Adham. Ia meninggalkan kerajaannya demi Tuhannya dan pergi untuk hidup dengan apa yang ia peroleh dari melakukan kerja buruh yang kasar, dan mendarma baktikan waktu luangnya, dan seluruh hatinya, untuk pengabdian bagi Tuhannya. Saat ia turun dari tahtanya, ia pergi meninggalkan pula di belakangnya istri yang tengah hamil. Setelah dua belas tahun, anak laki-laki yang dilahirkan istrinya tersebut mulai bertanya tentang ayahandanya Sang anak pun pergi mencari ayahandanya, dan berhasil melacak jejak ayahnya hingga akhirnya ia menjumpai ayahandanya di Makkah.





Ibrahim bin Adham mengetahui bahwa anak tersebut adalah putranya, begitu ia pertama kali melayangkan pandangan matanya pada wajah mulia sang anak. Ibrahim bin Adham berkata: "Kau adalah putraku." Sang anak berkata: "Kau adalah ayahandaku." Kemudian Ibrahim bin Adham berdoa pada Tuhannya: "Wahai Tuhanku, Kau lebih tahu bahwa hingga kini, seluruh cintaku hanya kupersembahkan bagi-Mu. Kini telah kulihat bahwa sebagian cintaku telah berlabuh pada putraku ini. Wahai Tuhanku, seluruh yang kuinginkan dalam hidup ini adalah agar keseluruhan hatiku murni hanya teruntuk bagi-Mu; karena itu aku memohon-Mu untuk mengubah cinta yang ada dalam hatiku bagi anakku ini menjadi cinta bagi-Mu."



Kemudian Allah Ta'ala memanggil ruh anak laki-laki Ibrahim bin Adham ke Hadirat Ilahiah-Nya (yaitu mewafatkannya, penerj.) Cinta yang dimiliki sang anak bagi ayahnya telah ditransformasikan menjadi Cinta Ilahi, sehingga ia pergi ke Hadirat Ilahi dalam keadaan suci sempurna; dan cinta yang dimiliki Ibrahim bin Adham bagi putranya tersebut juga menembus relung Cinta Ilahiah, bersatu dengan Samudera - samudera Cinta Ilahiah dalam kalbu kewaliannya.





Allah Ta'ala adalah "Al-Ghayyur" atau "Tuhan Yang Pencemburu". Ia menyuruh diri kita untuk menyatukan semua cinta yang kita rasakan, ke dalam Cinta Ilahiah-Nya; untuk mengambil cinta yang kita miliki dan rasakan bagi orang-orang tercinta kita dan mentransformasikan nya, mengubahnya menjadi suatu cinta yang akan menembus relung Cinta Ilahi. Inilah makna dari Ia yang menginginkan suatu "kalbu suci (qalbun saliim) dari hamba-hamba-Nya, karena semua yang kau cintai dalam diri kekasih-kekasihmu (orang-orang yang kau cintai) tak lain tak bukan adalah suatu tarikan dari seberkas sinar atribut-atribut Tuhanmu yang kau lihat dalam diri mereka, yang berkilau melalui keakraban di antara dirimu dan diri mereka lalu menjangkau hatimu.





Semua orang-orang yang kau cintai itu akan mati, dan begitu pula dirimu; tapi jika cinta itu mencapai penerima sejati dari semua cinta, maka tujuan utama dari cinta manusia telah teraih, dan hal ini diterima serta menyenangkan dalam Hadirat Ilahiah. Namun, jika kita gagal untuk berserah diri pada keputusan Tuhan kita akan kefanaan dari seluruh makhluk-makhluk-Nya, dan membenci-Nya karena menaruh diri kita dalam suatu wujud sementara yang dipenuhi bayangan-bayangan, keadaan dan perasaan yang berlalu, maka hidup ini pun akan menjadi suatu pil yang terlalu pahit untuk ditelan. Dalam kasus seperti itu, hidup pun dengan sendirinya menjadi suatu samudera kesedihan, karena bagaimana pun Ia SWT memanggil semua hamba-hamba-Nya, satu demi satu, kembali ke Hadirat Ilahiah dan meninggalkan diri kita dan dunia ini.



Dialah Tuhan kita, satu-satunya Pemelihara keberadaan diri kita. Dia memiliki hak dan kekuasaan atas kita dan mencoba diri kita untuk melihat siapakah yang benar dan berpegang pada cinta dari Tuhan mereka. Karena itulah, segala macam bentuk kejadian bisa terjadi: orang-orang tercinta bisa mati, orang-orang muda mati, saudara, orang tua, istri atau suami akan mati. Kemudian, Ia akan melihat apa yang kalian lakukan: Dapatkah diri kalian mengubah cinta kalian dan membuat tragedi tersebut menjadi suatu sebab untuk meningkatkan cinta kalian pada Tuhan kalian? Begitu sedikit orang memahami hal ini, dan karena itulah mengapa mereka tak mampu melihat Hikmah Ilahiah di balik peristiwa-peristiwa yang menyedihkan.





Mereka tak menyadari bahwa Tuhan kita tengah mengisyaratkan pada diri kita untuk mencintai-Nya sepenuhnya dan secara eksklusif; karena itulah mereka menjadi menderita. Segala sesuatu yang Ia Ta'ala berikan pada Anak Adam adalah sementara, tak berharga untuk cinta sejati itu. Kalian harus memberikan cinta kalian pada Dia yang selalu wujud dan eksis - dari pra-keabadian hingga pasca-keabadian. "Maha Suci Dia Yang Maha Hidup (Tuhan), yang bagi-Nya tak ada Kematian" Karena itu, kalian mesti tersadar akan hakikat-hakikat ini dan jangan pernah berpikir bahwa kejadian-kejadian di sekitar kalian itu mewakili keputusan-keputusan dari seorang Tuhan yang tak punya belas kasihan. Tidak! Karena dalam kejadian-kejadian yang nampak kejam tersebut terkandung kasih sayang tanpa batas, sebagaimana Tuhan kita akan membalas kebaikan bagi diri kita sesuai dengan kerasnya cobaan yang kita alami: balasannya adalah lebih banyak, lebih banyak, dan lebih banyak lagi Cinta-Nya.





Kapan pun kejadian-kejadian yang menyedihkan dan tak disukai menimpa dirimu, Tuhanmu menjadikannya sebagai sarana bagimu untuk mendekat pada-Nya, agar Ia menumpahkan Samudera-samudera Cinta-Nya yang tanpa akhir bagi hamba-hamba-terkasih-Nya. Ini adalah suatu titik yang paling penting dan yang paling berat. Kita harus memahami hikmah-hikmah ini dan maknanya. Tapi, pemahaman akan hikmah ini akan tetap menghindari diri kita selama masih saja berpikir bahwa ini semua hanyalah sekedar kata-kata. Cinta Ilahiah itu harus dirasakan. Sekalipun saya banyak mengulang kata-kata, "Madu, madu, madu..." atau melukiskan karakteristik dan cita rasa madu, kalian tak akan mampu merasakannya, dan tak akan terpuaskan. Hakikat-hakikat ini harus dirasakan, dan kecuali kalian telah mencapai titik itu, kalian pun tak akan memahami hal-hal ini lebih dari sekedar kata-kata.





Bihurmati habib, al Fatihah , Wa min Allah at Tawfiq